Ketua PWM Jatim Ajak Pemenang Pemilu Berpegang pada Paradigma Alfath

109
Hikmah Press
M Saad Ibrahim. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Bangsa Indonesia baru saja menggelar Pemilu, Rabu (17/4/19). Dari pesta demokrasi tersebut, tentu ada yang akan menang dan kalah. Ketika berita ini ditulis, berbagai lembaga survei sedang menyiarkan hasil siginya di televisi.

Rakyat juga akan menunggu dengan sabar perhitungan manual yang dilakukan KPU: siapa yang akan memenangi pemilu, baik pemilihan presiden-wakil presiden, DPR, DPD, maupun DPRD.

Namun siapa pun pemenangnya, penting untuk merenungkan nasihat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr HM Saad Ibrahim MA ini. Dia mengatakan, dalam khazanah Islam, terminologi yang digunakan untuk mengartikulasikan kemenangan dalam meraih kekuasaan adalah Al-Fath.

“Dalam arti harfiyah, kata ini berarti proses membuka sesuatu yang tadinya tertutup,” jelasnya kepada PWMU.CO yang meminta komentar Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu usai pencoblosan melalui WhatsApp Rabu siang.

Saad menjelaskan, Al-Fath merupakan antitesis terhadap paradigma yang dua super power Persia dan Romawi ketika itu saling mengalahkan. “Ketika Romawi menang, kawasan yang ditaklukkan dibuat eksklusif dengan memaksa dan menetapkan satu keyakinan agama saja yang boleh eksis yaitu Nasrani,” jelas pria kelahiran Mojokerto itu.

Sebaliknya, sambungnya, jika Persia yang menang, hanya agama Zoroaster saja yang boleh eksis. “Paradigma inilah yang dilawan oleh Islam ketika berkuasa dengan inklusifitas, terutama dalam beragama. Semua diberikan jaminan untuk dapat bereksistensi, tanpa ada tekanan dan pemaksaan untuk memeluk Islam,” jelasnya.

Prinsip inklusifitas itulah, menurut Saad muatan utama paradigma Al-fath yang harus menjadi arah kemenangan politik, kemenangan meraih kekuasaan. “Dengan demikian partisipasi orisinal masyarakat akan menopang kekuasaan tersebut, karena ditegakkan atas prinsip transparansi, amanah, dan adil berbasis teologis yang format yuridisnya di Indonesia berupa Pancasila, terutama Ketuhanan yang Maha Esa,” ungkap Saad.

Siapa pun yang akhirnya mendapatkan kemenangan, prinsip Al-Fath ini harus menjadi paradigma, menjadi basis kekuasaan yang diraihnya. “Selamat, semoga diberkahi Allah,” ucapnya. (MN)

iklan