Pengalaman Hidup Mengubah Cita-Cita Dokter Kreatif Ini

411
Pasang Iklan Murah
Gamal Albinsaid ceramah di wisuda siswa Berlian School. (Sonya/pwmu.co)

PWMU.CO- Kehadiran dr Gamal Albinsaid M.Biomed dalam acara Wisuda Angkatan V Tahun 2019 SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik memberi kemeriahan, Ahad (16/6/2019). Sebanyak 122 murid Berlian School mengikuti wisuda ini.

Sapaan pembukaan dokter ganteng itu pun sudah membuat heboh hadirin di Cordoba Covention Hall SMA Muhammadiyah 10 GKB. ”Tolong fokus ke materinya ya, jangan fokus ke pembicaranya,” ujarnya yang langsung diikuti riuh tawa memenuhi ruangan.

Dokter yang banyak ide membuka layanan kesehatan untuk rakyat itu menceritakan, pengalaman memberi banyak inspirasi dan meluruskan niat untuk apa sesungguhnya hidup itu.

”Adik-adik, kalian sekolah untuk apa?” tanya Gamal.

Serentak wisudawan menjawab, ”Cari ilmu…”

”Okey. Saya ingin sampaikan, dahulu saya berpikir kalau saya belajar keras, saya akan jadi dokter. Kalau saya kerja keras saya akan berhasil. Sampai suatu saat saya sadar bahwa prinsip saya itu salah besar,” tandasnya.

Menurut dia, ternyata hidup bukan sekadar sukses meraih cita-cita dengan kerja keras. Tapi bagaimana hidup kita bermanfaat bagi orang lain itulah kebahagiaan sebenarnya. Bukan sukses untuk diri sendiri.

Dia lantas berkisah, ada seorang wanita berusia 46 tahun meminta izin kepada suami dan anak-anaknya untuk kuliah lagi. Bukan kuliah S1 atau S2 tapi kuliah D1 Ilmu tafsir.

”Anaknya pun bertanya, Mami ini sudah tua ngapain kuliah lagi? Jawab Maminya, supaya mengerti arti bacaan shalat, dan mau menyelamatkan anak-anaknya dari api neraka,” kata Gamal.

Dia melanjutkan ceritanya, setiap anaknya berangkat ujian ibu ini bertanya, Nak, nanti kamu ujian jam berapa? Waktu kamu ujian Mami di atas sajadah berdoa untukmu. Itu dilakukan berbulan-bulan, bertahun-tahun.

”Wanita itu adalah Mami saya. Berkat doa ibu bertahun-tahun itu saya bisa sepertiini,” tuturnya.  ”Tidak ada yang tahu kalau ayah saya menjual tanahnya agar anaknya Gamal ini bisa kuliah di kedokteran,” sambungnya.

Gamal mengingatkan, orang tua sering membatalkan mimpinya, membiarkan hidupnya berlalu tanpa kesenangan supaya anak-anaknya bisa belajar lebih baik, bisa bermanfaat untuk banyak orang. ”Tapi kita sering lupa bagaimana membahagiakan mereka,” paparnya.

Dari pengalaman hidup seperti ini, sekarang dia berusaha berbuat banyak untuk melayani orang lain. Dia banyak membuat aplikasi untuk membantu orang lain sukses seperti aplikasi inmed sehat berisi tips-tips kesehatan.

Juga membuat @siapapeduli.id yaitu sebuah platform galang dana kesehatan agar semua masyarakat bisa mendapatkan penanganan secara langsung dari dokter-dokter yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dia juga mendirikan garbage clinical. Klinik ini, cerita dia, karena pengalaman 10 tahun lalu melihat Khoirunnisa, anak Supriyono, seorang pengais sampah yang sakit kemudian meninggal di gerobak sampah ayahnya.

”Dari situlah saya dan kawan-kawan mengembangkan layanan kesehatan. Dengan garbage clinical, masyarakat membayar dengan sampah seharga Rp 10 ribu bisa berobat ke klinik,” ujarnya. (Sonya)