Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Abdul Mu’ti: Pendidikan Harus Jadi Jembatan Perdamaian, Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan

Iklan Landscape Smamda
Abdul Mu’ti: Pendidikan Harus Jadi Jembatan Perdamaian, Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan
Abdul Mu’ti Mendikdasmen dalam sambutannya. Foto: Humas Kemendikdasmen/PWMU.CO
pwmu.co -

Pendidikan yang bermutu bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan menumbuhkan literasi lintas budaya dan agama. Dengan begitu, generasi muda diajak melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah.

Hal itu ditegaskan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara kunci dalam Regional Meeting on Education for Sustainable Peace in Southeast Asia di Jakarta, Selasa (24/9).

“Ketika anak-anak belajar tentang keyakinan dan tradisi orang lain, kebencian memudar, stereotip lenyap, dan jembatan empati mulai tumbuh,” ungkapnya di hadapan sekitar 300 peserta dari unsur kementerian pendidikan, akademisi, organisasi internasional, dan perwakilan negara ASEAN plus Timor Leste.

Pendidikan Lebih dari Fakta

Selaras dengan tema “Countering Hate Speech and Preventing Conflicts Towards More Peaceful Societies through Education”, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pendidikan adalah kekuatan transformasi.

“Pendidikan adalah penyeimbang terbesar, membawa potensi transformatif untuk menyamakan kedudukan dan menciptakan kesempatan bagi semua. Namun, ia harus lebih dari sekadar mengajarkan fakta; pendidikan harus menumbuhkan pemahaman,” tegasnya.

Ia juga membagikan pengalaman saat menghadiri G20 Interfaith Forum di Cape Town, Afrika Selatan, Agustus lalu. “Diskusi di forum internasional itu semakin menyadarkan saya bahwa pendidikan adalah kekuatan paling kuat yang kita miliki untuk membentuk masyarakat solid, adil, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, perdamaian tidak bisa dicapai oleh satu bangsa saja. “Perlu solidaritas regional. Pertemuan ini bukan hanya berbagi praktik baik, tapi juga peluang mengembangkan kemitraan Indonesia dengan ASEAN, SEAMEO, dan UNESCO di bidang perdamaian global,” jelasnya.

UNESCO dan Nilai Perdamaian

Plt. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta, juga menekankan bahwa dunia saat ini menghadapi konflik akibat rasisme dan prasangka.

“Pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan. Pendidikan adalah tentang membentuk nilai, menumbuhkan empati, dan membina generasi yang memilih dialog daripada kekerasan, kolaborasi daripada kompetisi, serta rasa hormat daripada prasangka,” ujarnya.

Direktur dan Representatif Kantor Regional UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menambahkan bahwa pendidikan adalah cara ampuh membangun ketangguhan dan menghormati keberagaman.

“Kami berharap pertemuan regional ini menjadi momentum untuk mengubah aspirasi bersama menjadi aksi nyata di Asia Tenggara,” pungkasnya.

Pada sesi pembukaan, Direktur Maki menyerahkan secara simbolis instrumen Recommendation on Education for Peace, Human Rights, and Sustainable Development yang diadopsi 194 negara anggota UNESCO pada November 2023, termasuk Indonesia, kepada Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Dihadiri Berbagai Pihak

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Direktur KOICA Country Office Timor Leste, serta Direktur Eksekutif ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR).

Instrumen Recommendation on Education for Peace, Human Rights, and Sustainable Development dapat diakses melalui laman resmi UNESCO: unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000388330.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu