Mengembalikan Fitrah Manusia sebagai Khalifah

45
Pasang Iklan Murah
Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim Dr M. Sholihin Fanani. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr Muhammad Sholihin Fanani mengatakan salah satu fungsi dari puasa Ramadhan adalah mengembalikan fitrah manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi ini.

Sholihin menerangkan, puasa Ramadhan mengajak manusia kembali ke fitrahnya melalui latihan berkorban untuk kepentingan orang lain, peduli terhadap lingkungan dan memiliki rasa malu bila berbuat salah. Puasa juga melatih seseorang untuk jujur mengakui kelemahan diri sendiri, mampu mengendalikan sifat egois dan mau menghargai orang lain.

iklan

“Itulah yang seharusnya dicapai oleh orang yang telah puasa sebagai modal untuk menjadi seorang khalifah di muka bumi ini. Sebab tugas seorang khalifah adalah untuk menjaga, merawat dan melestarikan kehidupan di dunia ini,” ujarnya di Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Selasa (18/6/19).

Sebaliknya, kata dia, mengemban misi sebagai seorang khalifah akan sangat sulit diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat apabila manusia belum memiliki jiwa yang suci dan hati bersih, alias belum kembali ke fitrahnya.

“Nah, kefitrahan manusia itu berfungsi agar seorang khalifah dapat menata ulang kehidupan manusia yang telah rusak oleh ulah manusia itu sendiri,” tegasnya.

Sayangnya, banyak umat Islam tidak mengetahui hakekat dari puasa Ramadhan. Bahkan, kebanyakan di antara mereka masih memahami bahwa puasa hanya untuk mengejar pahala sebanyak-banyaknya.

Menurut dia, kondisi itu membuat puasa yang dijalankan tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan diri maupun bagi kehidupan bermasyarakatnya.

“Jadinya, fenomenanya adalah pada awal puasa masjid penuh sesak oleh jamaah. Sedangkan di akhir Ramadhan masjid kosong. Setelah Ramadhan kita kembali ke perbuatan dosa,” keluhnya.

Pria asal Lamongan itu lalu menjelaskan empat hakikat puasa menurut Imam Al-Ghozali, yakni untuk membersihkan jiwa (tazkiatun nafs), untuk membersihkan hati (tazkiyatul qalb), untuk membersihkan niat (tazkiatun niah), dan untuk membersihkan amal (tazkiyatul amal).

“Mengapa jiwa (nafs) dan hati (qalb) manusia perlu dibersihkan? Karena jiwa dan hati manusia itu setiap saat dan setiap waktu bisa kotor dan ternoda oleh dua hal, yaitu oleh perbuatan-perbuatan yang jelek dan sifat-sifat yang jelek,” tandasnya. (Aan)