Dakwah di AUM Itu Cari Jeneng Dulu, Pasti Dapatkan Jenang

44
Hikmah Press
Pemateri Kajian Ideologi Muhammadiyah di Bawean dari Dikdasmen PDM Gresik dan Yogyakarta (Aziz/PWMU.CO)

PWMU.CO– Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Sangkapura Bawean mengadakan penguatan Ideologi Muhammadiyah untuk seluruh guru dan karyawan amal usaha. Acara bertempat di Aula SMK Muhammadiyah 4 Daun Pulau Bawean, Jumat (12/4/19).

Narasumber Ketua Majelis Dikdasmen PDM Gresik Ir Dodik Priyambada mengatakan, Muhammadiyah adalah pergerakan. Bergerak untuk mensyiarkan dakwah Islam.

iklan

”Muhammadiyah adalah organisasi. Semua elemen di organisasi, semua harus berkhidmat untuk Muhammadiyah sesuai dengan tata kelola dan tata laksana organisasi,” katanya.

Sementara Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Yogyakarta Dr HM Joko Susilo mengawali kajiannya dengan memberikan pertanyaan retoris yang perlu diresapi peserta.

 ”Pertama, apakah kita yang di AUM sebagai ladang dakwah adalah orang-orang yang kecelakaan masuk. Kedua,  apakah kita yang di AUM adalah orang yang diberikan anugerah untuk bersama-sama dengan warga Muhammadiyah yang lain. Ketiga, apakah kita meyakini sebagai individu yang layak mendapatkan amanah memikul jalan dakwah ini?” tanya Ustadz Joko, panggilan akrabnya.

Ustadz Joko berharap agar guru-guru memilih yang ketiga.  Yakni meyakini dirinya sebagai individu yang layak mendapatkan amanah memikul jalan dakwah Islam melalui AUM.

Sementara Raden Muhammad Ali SS MPd, putra asli Bawean yang menjadi anggota Majelis Dikdasmen PDM Yogyakarta, berpesan kepada guru-guru perlu memiliki keyakinan dan kebanggaan sebagai guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah. 

”Kalau kita tidak yakin dan tidak bangga,  bagaimana orang lain akan bangga. Tapi jika kita yakin dan bangga, insya Allah akan lebih mudah di dalam bekerja dan orang lain tidak akan meremehkan kita,” tutur Ustadz Ali, panggilan akrabnya.

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tersebut menambahkan,  guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah menerapkan prinsip dahulukan jeneng (nama) sebelum jenang (bubur).

Artinya, sambung dia,  jika jeneng (nama, prestasi) sudah didapat,  insya Allah jenang (uang,  penghargaan) akan mengikuti. Tapi jika selalu hitung-hitungan  ada uangnya atau tidak di dalam bekerja,  maka orang tersebut tidak akan ikhlas di dalam bekerja dan seolah-olah harga dirinya bisa dibeli. (Fadloli)