Jihad Politik Muhammadiyah Harus Berkiblat pada Ibnu Khaldun, Bukan Nicolo Machiavelli

267
Hikmah Press
Dari kanan: Achmad Jainuri, Nadjib Hamid, Nugroho Hadi Kusuma. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Achmad Jainuri mewanti-wanti agar warga Muhammadiyah untuk tetap mengedepankan politik nilai dalam upaya meraih kekuasaan dalam jihad politiknya.

Pernyataan itu disampaikan oleh Jainuri ketika membuka acara Rakorwil Gerakan Jihad Politik Muhammadiyah di Aula Mas Mansyur Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Kamis (1/10/18).

iklan

Hadir dalam acara tersebut calon anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI H Nadjib Hamid MSi dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPR) RI untuk daerah pemilihan Gresik-Lamongan Prof Dr Zainuddin Maliki MSi

Jainuri mengatakan, warga Muhammadiyah sudah selayaknya mengikuti pola dan cara Ibnu Khaldun yang menekankan moralitas dan nilai agama dalam meraih kekuasan. Bukan sebaliknya, mengikuti Nicolo Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan.

“Muhammadiyah kok sok suci begitu. Ya, itulah pegangan kita untuk memberikan pendidikan dan penyadaran akan pentingnya politik nilai kepada masyarakat,” katanya.

Nah, kata Jainuri, sekarang Muhammadiyah mulai sadar akan pentingnya politik untuk bisa mengawal penentuan arah kebijakan yang dapat membawa Indonesia menjadi berkemajuan.

Meski, Jainuri mengakui, secara psikologis warga Persyarikatan belum bisa ketika terjun berpolitik praktis lantaran sudah sekian lama menjauhi hiruk pikuk politik kekuasaan.

“Selama ini kan Muhammadiyah sudah terpola untuk mejaga jarak yang sama dengan partai politik. Dan, kita termakan betul pola itu. Jadi kita bingung mau melangkah atau tidak. Kalau mau melangkah kita tidak punya modal,” papar Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Tapi, situasinya kini mulai berubah. Muhammadiyah mencoba menjaga kedekatan yang sama dengan partai politik.

Maka dari itu, Jainuri menyerukan, agar warga Muhammadiyah tidak canggung ketika masuk ke ranah politik praktis. Dunia yang telah lama dijauhi oleh Muhammadiyah.

“Ternyata fokus pada satu keranjang saja dengan menekankan amal-amal kebajikan pada gerakan sosial kemasyarakatan sekarang ini tidaklah cukup. Kita butuh keberpihakan politik,” tegasnya.

Di akhir paparan, Jainuri berharap, jihad politik yang digulirkan oleh Muhammadiyah itu akan mampu mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan.

“Karena itulah kita butuh kesungguhan dalam meniti langkah agar dapat mengegolkan jihad politik Muhammadiyah ini. Jangan sampai kita apa adanya. Kita harus man jadah wa jadah untuk bisa mengantarkan pada sebuah keberhasilan,” tandasnya. (Aan)