KH Hasan Abdullah Sahal: Indonesia Perlu Diselamatkan

14049
Pasang Iklan Murah
KH Hasan Abdullah Sahal.
(Foto: Arik S. Wartono)

PWMU.CO – Satu yang benar perlu disampaikan meskipun ada sembilan puluh sembilan yang salah. Karena kalau yang satu tidak disuarakan dan ditunjukkan, masyarakat berfikir bahwa sembilann puluh sembilan itu benar.

iklan

“Saya termasuk satu dari sembilan puluh sembilan orang yang ada di dunia ini. Hal ini supaya mayarakat tahu kalau ternyata masih ada orang yang benar,” kata KH Hasan Abdullah Sahal.

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo itu berbicara tentang Akhlak Rakyat Akhlak Pemimpin di depan jamaah Pengajian Ahad Pagi Masjid KH Ahmad Dahlan, Gresik, Ahad (13/1/19).

Hasan Abdullah Sahal—putra keenam dari KH Ahmad Sahal, Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo—itu menyatakan pentingnya menyuarakan akhlak. “Kalimat akhlak di dalam Alquran jarang disebut, karena akhlak itu ada dua: akhlak baik dan akhlak jelek.” ujarnya.

Kiai Hasan menjelaskan, akhlak itu yang paling penting adalah jati diri. “Sekarang, banyak manusia yang meninggalkan jati dirinya, Apa artinya menjadi manusia tanpa jati diri, akhirnya setengah manusia setengah binatang. Ini yang disebut kebinatangan modern. Modern tapi binatang. Astaghfirullahal adzim,” ungkapnya.

Menurutnya, cara memunculkan jati diri itu dengan bina diri agar mendapatkan harga diri. “Jangan malah dibuang dan dijual, kalau kita meninggalkan jati diri sedikit demi sedikit artinya kita tidak punya diri lagi,” tuturnya.

Kiai Hasan memberi contoh, “Kalau kelas kamu itu SD-SMP jangan ingin jadi camat. Kalau kelas kamu Tsanawiyah-Aliyah jangan ingin jadi majelis ulama’. Kalau kelas kamu itu SD-SMP jangan ingin jadi gubernur. Itu namanya tidak tahu diri.”

Kita, sambungnya, harus mengetahui diri kita. Seberapa diri kita, kalau bukan hak kita jangan kita paksa. “Tidak bisa pegang bola tapi ingin jadi pimpinan PSSI, untuk apa? Golek duit. Main bola kok buat cari duit. Mimpin sepak bola cari duit. Duit itu apakah bunder? Padahal duit itu kertas. Ini adalah contoh orang yang tidak tahu diri, tidak punya jati diri,” ujarnya.

Sekarang, ujarnya, dunia ini sudah ambeien. Umat ini banyak yang ambeien, karena harta, tahta, wanita, senjata, berita, onta, dan ta ta lainnya. “Katanya tidak boleh ada ujaran kebencian, saya ketawa itu, orang kok tidak boleh benci, saya benci dengan orang yang kotor, benci dengan orang yang tidak pernah mandi, benci dengan orang yang tidak shalat. Ketika saya tidak boleh benci apa-apa kan susah. Menurut saya, menyampaikan ujar-ujaran kebencian, kemusyrikan, korupsi, kekafiran itu wajib hukumnya,” katanya.

Menurut Kiai Sahal, orang kafir jangan dibunuh, jangan dimarahi, jangan dibenci. “Kekafirannya yang benci. Dari zaman nabi sampai sekarang, orang kafir tetap ada. Sampai kiamat orang kafir dan musyrik tetap ada. Kalau tidak begitu, tidak ada dakwah islamiyah,” ujarnya.

Kiai Hasan menceritakan, di pondok Gontor ujaran kebencian memiliki lima hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. “Ujaran kebencian pada maksiat hukumnya wajib, ujaran kebencian orang yang tidak sopan sunah,” jelasnya.

Dia melanjutkan, Hasan itu Indonesia, tapi Indoensia bukan Hasan. Partai itu Indonesia, tapi Indonesia bukan partai. Politik itu Indonesia, tapi Indonesia bukan politik. Dan politik itu penting tapi yang penting bukan politik, ekonomi itu penting, tapi yang penting itu bukan ekonomi, sosial budaya itu penting, tapi yang penting bukan sosial budaya.

“Karena lebih dari itu, akhlak yang penting, akhlaknya politik, akhlaknya ekonomi, akhlaknya sosial budaya, akhlaknya hukum, akhlaknya ideologi itu yang lebih penting. Ekonomi tidak ada gunanya tanpa akhlak, politik tidak ada gunanya tanpa akhlak. Lha iya yang kita bahas akhlak yang baik, akhlak manusia yang 100 persen,” ungkapnya.

“Jangan harap memiliki pemimpin yang baik, cerdas dan hebat, kalau rakyatnya tidak baik, cerdas dan hebat,” ucapnya.

Ketika ditanya secara eksklusif oleh PWMU.CO usai acara, “Apa pesan Ustadz Hasan Abdullah Sahal pada pemilih untuk pemilu 2019 nanti?”, dia menjawab singkat: “Wah ini politik, pokoknya Indonesia perlu diselamatkan. Udah gitu aja …” (Waviq)