Miliki Lembaga Pemeriksa Halal, Siapkan Mahasiswa Kompeten Pangan yang Halal-Thayyib

152
Pasang Iklan Murah
Dosen Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Dr Elfi Anis Saati, salah satu tokoh dalam berdiri dan berjalannya LPH UMM (foto: humas umm/pwmu.co)

PWMU.CO – Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, keamanan produk halal menjadi hal yang tak bisa dipisahkan lagi. Mulai dari produk pangan, obat-obatan hingga kosmetik. Maraknya produk yang belum jelas kehalalannya menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen muslim.

Peduli akan fenomena ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas muslim terkemuka menaruh perhatian khusus terkait kehalalan produk. Bekerja sama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, UMM telah membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) sebagai salah satu wujud usaha membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya produk halal.

iklan

“Memang orang Indonesia, maaf nih, belum banyak yang sadar yang butuh produk halal,” ujar dosen jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Dr Elfi Anis Saati kepada PWMU.CO, Jumat (18/5/2018).

Efi merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam berdiri dan berjalannya LPH UMM. Setelah LPH UMM berdiri, dibentuklah kurikulum baru untuk mencapai visi misi dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), yakni mengembangkan teknologi pangan yang halal-thayyib (halal dan baik).

Tahun 2018, dengan kurikulum tersebut terbentuklah mata kuliah baru yaitu Manajemen Pangan Aman dan Halal (MPAH). UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki kurikulum ini di Indonesia. Mata kuliah MPAH berisi materi yang didukung studi atau suvey, wisata halal pada akhir kuliah pada perusahaan, UKM, hotel, rumah sakit, katering, restoran, pondok pesantren, asrama, balai hingga sekolah full day.

Elfi menjelaskan terdapat beberapa syarat untuk membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Yang pertama, mempunyai kantor sendiri, kedua mempunyai minimal tiga auditor halal bersertifikasi MUI. Dan yang terakhir memiliki atau bekerjasama dengan laboratorium terakreditasi. “Makanya saya berusaha mendapatkan lab terakreditasi terlebih dahulu,” jelas Elfi.

Setelah dua tahun berjalan perlahan, cita-cita Elfi untuk mendapatkan laboratorium terakreditasi tersebut terlaksana. September 2017, akhirnya ia meraih ISO 17025. Ia mengaku, akreditasi laboratorium lebih rumit daripada akreditasi jurusan karena yang dinilai dua hal, yakni aspek manajemen dan aspek teknis.

“Sekarang, saya sedang mengompori beberapa lab untuk menyiapkan pengujian halal seperti alkohol, lemak babi, dan DNA Babi,” pungkasnya. (izzudin)