Pemilu untuk Lima Tahun, Jadi Kader Muhammadiyah Sepanjang Hayat

96
Pasang Iklan Murah
Dari kiri: Nur Alim, Amrizal, dan Moh Abil (moderator) dalam Refleksi Milad ke-55 IMM. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Al-Khawarizmi Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (FT UTM) mengadakan acara Refleksi Milad ke-55 IMM bertajuk “Gerakan Ikatan: Karya Nyata untuk Bangsa” di Balai Penyuluhan Kecamatan Kamal, Bangkalan, Senin (8/4/19).

Acara tersebut menghadirkan Sekretaris Lembaga Agraria dan Maritim Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Amrizal SE dan Nur Alim, Sekretaris Umum DPD IMM Jatim sebagai pembicara utamanya.

iklan

Amrizal menyampaikan, kader IMM tidak boleh canggung untuk berkiprah di mana pun. Baik itu menjadi guru, dokter, insinyur, terjun di dunia pemberdayaan, menjadi seorang akademisi, mubaligh atau lainnya. Bahkan, terjun di kancah politik sekalipun.

“Insyaallah, kiprah nyata dari kader IMM itu tidak lain adalah untuk memajukan umat, bangsa, dan Persyarikatan,” katanya.

Maka, kata dia, kiprah nyata kader IMM di berbagai lini itu perlu untuk di-support dan diwadahi dengan baik. “Wajib hukumnya bagi kader IMM untuk saling support dan saling membesarkan satu sama lainnya. Bukan sebaliknya, saling melemahkan,” tuturnya.

Menyinggung soal memanasnya konstalasi politik menjelang coblosan pada 17 April 2019, Amrizal menyerukan, agar kader IMM tetap mengedepankan kesantunan dan saling menghargai ketika ada perbedaan pandangan politik. Pasalanya, IMM sebagaimana Muhammadiyah, senantiasa mengedepankan politik nilai.

“Perbedaan pilihan politik itu hal wajar dan harus kita hormati. Itu hak perogatif setiap warga Indonesia. Jadi kedepankan persaudaraan dan hindari perpecahan. Toh, Pemilu itu hanya momentum 5 tahun sekali. Tapi, menjadi kader IMM dan Muhammadiyah itu selamnya. Sepanjang hayat kita,” tegasnya.

Tak kalah penting, sambungnya, kader IMM bisa menggunakan hak pilihnya dengan baik alias tidak boleh golput. “Pilihan calon pemimpin yang bisa membawa kemajuan bangsa dan negara Indonesia,” terangnya.

Sementara, Nur Alim mengungkapkan, momentum Milad Ke-55 IMM ini haruslah dijadikan sebagai pelecut semangat untuk terus menguatkan budaya pengayaan intelektual di kalangan kader IMM.

Pasalnya, IMM sebagaimana khitah-nya merupakan kawah candradimuka bagi penyiapan kader intelektual di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah.

“Maka, IMM harus brrfokus menyiapkan akademisi muslim yang berakhlak mulia. Kita ini pelangsung dan penyempurna gerakan Persyarikatan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” ungkapnya. (Aan)