Search
Menu
Mode Gelap

Abdul Mu’ti Menyulap Pengukuhan Prof Sukadiono Jadi Panggung Tawa

Abdul Mu’ti Menyulap Pengukuhan Prof Sukadiono Jadi Panggung Tawa
Prof. Abdul Mu'ti saat menyampaikan sambutan di acara pengukuhan Guru Besar Prof. Sukadiono di UM Surabaya, Sabtu (23/8/2025). foto: Istimewa
pwmu.co -

Di sebuah acara akademik yang biasanya penuh formalitas, tawa justru menjadi bumbu yang menyegarkan.

Itulah yang terjadi saat Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah , naik ke podium memberikan sambutan pada pengukuhan Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM sebagai Guru Besar bidang Fisiologi Olahraga di Gedung At-Tauhid Tower, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (23/8/2025).

Sejak awal ia sudah membuat hadirin “pecah” dengan celetukan sederhana. “Kalau mikrofonnya harus diturunkan, maklum orangnya agak pendek,” ujarnya, yang langsung disambut gelak tawa riuh dari para undangan. Sentuhan humor itulah yang kemudian mewarnai hampir seluruh sambutannya.

Alih-alih sekadar menyebut nama tokoh yang hadir, Abdul Mu’ti membalutnya dengan kelakar cerdas. Saat menyebut Prof. Haedar Nashir dan Prof. Pratikno, ia menyampaikan jabatan mereka secara formal. Tetapi ketika giliran Prof. Muhadjir Effendi, ia melontarkan komentar segar.

“Pak Muhadjir ini Mustasyar Presiden dalam urusan haji. Orang Muhammadiyah yang jadi mustasyar itu ya hanya beliau,” katanya. Hadirin kembali tergelak, apalagi dengan gaya khas Mu’ti yang santai namun cerdas.

Tak lupa ia memberi perhatian khusus kepada Aisyiyah. “Dari tadi belum ada yang menyebut Aisyiyah. Padahal hadir lengkap, dari pusat, wilayah, cabang, hingga ranting,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Kalau tidak ada Aisyiyah, tidak ada Muhammadiyah,” tambahnya, membuat suasana semakin hangat.

Ketika tiba pada giliran menyebut nama tuan rumah, Rektor UM Surabaya Dr. Mundakir, Mu’ti menambahkan frasa “wa ‘alaihi wa ash-habihi ajma’in”, sebagaimana orang selawat: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajma’in” yang artinya “Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad, keluarganya, dan seluruh sahabatnya”.

Hadirin sontak tergelak, karena doa yang biasanya dibacakan penuh khidmat itu mendadak dipakai untuk menyapa seorang rektor. Gaya main kata seperti inilah yang khas dari Abdul Mu’ti, membuat suasana kaku berubah cair.

Lalu beralih kepada sosok yang sedang dikukuhkan, Sukadiono, ia melontarkan komentar penuh nostalgia.

“Pidatonya sangat hebat, mengingatkan saya pada rumus-rumus Kimia waktu sekolah dulu,” ucapnya. Hadirin pun kembali terhibur.

Namun, puncak keceriaan hadir lewat pantun. Dengan intonasi khas, Abdul Mu’ti membacakan bait demi bait sederhana, namun sarat makna.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ke pasar ndoro membeli tomat,
Buah bergizi lezat dan sehat.
Pak Profesor Sukadiono saya ucapkan selamat,
Terus mengabdi bagi masyarakat.

Disambut tepuk tangan meriah, dia melanjutkan pantun keduanya yang selaras dengan semangat olahraga.

Kalau bisa berjalan kaki,
Tak perlu naik sepeda motor.
Kita bersyukur kepada Ilahi,
Atas anugerah Pak Suko menjadi profesor.

Di balik tawa dan canda itu, ada pesan serius yang disampaikan Abdul Mu’ti. Bidang fisiologi olahraga yang digeluti Sukadiono sangat relevan dengan dunia pendidikan dasar dan menengah. Yakni, Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat, Tidur Cepat

“Kalau kebiasaan sehat ini ditanamkan sejak dini, anak-anak Indonesia akan tumbuh kuat dan sehat,” ujarnya.

Sambutan Abdul Mu’ti pun menjadi pengingat bahwa suasana akademik tidak selalu harus kaku.

Lewat selipan humor, pantun, dan sapaan hangat, dia berhasil menghadirkan keakraban, bahkan di tengah acara sakral pengukuhan seorang profesor.

Sebuah momen yang membuktikan bahwa ilmu, tawa, dan kehangatan bisa berjalan beriringan. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments