Usai Ikut Mabis, Siswa Tak Lagi Kerjakan Shalat Asal-Asalan

44
Pasang Iklan Murah
Alvin/pwmu.co
Wakasek Sulaiman mengajari posisi rukuk yang benar saat praktik shalat.

PWMU.CO-SMA Muhammadiyah 2 Pucang Surabaya (Smamda) menggelar acara tahunan Malam Pembinaan Ibadah Siswa (Mabis) di sekolah, Jumat-Sabtu (22-23/2/2019).

Kegiatan ini berisi pembinaan, bimbingan pengamalan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah saw, melaksanakan penilaian praktik ibadah, dan membiasakan shalat malam. Acara diikuti seluruh siswa laki-laki kelas 10.

iklan

Wakasek Ismuba Drs Sulaiman menjelaskan, Mabis kali ini fokus pada masalah ibadah. ”Materi tauhid, akhlak, dan praktik shalat sesuai tuntunan lebih banyak,” katanya.

Peserta bersemangat mengikuti acara ini. Mereka menghafalkan kembali bacaan shalat dan memahami artinya. Sebab bacaan shalat yang dihafal semasa SD dan SMP dulu berbeda pilihannya dengan yang dipraktikkan sekarang. Seperti bacaan iftitah, sujud, rukuk, dan tahiyat.

Ghifari Irtiza kelas 10 Mipa 2 mengatakan, harus menghafal lagi bacaan shalat yang diajarkan sekarang. Dia bersyukur antar teman saling mendukung dan mengoreksi bacaan yang benar. Begitu juga pembina selalu memberikan motivasi.

”Saya tadi harus mengulang praktik shalat sampai tiga kali,” ucapnya. ”Pokoknya  saya pede maju. Harus bisa pokoknya karena saya tidak mau lulus bersyarat,” tambah Ghifari yang baru saja meraih juara 4 robotika di Singapore itu.

Di akhir acara, panitia mengumumkan siswa terbaik Mabis dan siswa yang lulus bersyarat. Fikri Rasyid (10 IPA 2) tersenyum sumringah saat namanya disebut sebagai peserta terbaik bersama sebelas siswa lainnya.

Dia bersyukur masuk yang terbaik padahal dia harus menghafal bacaan shalat yang diajarkan sekarang. ”Ada bacaan shalat yang berbeda dengan yang dulu-dulu di SMP,” ucapnya. Seterusnya dia melaksanakan shalat dengan bacaan yang diajarkan sekarang.

Ketua Mabis Maurice Anantatoer menyampaikan, sebenarnya siswa sudah diajarkan bacaan shalat pada pelajaran Al Islam. Pada Mabis ini dikuatkan lagi dan menjadi penilaian.

Dia menyebutkan, dari 178 peserta yang dinyatakan lulus bersyarat hanya 23 peserta. ”Yang lulus bersyarat itu hanya kurang 10 – 20 persen hafalan belum tuntas,” katanya. ”Jadi peserta yang lulus bersyarat bisa berubah statusnya menjadi lulus asalkan menuntaskan hafalannya ke penguji dalam waktu satu pekan,” katanya. (Era, Masitha)