Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyampaikan pesan penting dalam Pengajian Subuh di Masjid Ad-Dakwah Samarinda, Selasa (30/9/2025). Ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai degenerasi, yaitu keterputusan generasi umat Islam, yang menjadi tantangan besar di era modern.
“Masjid Ad-Dakwah ini masjid baru, tapi seperti masjid tua, karena jamaahnya tua-tua,” seloroh Mu’ti membuka ceramah. Menurutnya, banyak masjid berdiri dengan fondasi kokoh, namun bukan fondasi takwa.
Ia menjelaskan, terdapat dua bentuk degenerasi. Pertama, degenerasi nasabiyah, ketika generasi baru enggan menikah atau berkeluarga tanpa anak. Ia mencontohkan Jepang yang mengalami krisis penduduk akibat dominasi generasi tua. Kedua, degenerasi diniyah, yakni keterputusan agama antar generasi. “Levelnya bisa berbeda agama dengan orang tua, masih seagama tapi ketaatan menurun, atau sama-sama seagama namun peran ketokohan orang tua melemah,” jelasnya.
Abdul Mu’ti menambahkan, kondisi ini mirip kekhawatiran Nabi Zakaria yang terus berdoa agar dikaruniai keturunan untuk melanjutkan perjuangan. “Keturunan bukan hanya untuk produksi, tetapi pelanjut dakwah,” tegasnya.
Ia juga menyinggung fenomena meningkatnya ateisme dan agnostisme di kalangan generasi muda Muslim. “Sekarang tren bukan agama, tetapi spiritualisme. Mereka mencari spiritualitas tanpa harus beragama,” ujarnya, sembari mengutip data Pew Research Center 2015 yang menempatkan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia.
Menurutnya, masalah bukan pada agama, melainkan cara agama dihadirkan. “Kalau hanya ritus, tentu tidak memuaskan dahaga spiritual. Ceramah kita sering hanya tabligh satu arah, padahal generasi muda lebih suka didengar. Maka perlu ustaz-ustaz yang bisa mendengar,” paparnya.
Mu’ti menekankan pentingnya mendekati generasi muda dengan bahasa mereka. Ia mencontohkan Nabi Muhammad dan KH Ahmad Dahlan yang akrab dengan anak muda. “Kalau dekat, kita bisa memengaruhi mereka. Caranya dengan memotivasi, mendukung bakat-minat, dan memberi penguatan mental serta karakter melalui kebiasaan,” pesannya.
Dengan pendekatan penuh empati, Mu’ti berharap umat Islam mampu mencegah degenerasi diniyah dan memastikan estafet dakwah terus berlanjut lintas generasi.


0 Tanggapan
Empty Comments