
PWMU.CO- A Syam seorang guru Muhammadiyah di Sendangagung Paciran Lamongan secara otodidak menjadi guru seni musik. Lelaki kelahiran 23 September 1955 ini pandai memainkan alat musik berupa piano dan sekaligus pandai bernyanyi
Anak kedua pasangan Abd Ghofur dan Rohmi ini dari 10 bersaudara yakni Sholihan, A.Syam, Sumarni, Hardiono, Darsuki, Manshur, Marfud, Zuliana, Zainuddin dan Sri Kustik secara otodidak belajar bermain piano dan bernyanyi. Kemudian ia ajarkan kepada murid muridnya. A Syam sama sekali tidak mempunyai latar belakang pendidikan seni. Ia murni melakukan karena hoby
Dari hoby inilah A Syam mengajar seni musik dan membentuk paduan seni suara. Binaan murid muridnya yang tergabung dalam group paduan suara mengantarkan mendapat juara di berbagai even perlombaan dari tingkat kecamatan, kabupaten bahkan di tingkat propinsi
Lelaki yang menikah dengan Sri Kustantiyah pada 9 Januari 1985 ini selain mengajar di Perguruan Muhammadiyah Sendangagung juga sering dimintai mengajar musik di beberapa sekolah / madrasah yang akan melaksanakan akhirussanah.
Bahkan bila ada gawe di persyarikatan misalnya milad Muhammadiyah / Aisyiyah A Syam yang selalu diundang untuk mengiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya maupun lagu lagu Muhammadiyah dan ortomnya
A Syam menempuh pendidikan di SD Negeri Sendangagung Paciran. Kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo namun tidak sampai tamat.
Menantu dari Maskat dan Sukiyati ini mulai mengajar di MIM 13 Sendangagung sejak tahun 1975. Kemudian mengajar di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung pada tahun 1980 dan mengajar di MA Al Ishlah Sendangagung sejak Madrasah ini didirikan t 1985.
A Syam benar benar multi talenta dalam mengajar siswanya. Mapel yang pernah diampu saat mengajar di SMP yaitu Fisika, Seni Suara. Sedangkan di Madin maupun di Madarasah Aliyah ai mengajar pelajaran Seni Suara, Khot, Mahfudlod dan Extra Seni Musik serta Pramuka. Di samping itu ia pandai berbahasa Arab
Mapel yang pernah diampu saat mengajar di SMP fisika, seni suara dan yang di Madrasah Diniyah maupun Madrasah Aliyah yakni seni suara, khot, mahfudlod dan extra, Pramuka.
Sri Kustantiyah yang dinikahi A Syam pada 9 Januari 1985 mengungkapkan kalau suaminya adalah orang yang sangat sabar dan penuh humoris.
Dikatakan perempuan kelahiran Babat Lamongan ini bahwa suaminya memiliki talenta yang luar biasa. Ia sangat dekat dengan anak didiknya dan semua guru yang muda maupun yang sebaya.
“Pak A Syam itu orang yang sangat sabar dan penuh humoris. Sangat dekat dengan anak didiknya dan sesama koleganya di tempat mengajar,” ungkap guru senior di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran ini
Ditambahkan Sri Kustantiyah, alhamdulillah pada tahun 1990 saat terjadi Tragedi Mina ia berdua telah melaksanakan ibadah haji ke baitullah.
Sementara itu Gondo Waloyo Pengajar di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung mengatakan al hamdulillah saya diajar Pak A Syam sejak duduk di kelas 2 MIM 13 Sendangagung 1982-1988.
A Syam banyak mewarnai dunia pendidikan di Perguruan Muhammadiyah Sendangagung dengan ide-ide kemajuan kegiatan ekstra kurikuler, seperti Muhadharah, Pramuka dan Paduan Suara (Padus).
“Ide-ide segar ekstra kurikuler itu beliau usung dari Gontor dan diadaptasikan di lingkungan Sendangagung khususnya IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Sendangagung dan Pemuda Muhammadiyah,” ujar Gondo Waloyo yang kini menjadi guru di MA Al Ishlah Sendangagung
Gayung bersambut, ide-ide baru dan kegiatan yang realistis dan menyenangkan itu disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh warga Muhammadiyah. A Syam semakin mendapat tempat di hati warga Muhammadiyah Sendangagung.
Catatan prestasi berhasil ditorehkan oleh suami Hj Sri Kustantiyah ini, Pramuka Sendangagung sering membawa tropi kejuaraan baik tingkat kwarcab maupun kwarda. Demikian juga Bina Vokal pernah sampai tingkat propinsi pada zamannya.
“Tidak hanya di situ, dari tangan Pak Haji A Syam juga melahirkan banyak karya seni kaligrafi, elektro, dekorasi, dan hasta karya yang lainnya,” ujar guru yang memiliki profesi sebagai wartawan ini
Lanjutnya, yang terpenting, mindset dalam membangun jiwa dan mental generasi muda Muhammadiyah sangat progresif dan visioner yang melampaui zamannya dan tidak mampu dijangkau oleh guru lain di eranya.
“Satu lagi, kemampuan bahasa Arab Pak A Syam juga tak perlu diragukan, meskipun tidak menamatkan KMI Pondok Darussalam Gontor karena sakit hernia, Pak A Syam sangat fasih berbicara bahasa Arab. Ia juga mendukung secara penuh hadirnya Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung 1986,” tegas penulis produktif ini
Sampai sekarang masih menjadi teka teki, nama A Syam apa kepanjangan A itu masih belum terjawabkan
A Syam sang guru otodidak dan multi talenta ini wafat pada 19 September 2021 dalam usia 66 tahun. Ratusan santri, alumni Al Ishlah dan masyarakat menshalatkan jenazahnya di masjid An Nur Sendangagung. Jenazahnya dimakamkan di kuburan Islam desa Sendangagung Paciran
Penulis Fathurrahim Syuhadi Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments