
Oleh: Fadhilatur Rosyidah – Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik
PWMU.CO – Burnout adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan yang terus-menerus. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tuntutan dan tekanan, banyak dari kita tanpa sadar terjebak dalam siklus kelelahan yang tak berujung. Bayangkan saja, semangat yang biasanya menyala perlahan meredup, motivasi yang semula membara berubah menjadi kekosongan, dan tubuh yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru terasa begitu lelah dan tak berdaya.
Burnout bukan hanya sekadar keletihan biasa, melainkan tanda serius dari tubuh dan pikiran yang meminta kita untuk berhenti sejenak dan memperhatikan. Burnout adalah suatu kondisi yang bersifat patologis dan dapat berdampak negatif pada individu, seperti stres yang berkepanjangan yang berujung pada perilaku maladaptif akibat kehabisan emosi dan fisik (Islami, 2019).
Burnout merupakan istilah yang semakin dikenal dalam kehidupan modern, terutama di dunia kerja dan pendidikan. Namun, Burnout bukanlah sekadar rasa lelah biasa, melainkan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat stres dan tekanan berkepanjangan. Siapa saja bisa mengalami burnout, mulai dari pekerja profesional hingga mahasiswa, bahkan mereka yang sangat mencintai pekerjaan mereka.
Di balik kemewahan dunia kampus yang dipenuhi harapan dan impian, terdapat masalah serius yang sering diabaikan. Mahasiswa sering menghadapi tekanan yang sangat rumit. Tuntutan akademis yang tinggi, jadwal yang padat, tugas yang bertumpuk, serta ekspektasi dari keluarga dan lingkungan sosial menciptakan beban yang sangat berat.
Selain itu, banyak mahasiswa yang harus berusaha membagi waktu antara kuliah, organisasi, pekerjaan paruh waktu, dan kehidupan pribadi. Ketidakseimbangan ini sering kali membuat mereka merasa kewalahan dan kehilangan kontrol atas proses belajar mereka.
Burnout dalam dunia pendidikan sering disebut sebagai Academic Burnout. Secara umum, Academic Burnout adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan secara fisik maupun mental akibat tekanan akademik yang berlebihan. Kondisi ini dapat memicu perasaan bosan dalam belajar, ketidakpedulian terhadap tugas-tugas akademik, menurunnya semangat belajar, hingga berdampak pada penurunan prestasi akademik.
Menurut (Dewi dan Wati, 2021), Academic Burnout adalah kondisi di mana seseorang mengalami kelelahan fisik, mental, serta emosional yang menyebabkan perasaan negatif terhadap diri sendiri, seperti sinisme dan ketidakpedulian hingga berakibat pada penurunan pencapaian pribadi.
Terdapat tiga aspek dari Academic Burnout, yaitu:
- Exhaustion (Kelelahan emosional)
Aspek ini merujuk pada perasaan lelah yang tidak selalu berkaitan dengan orang lain. (Leiter dan Maslach, 2000 dalam Khairani dan Ifdil, 2015) menyatakan bahwa dimensi ini berkaitan dengan perasaan emosional yang berlebihan dan perasaan kehabisan sumber daya emosional. Individu merasa tidak memiliki cukup energi untuk menghadapi hari atau orang lain.
- Cynicism (Sinisme)
Komponen ini ditandai dengan sikap acuh tak acuh atau kecenderungan menjauh dari kegiatan perkuliahan, yang tidak selalu melibatkan interaksi dengan orang lain. Sinisme merupakan sikap untuk menciptakan jarak emosional terhadap pengalaman pembelajaran yang sedang dijalani.
Sikap ini dapat tercermin melalui perilaku seperti ketidakpedulian, meremehkan proses belajar, membolos, tidak menyelesaikan tugas, bersikap kasar, serta memiliki pandangan negatif terhadap dosen dan lingkungan perkuliahan.
- Academic Inefficacy (ketidakefektifan akademik)
Komponen ini mencakup elemen sosial dan nonsosial dalam mencapai prestasi akademik. (Laiter dan Maslach dalam Christiana, 2020) menyebutkan bahwa seseorang dapat merasa tidak berdaya, dan menganggap semua tugas yang ada sangat memberatkan. Saat merasa tidak mampu, mereka cenderung mengalami rasa ketidakmampuan. Ketidakmampuan adalah keadaan di mana seseorang merasa tidak kompeten dalam perannya sebagai pelajar (Schaufeli, 2002).
Namun, meskipun kegelapan terasa begitu pekat, selalu ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Menyadari kondisi diri merupakan langkah awal yang sangat penting. Mahasiswa perlu memberi ruang untuk merawat diri (self-care) dan menghargai batas kemampuan pribadi. Mengelola waktu dengan bijak, menyediakan jeda untuk beristirahat, serta tidak ragu meminta bantuan dapat menjadi tameng yang efektif untuk menghindari jurang academic burnout.
Penelitian yang dilakukan oleh Yang (2004) menunjukkan bahwa burnout di lingkungan akademik berdampak signifikan terhadap pencapaian prestasi akademik. Sementara itu, penelitian di Indonesia oleh Sugiarto (2009) mengungkapkan bahwa kondisi burnout menyebabkan mahasiswa menjadi kurang aktif, terjebak dalam pola pembelajaran yang kaku, serta kesulitan dalam menerapkan materi pelajaran untuk menyelesaikan masalah.
Hal ini bisa terjadi karena mahasiswa mengalami kelelahan, kehilangan semangat, mudah marah, frustrasi, serta merasa sinis terhadap kegiatan akademis dan menarik diri (Salanova, et al, 2009).
Mengatasi academic burnout bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang mustahil. Dengan dukungan sosial yang kuat, pengelolaan waktu yang bijak, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, mahasiswa dapat kembali menemukan semangat belajar dan meraih kesuksesan tanpa harus mengorbankan diri sendiri. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara kehidupan dan kesehatan mental.
Selain itu, membangun kebiasaan sehat juga sangat penting, seperti berolahraga secara teratur, menjaga pola makan yang seimbang, dan memastikan waktu tidur yang cukup. Aktivitas fisik terbukti dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati. Academic burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah panggilan penting bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental dalam dunia pendidikan.
Dengan menyadari dan menangani masalah burnout secara serius, kita tidak hanya berusaha menyelamatkan masa depan akademik mahasiswa, tetapi juga membangun generasi yang kuat secara mental, semangat, dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan percaya diri. Sebab pencapaian tertinggi bukan hanya berkaitan dengan nilai akademis, tetapi juga tentang keseimbangan antara keberhasilan dan ketenangan jiwa. (*)
Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments