Menulis Novel Itu Harus Menampar Pembaca sejak Halaman Pertama

104
Pasang Iklan Murah
Kirana Kejora saat memberikan tips menulis (Darul/PWMU.CO)

PWMU.CO – Suasana hall lantai tiga SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (SMP Musasi) Ahad (31/3/19) pagi itu terasa berbeda. Jika biasanya di hari libur sepi, dua penulis terkenal ini: Kirana Kejora dan Hiday Nur, berhasil menghidupkan suasana. Keduanya membagikan pengalaman menulis dalam Seminar Kepenulisan bertema “Mendunia dengan Menulis”.

Menurut penulis noveli best seller Kirana Kejora, tidak ada alasan bagi penulis untuk tidak menulis. Sebab, semua orang, merupakan penulis. “Setiap orang adalah inspirator dan motivator,” ungkap ibunda alumni SMP Musasi, Bunga Almira tersebut.

iklan

Dia mencontohkan ibu-ibu yang disibukkan oleh rutinitas mengurus anak dan rumah tangga. Menurut dia, mereka tetap butuh menulis untuk menyegarkan kemampuan otak kanannya. “Karena menulis merupakan salah satu cara kita untuk menyebarkan kebaikan,” tutur pengarang novel Ayah Menyayangi tanpa Akhir (AMTA) itu.

Nah, salah satu yang bisa ditulis adalah kisah perjalanan. “Jika sedang menempuh perjalanan, maka jadilah travelnote. Jika tidak bisa mengembangkan tulisan fiksi, maka tulislah non-fiksi,” lanjutnya sambil memberi contoh buku perjalanan berjudul Titik Nol karya Agustinus Wibowo yang berhasil mendulang kesuksesan.

Menulis fiksi, seperti novel, kata Kirana, terletak pada halaman pertama. “Kuncilah pembaca pada halaman pertama,” ucapnya. Dia lalu memberi contoh salah satu novel karyanya Air Mata Terakhir Bunda (AMTB) yang sudah bisa menampar pembaca pada halaman pertamanya.

Kirana di depan para peserta seminar kepenulisan (Darul/PWMU.CO)

Yang juga tidak kalah penting dalam menulis fiksi, lanjut dia, adalah alur. “Membuat alur jangan berurutan ABCD, namun usahakan bolak-balik,” kata Kirana. “Ajaklah juga dialog pembaca. Harus komunikatif dengan pembaca.”

Bagi Kirana, malam hari merupakan waktu terbaiknya dalam menulis. “Biasanya aku membangun konstruksi cerita pada malam hari usai shalat malam,” ungkap penulis novel Hasduk Berpola itu.

Di akhir paparan, dia memberikan empat modal yang harus dimiliki penulis. “Modalnya nggak banyak. Yang pertama niat, lalu jalani, kemudian banyak membaca, dan terakhir harus berani,” jelasnya.

Selain Kirana, Hiday Nur juga memberikan motivasi agar bisa melanlangbuana dengan tulisan. Hiday mengungkapkan pentingnya mimpi dan komunitas dalam menggapai impian dan cita-cita.

“Sebanyak apapun jumlah temanmu, tak akan pernah cukup. Di tangan teman, kunci rezeki dititipkan,” ujar perempuan asal Tuban yang meraih Awardee Life of Muslim in Germany ini.

Kegiatan yang digagas Forum Lingkar Pena (FLP} Sidoarjo dan Perpustakaan SMP Musasi itu berlangsung semarak. Selain menghadirkan para penulis. Juga digelar lapak buku karya para penulis yang tergabung dalam FLP. (Darul)