Gelombang jamaah memadati Lapangan Sepak Bola Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, saat sekitar 6.000 warga Muhammadiyah melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). Di tengah suasana khidmat dan tertib, khotbah yang disampaikan tidak hanya menyentuh dimensi spiritual, tetapi juga menggugah kesadaran global umat Islam.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Hasan Basri, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Gresik, mengawali khotbah dengan mengingatkan pentingnya empati terhadap umat Islam di berbagai wilayah konflik dunia. Ia menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar momentum kemenangan personal, tetapi juga panggilan kepedulian sosial lintas batas.
“Di tengah kebahagiaan Idulfitri, kita tidak boleh kehilangan kepekaan. Ada saudara-saudara kita yang masih berada dalam situasi konflik seperti di Palestina, Iran, Sudan, dan Yaman. Kepedulian adalah bagian dari iman yang harus terus dijaga,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.
Dalam khotbahnya, Hasan Basri mengulas konsep fitrah sebagai kondisi dasar manusia yang suci dan cenderung pada kebaikan. Namun, ia mengingatkan bahwa fitrah tersebut tidak serta-merta terjaga tanpa upaya.
Menurutnya, lingkungan, pola asuh keluarga, hingga arus informasi di media sosial memiliki peran besar dalam membentuk arah kehidupan seseorang. Jika tidak dikelola dengan baik, fitrah bisa menyimpang dari nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan sejak awal.
“Fitrah adalah potensi kebaikan. Tetapi apakah tetap lurus atau menyimpang, sangat ditentukan oleh lingkungan, peran orang tua, dan apa yang kita konsumsi setiap hari,” tegasnya.
Ramadan sebagai Momentum Penyucian Jiwa
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa Ramadan sejatinya merupakan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Mengacu pada pemikiran Ibnu Qayyim, ia menjelaskan bahwa ibadah selama Ramadan seharusnya melahirkan transformasi nyata dalam perilaku sehari-hari.
“Tazkiyatun nafs bukan sekadar ritual, tetapi perubahan batin yang tercermin dalam sikap. Ukurannya bukan seberapa banyak ibadah, melainkan bagaimana kita berubah setelah Ramadan,” ungkapnya.
Dalam bagian lain, khutbah juga menyinggung pesan Al-Qur’an, khususnya Surat An-Nur ayat 22, tentang pentingnya memaafkan dan tetap berbuat baik, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti. Nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan harmonis.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya sedekah sebagai praktik sosial yang berkelanjutan. Sedekah tidak hanya berdimensi ibadah personal, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Sedekah harus menjadi kebiasaan, bukan hanya amalan musiman. Di situlah nilai Ramadan benar-benar hidup dalam kehidupan sosial,” tuturnya.
Jamaah Membludak, Pelaksanaan Tetap Tertib
Sejak selepas salat Subuh, jamaah mulai berdatangan ke lokasi. Panitia dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dukun menata saf dan arus masuk jamaah secara sistematis, sehingga pelaksanaan ibadah berjalan lancar meskipun jumlah peserta sangat besar.
Kerapian dan ketertiban ini mendapat apresiasi dari para jamaah. Salah satunya, Abdul Mudlil, yang menilai panitia berhasil mengoordinasikan kegiatan dengan baik.
“Jumlah jamaah sangat banyak, tetapi tetap rapi dan kondusif. Ini menunjukkan kesiapan panitia dalam mengatur jalannya ibadah,” ujarnya.

Pelaksanaan Salat Idulfitri di Lapangan Dukun tidak hanya menjadi penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tentang menjaga fitrah, memperkuat empati global, serta membiasakan sedekah menjadi pengingat bahwa kemenangan Idulfitri sejatinya terletak pada keberlanjutan amal dan akhlak setelah Ramadan berlalu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments