Delapan puluh tahun sudah berlalu sejak dentuman meriam dan kobaran semangat Arek-Arek Suroboyo mengguncang dunia. 10 November 1945 menjadi saksi heroik bagaimana ribuan rakyat Surabaya mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.
Namun, di tengah kemerdekaan yang kini dinikmati, Dr. Mukayat Al Amin, Kepala Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), mengingatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai.
“Delapan puluh tahun lalu, kemerdekaan direbut dengan darah dan air mata. Itu bukan hadiah, tapi hasil perjuangan segenap jiwa dan raga. Kini, setelah delapan dekade, kita perlu bertanya: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini?” ujarnya saat menyampaikan tausiyah Ba’da Zuhur di Masjid Al-khoory UM Surabaya, Selasa (11/11/2025).
Mukayat menegaskan, perjuangan masa kini tidak lagi di medan perang, melainkan di medan kehidupan: melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.
Dia menyoroti fakta yang masih memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi, mencapai 78,47 persen jika menggunakan ukuran global kesejahteraan.
“Artinya, ada sekitar 23,85 juta warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan bahkan jika dihitung dengan standar Bank Dunia, jumlahnya bisa mencapai 60 juta jiwa,” jelasnya.
Menurutnya, kemerdekaan sejati baru akan terwujud bila seluruh rakyat terbebas dari jerat kemiskinan, kebodohan, dan ketergantungan.
“Bagaimana mungkin kita bicara kemerdekaan kalau masih ada rakyat yang hidup hanya dengan Rp 600 ribu sebulan? Kalau ukuran Bank Dunia, empat dolar sehari berarti dua jutaan sebulan. Di bawah itu, dianggap miskin. Maka perjuangan kita jelas belum tuntas,” tegasnya.
Selain kemiskinan, Mukayat juga menyoroti masalah stunting yang masih tinggi di Indonesia. Ada 21 juta anak Indonesia yang mengalami stunting.
“Ini bukan masalah kecil, tapi cerminan mismanajemen pengelolaan sumber daya dan kebijakan pemerintah. Padahal negeri ini kaya raya akan sumber alam,” ujarnya dengan nada prihatin.
Mukayat menilai, bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan besar di era modern. Sementara negara-negara lain berlomba dalam penguasaan teknologi dan inovasi, sebagian masyarakat Indonesia justru masih terjebak dalam pola pikir mistis.
“Negara lain berkompetisi menguasai sains dan teknologi, sementara kita masih percaya pada dukun dan membakar kemenyan. Ini ironi di tengah kemajuan dunia,” katanya mengkritik.
Karena itu, Mukayat menyerukan agar setiap anak bangsa mengisi kemerdekaan dengan sungguh-sungguh sesuai profesinya masing-masing.
“Pelajar harus belajar dengan tekun, dosen harus berinovasi, pengusaha harus produktif, dan pemimpin harus amanah. Tidak ada peradaban besar tanpa ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu, kita tidak mungkin maju,” tuturnya.
Mukayat mengutip ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11).
“Itu janji Allah. Maka kalau kita ingin bangsa ini naik derajatnya, kuncinya ilmu,” tambahnya.
Dalam refleksi penutupnya, Mukayat mengutip karya Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, yang menggambarkan wajah manusia Indonesia dengan segala kelebihan dan kelemahannya.
“Wajah Indonesia adalah wajah umat Islam, karena mayoritas penduduknya muslim. Maka umat Islam harus tampil sebagai insan unggul, berilmu, dan berakhlak,” ujarnya.
Dia menegaskan, cita-cita bangsa ini belum selesai. Indonesia yang dicita-citakan para pahlawan bukan sekadar merdeka dari penjajahan fisik, tetapi menjadi negeri yang sejahtera dan beradab.
“Kita ingin mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan mendapat ampunan dari Tuhan. Itu makna kemerdekaan yang sejati,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments