Ustadz Beber Hakekat Wasilah dan Perwujudan Berhala Gaya Baru

157
Hikmah Press
Ustadz Sjar’i Muzammil (foto: dahlan pare/pwmu)

PWMU.CO-Bila berziarah kubur, jangan duduk di atas makam, karena azabnya sangat berat. Ketahuilah sejak 15 abad lalu, Nabi Muhammad SaW melarang karena duduk di atas makam itu lebih buruk dibanding duduk di atas api yang membara, terlebih lagi duduk di makam sambil berwasilah.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Sjar’i Muzammil dalam kajian rutin yang dihadiri ratusan warga Muhammadiyah Pare Kediri, Senin (26/3/2018). Kegiatan tersebut merupakan pengajian rutinitas digelar setiap malam Selesa di Masjid Sholikhin, Jl Argo Wayang Kampung Taruna Pare. “Jadi, jangan pernah melakukan perbuatan itu,” pesan Ustadz Sjar’i Muzammil dengan nada serius.

iklan

Sambil mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Sjar’i Muzammil menyampaikan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, kemudian bara api itu membakar pakaiannya, dan mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya dari pada duduk di atas kuburan. “Oleh karenanya kalau ziarah kubur atau memakamkan saudara saudari kita, jangan duduk,” tegas dia lagi.

Dikatakan, saat ini masyarakat secara luas masih belum faham bahwa duduk di atas kubur itu siksanya sangat dahsyat. Ancaman itu tidak boleh dianggap sepele. Di sinilah, lanjut pengasuh pengajian rutin ini, pentingnya ummat Islam menekankan pentingnya beraqidah yang lurus. “lihatlah di sekitar kita setiap menjelang ramadan, mereka berbondong-bondong ke kuburan, bahkan berwasilah, seolah-olah berdo’a padahal sejatinya menyembah makam dan berwasilah melalui arwah leluhur mereka,” tutur dia.

Lebih lanjut ustadz jebolan Ponpes Persis Bangil ini menguraikan dalam al Quran sedikitnya ditemukan dua ayat terkait dengan wasilah. Pertama, kata dia, terdapat dalam surat al Maidah ayat (35): “Wahai orang orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung”.

Mantan Ketua PCM Pare ini kemudian melanjutkan ayat selanjutnya yang dimaksud, yakni surat  al Isro’ ayat (57): “0rang orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Robbnya, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah, mereka itulah mengharapkan rahmad-Nya dan takut azab-Nya. Sungguh azab robbmu suatu yang harus ditakuti “.

Dua ayat itu, tambah dia, bisa ditafsirkan bahwa Allah memerintah hamba-hamba-Nya agar bertakwa. Lafadz takwa apabila dibarengi penyebutannya dengan makna yang menunjukkan taat kepada-Nya, maka makna yang dimaksud adalah mencegah diri  dari hal-hal yang diharamkan. “Berarti duduk di atas kuburan, berwasilah kepada mayit, itu hukumnya haram,” tegas dia.

Lebih parahnya, kata dia, di makam atau di kuburan dibacakan al Quran. Hal yang demikian bisa mengusir para setan dari kuburan kemudian para setan mrmilih rumah-rumah orang yang tidak pernah dipergunakan untuk mengaji al Qur’an. Maka tidak heran jika suatu rumah tangga selalu cekcok, akibat tidak dibacakan al Quran. “Setan merasa lebih nyaman tinggal di rumah dari pada tanggal di kuburan karena dibacakan al-quran,” ujar dia yang langsung disambur suara gerrr dari jamaah.

Dari surat al Maidah ayat (35) dan al Isro’ ayat (57) dapat ditafsirkan bahwa makna alwasilah adalah jalan mendekatkan diri pada Allah untuk mencapai tujuan. Orang beriman itu ketika sujud adalah saat paling dekat dengan Robbnya.

Ustadz berusia 77 tahun ini juga memaparkan bahwa di dalam surga terdapat suatu kedudukan yang disebut alwasilah. Karena itu manusia berdoa, mintalah alwasilah kepada Allah agar diberikan posisi dekat dengan Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah riwayat, tambah sesepuh Muhammadiyah Kediri ini, Ali bin Abi Tholib pernah berpidato di atas mimbar di Kuffah.

Ali bin Abi Tholib, lanjut dia, mengatakan wahai manusia, sesungguhnya di surga itu terdapat dua mutiara, yang satu berwarna putih dan lain berwarna kuning. Letak mutiara kuning sampai pada halaman arsy. Maqomul mahmud (kedudukan terpuji), adalah mutiara putih, terdiri dari 70.000 ghurfah, setiap ghurfah luasnya 3 mil ghurfah. Semua ghurfah berpintu. Pintu-pintu dan pelaminannya sangat elok nan indah. Sedangkan penduduknya berasal dari satu keturunan. Nama tempat tersebut adalah wasilah, diperuntukkan bagi Muhammad SAW dan ahlul baitnya. Sedang mutisra kuning juga terdapat al wasilah khusus untuk nabi Ibrahim AS dan ahlul baitnya.

Menutup kajian, ustadz yang nyaris dibunuh PKI sepulang dari Ponpes Bangil tahun 1965 ini menghendaki agar tiga larangan Islam tidak diamalkan umat islam. Karena tiga jenis larangan sehubungan dengan maraknya orang ziarah kubur tetapi faktanya mereka berniat untuk mencari pesugihan. Terlepas apakah ziarah kepada wali atau orang sholih yang dikeramatkan jadi wali, disarankan untuk  tidak duduk di atas kuburannya.

“Rasulullah melarang memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur,” jelas dia.

Tiga jenis larangan itu, kata dia, sering masih ditabrak umat islam secara luas, belum banyak yang faham. Dirinya khawatir itu akan dijadikan wasilah bahkan nyaris menyembah kuburan. Terutama pada kuburan orang yang dianggap sholih atau seseorang yang dianggap wali. Ia menyatakan ziarah kubur dikhawatirkan menyerupai peribadatan pada berhala. Seperti yang kita saksikan kuburan yang dimaksud saat ini dipugar sedemikian indah mengalahkan megahnya masjid untuk alibi sebagai wisata religi, padahal faktanya tidak lebih dari upaya wasilah untuk mempersubur kemusrikan. (Dahla Pare)