Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Abdul Manan Rosyid: Ayat yang Menggerakkan, Perjuangan yang Tak Padam

Iklan Landscape Smamda
Abdul Manan Rosyid: Ayat yang Menggerakkan, Perjuangan yang Tak Padam
Abdul Manan Rosyid. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Abul Ala Alghiffari Mahasiswa UM Surabaya
pwmu.co -

Dalam sejarah Muhammadiyah Balen Bojonegoro, ada satu nama yang menjadi jembatan antara dakwah masa lalu dan generasi hari ini: Drs. Abdul Manan Rosyid (1945–2007). Ia hidup sebagai sosok yang supel, hangat dalam bersilaturahmi, dan teguh dalam prinsip. Meskipun telah berpulang, jejak langkahnya—dari ayat Alquran yang menggerakkan jiwanya hingga amal usaha yang ia dirikan—masih memancarkan cahaya bagi warga dan kader Muhammadiyah Balen.

Dari Lingkungan Agamis hingga Ayat yang Mengubah Arah Hidup

Lahir di Bojonegoro, 9 September 1945, Abdul Manan tumbuh di keluarga religius. Ayahnya, K. Abu Khoir, seorang kiai dan tokoh Masyumi, menanamkan nilai keagamaan dan keberanian berorganisasi sejak ia kecil. Minatnya pada ilmu agama ia dalami melalui pendidikan pesantren dan studi formal hingga meraih gelar sarjana muda di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan kemudian menyelesaikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang setelah berkeluarga.

Satu ayat yang terus ia pegang sepanjang hidup adalah QS Ali Imran: 104, yang menyeru umat Islam untuk menjadi bagian dari kelompok yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat inilah yang menjadi pendorong utamanya untuk memilih jalan dakwah di Muhammadiyah.

Karier organisasinya dimulai sejak mahasiswa. Namun kiprah terbesarnya justru terjadi ketika ia kembali ke kampung halaman di Balen. Di sana, ia mengubah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah peninggalan Masyumi menjadi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, dan pada tahun 1969 ia mendirikan Ranting Muhammadiyah Bulu. Ia memulai semuanya dari hal sederhana: pengajian Sabtu malam Ahad dan shalat tarawih berjamaah ala Muhammadiyah—kedua kegiatan yang kelak menjadi penguat identitas persyarikatan di Balen.

Pendiri Sekolah, Penggerak Umat, dan Teladan Kehidupan

Dua tokoh Muhammadiyah Bojonegoro, K. Kasnari dan K. Hazim Amin, semakin mendorong tekad Abdul Manan untuk mendirikan sekolah Muhammadiyah. Dari dorongan itu lahirlah SMP Muhammadiyah Balen, disusul Madrasah Aliyah Muhammadiyah Balen, serta pembangunan Masjid At-Taqwa. Ia juga dipercaya menjadi ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Balen dan sekaligus kepala sekolah SMP Muhammadiyah.

Kedisiplinannya dalam mendidik anak-anaknya menjadi bukti kesungguhannya membangun generasi berilmu. Lima putra-putrinya kini menjadi akademisi, dokter, dan pemimpin di bidangnya. Ketegasannya berpadu dengan kasih sayang, diwujudkan dalam kebiasaan yang menjadi teladan: puasa Senin-Kamis yang konsisten, shalat tahajud yang tak pernah putus, keterbukaan dalam bergaul, dan kegemarannya bersilaturahmi.

Prinsip hidupnya sederhana namun dalam:

“Hidup adalah perjuangan. Maka berjuanglah dengan segala upaya untuk meraih kemenangan dalam ridha Allah,” merujuk pada QS At-Taubah: 41.

Seluruh aktivitas dakwahnya berjalan seimbang dengan rumah tangga, berkat dukungan istrinya, Hj. Nur Hasanah, seorang tokoh Aisyiyah yang pernah menjadi Ketua PCA Balen. Keduanya menjadi pasangan dakwah yang saling menguatkan, membangun akar Muhammadiyah dari lingkup keluarga hingga cabang.

Warisan Perjuangan yang Hidup Melampaui Waktu

Setelah beliau wafat, cita-cita besarnya untuk mendirikan pesantren akhirnya terwujud melalui Pondok Pesantren Al-Munawwir, di bawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Balen, dipimpin oleh KH Drs. Abd Haris, keponakan beliau. Warisan dakwah itu berlanjut pula melalui putranya, Dr. Luthfi Nur Rosyidin, SE, MM, yang mendirikan Pesantren Mahasiswa Biyadikal Khoir di Surabaya—sebuah bukti bahwa nilai perjuangan Abdul Manan terus mengalir ke generasi berikutnya.

Abdul Manan Rosyid adalah bukti bahwa dakwah tidak selalu membutuhkan panggung besar. Ia bergerak dari desa, membangun madrasah, sekolah, masjid, dan kader-kader masa depan. Ia mengajarkan bahwa jabatan hanyalah alat; yang utama adalah nilai kebaikan yang terus hidup setelah seseorang pergi.

Semoga keteladanan beliau menjadi penerang jalan bagi warga dan kader Muhammadiyah di masa depan—sebagaimana cahaya yang ia nyalakan dulu, yang hingga kini belum padam.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

1 Tanggapan

Search
Menu