SD Muhammadiyah 4 Surabaya atau yang dikenal dengan Mudipat menggelar Pelatihan Strategi Sukses Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB di TMB lantai 4 sekolah tersebut.
Pelatihan diikuti sekitar 63 guru yang terdiri dari wali kelas 1 hingga kelas 6 serta tim teaching. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman guru mengenai strategi pembelajaran dan penyusunan soal yang selaras dengan pola Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Edy Susanto, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya strategi yang tepat dalam mempersiapkan siswa menghadapi TKA.
“Keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga strategi belajar yang sistematis,” katanya.
Edy juga memperkenalkan pendekatan yang disebut “jurus MABUK” sebagai salah satu strategi untuk memaksimalkan capaian nilai TKA siswa.
Selain itu, sekolah memberikan kebebasan kepada wali murid untuk memberikan tambahan belajar atau mengikuti bimbingan belajar bagi siswa, dengan tetap berkoordinasi dengan guru kelas 6.
“Sinergi antara sekolah dan orang tua sangat penting agar persiapan siswa menghadapi TKA dapat berjalan optimal,” ujarnya.
Materi pelatihan disampaikan oleh Ria Pusvita Sari, M.Pd., fasilitator PM dan KKA dari Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai strategi memahami pola soal TKA agar guru dapat menyampaikan materi secara lebih efektif kepada siswa.
Ria yang berasal dari Gresik juga berbagi pengalaman akademiknya saat mengikuti short course tentang SOLO Taksonomi di Colleman College Singapore pada tahun 2016.
“Konsep tersebut kini menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan soal TKA di Indonesia,” ungkap Ria.
Menurut dia , dalam TKA untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat tiga tingkat pemahaman. Pertama, pemahaman tekstual, yakni jawaban dapat ditemukan langsung pada teks. Kedua, pemahaman inferensial, yaitu kemampuan menyimpulkan informasi yang tersirat.
“Ketiga, evaluasi dan apresiasi, yang menuntut siswa berpikir lebih mendalam serta mampu menghubungkan berbagai informasi,” papar Ria.
Selain literasi bahasa, dia juga menjelaskan level kognitif dalam matematika yang terdiri dari tiga tahap, yakni pengetahuan dan pemahaman, aplikasi, serta penalaran.

“Bentuk soal TKA sendiri meliputi pilihan ganda, pilihan ganda kategori, serta pilihan ganda kompleks atau Multiple Choice Multiple Answer (MCMA). Kompetensi literasi dalam soal juga dikaitkan dengan berbagai konteks seperti personal, sosial budaya, dan saintifik,” jelas Ria.
Ia menekankan bahwa latihan soal TKA harus disesuaikan dengan ketentuan Perkaban (Peraturan Kepala Badan), karena lingkup materi yang diujikan telah diatur secara jelas dalam regulasi tersebut.
“Masih banyak try out atau latihan soal TKA yang beredar tetapi tidak sesuai dengan Perkaban. Guru perlu lebih selektif dalam memilih maupun menyusun soal,” jelasnya.
Dalam sesi pelatihan, guru juga diingatkan agar tidak membuat pilihan jawaban yang saling meniadakan, sehingga soal benar-benar mampu mengukur kemampuan berpikir siswa.
Ciri utama soal TKA adalah adanya stimulus, seperti teks, data, gambar, atau situasi tertentu, yang kemudian dianalisis siswa melalui pokok soal yang menuntut pemikiran kritis.
Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mulai membiasakan penyusunan soal dengan pola TKA sejak kelas 1.
Dengan demikian, kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara bertahap, terstruktur, dan siap menghadapi tantangan asesmen akademik di masa mendatang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments