Ada misi rahasia di balik tampilnya Jidor Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Sendangagung saat tampil di Dusun Palirangan, Payaman, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, Senin (25/8/2025).
Jidor bernama Pemuda Bersinar PRPM Sendangagung yang dipimpin oleh Ketua Umum PRPM, Farih Hamdan SPdI ini dihadirkan oleh warga Gang Mbalong, dan ini merupakan kali pertama atau tampilan tandang perdana di event karnaval di luar Kecamatan Paciran.
Grup Jidor yang sebagian besar didominasi Pemuda Muhammadiyah Sendangagung ini sudah barang tentu berangkat dengan penuh semangat dan persiapan yang matang, pasalnya bisa hadir dan menunjukkan kemampuan aksi mereka dalam memainkan rebana adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi pecinta seni tradisional yang kaya spirit dakwah Islam di kawasan Pantura ini.
Personil Jidor dengan seragam warna krem muda dan dipadu dengan blangkon khas Yogyakarta ini tak henti-hentinya menyanyikan lagu dengan suara lantang melengking setinggi nada suara rebana yang ditabuh keras oleh 8 pemain.
Tidak hanya sekedar memenuhi undangan tanggapan HUT ke-80 RI dari warga Gang Mbalong Palirangan, tetapi di balik itu ada misi mulia, yaitu memperkenalkan musik tradisional jidor khas Sendangagung dan memantik semangat pemuda agar kekeh melestarikan budaya kearifan lokal.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris PRPM Sendangagung, Salman Ahsanul Khuluq SPd yang sekaligus penabuh gendang yang handal di grup jidor yang berdiri 4 tahun yang lalu ini.
“Pemuda Muhammadiyah Sendangagung yang tergabung dalam Jidor Pemuda Bersinar ini memiliki semangat tinggi melestarikan nilai luhur musik tradisional Jidor khas Sendangagung ini, hal itu dibuktikan dengan keuletan mereka dalam menekuni musik Jidor yang tidak mudah untuk dipelajari,” ungkap pemuda lajang putra pasangan Abdurrahman dan Milatush Shalihah ini.
Karnaval Dusun Palirangan yang dipusatkan di Lapangan Telaga Ringin ini dibuka dengan sambutan sekaligus doa, oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Solokuro, Ahmad Nafi’ SH, begitu dibuka dengan bacaan basmalah bersama hentakan musik jidor, tongklek dan drumbend saling bersahutan seolah tak mau kalah pamor dan wibawanya di hadapan ribuan warga yang menonton.
Rute yang harus ditempuh oleh peserta pawai meliputi lapangan sebagai start awal pemberangkatan dilanjut Gang Grasak, Mbalong, Masjid United, Sumurgede, Randu Kembar, dan Rambutan dan finish di tempat masing-masing gang.
Dalam momen ini, di hadapan ribuan warga yang memadati lapangan guna menyaksikan dari dekat aneka seni yang ditampilkan oleh masing-masing gang di Dusun Palirangan Payaman ini, Ustadz Nafi’ mengajak warga untuk mensyukuri kemerdekaan RI dengan mengisi kegiatan yang positif bermanfaat bagi bangsa Indonesia.
Sementara itu, salah satu warga Mbalong, Abdul Kholiq Tokan SE mengaku sangat jahit seni musik tradisional Jidor. Bagi ayah 3 anak ini, Jidor merupakan kesenian khas Sendangagung yang tidak dimiliki desa lain sehingga terasa beda dengan kesenian-kesenian yang lain.
“Kalau tongklek, drumband hampir di setiap desa ada tetapi jidor hanya ada di Sendangagung, meskipun dahulu pernah merajai belantika musik kawasan Pantura,” tutur suami Kusmawati ini.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments