
(Muhsin MK/PWMU.CO).
PWMU.CO – Fastabiqul Khairat artinya berlomba lomba dalam kebaikan (QS. Al Baqarah:148). Dapat pula diartikan sebagai ajaran tentang perlunya melakukan persaingan sehat dalam aktivitas apapun.
Perintah Allah ini mengajarkan agar ummat Islam yang hidup diantara sesama muslim dan ummat beragama lain harus berusaha untuk berlomba lomba dan bersaing dalam beribadah. Berbuat baik, beramal shaleh, bermasyarakat di tingkat nasional dan global.
Selain itu, istilah ini juga dapat dimaknai sebagai kemampuan berlomba dan bersaing secara sehat. Baik dalam bidang iptek, imtaq, pendidikan, ekonomi, politik, kesehatan, sosial budaya, olahraga, peradaban dan sebagainya.
Pengaruh Besar Fastabiqul Khairat
Berfastabiqul khairat memberikan pengaruh yang besar dalam menciptakan ketaatan dan ketaqwaan, kemajuan dan kesuksesan bagi setiap muslim dalam hidup dan kehidupannya di dunia.
Nabi Yusuf ‘alaihissallam di antaranya, telah memberikan contoh teladan dalam perjalanan hidupnya. Ia berlomba dan bersaing dengan saudara saudaranya yang lain (kakak kakaknya) dalam mencari perhatian dari ayahnya, Nabi Yaqub ‘alaihissalam.
Namun dalam perlombaan dan persaingan itu ternyata telah menimbulkan sikap hasad dan kebencian. Karena itulah saudara saudaranya pun berusaha menyingkirkan Yusuf. (QS. Yusuf-8-9).
Dengan demikian dalam berfastabiqul khairat ada tata aturan, tata tertib, tata krama dan adab-adabnya sebagai berikut:
Pertama, ikhlas semata mata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS. Al Baqarah:21, Adz Dzar’iat:56, Al Bayyinah:5).
Hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tegaskan pula dalam firman-Nya. “Dan orang orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (ikhlas), sesungguhnya (karena mereka tahu bahwa) mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (Allah). Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan kebaikan, dan merekalah orang-orang yang bersegera mendapatkannya”. (QS.Al Mu’minun: 60-61).
Syekh As Sa’diy menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya. “Dan kebaikan yang dimaksud mencakup ibadah wajib atau sunnah. Berupa sholat, puasa, zakat, haji, umrah, jihad, dan amalan jangka panjang maupun jangka pendek. Semakin kuat dorongan hati seseorang dalam bersegera dan giat dalam mengerjakan kebaikan, sebesar itu pula pahala yang Allah limpahkan kepada hamba tadi”. (Tafsir As Sa’diy, hal 72).
Bersaing dengan Sehat
Kedua, untuk meraih taqwa dan akhlak mulia. (QS. Al Ali Imran:133, Al Muthaffifin:26). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah dimana pun engkau berada. Dan Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia”. (HR. Ahmad no V/153,158,177, Tarmidzi no 1987, Ad Darimi II/323, dan Al Hakim I/54).
Ketiga, untuk mendapatkan ampunan dan surga Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Nya, “Berlomba lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga (Nya) yang lebarnya selebar langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul Rasul Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan Nya kepada siapa yang dikehendaki Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar “. (QS. Al Hadid:21).
Keempat, bersaing sehat guna memperkuat ikatan persaudaraan. Sebagaimana dicontohkan oleh kaum Muhajirin (yang berhijrah dari Mekkah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah). Mereka bersaing secara sehat dalam beramal ibadah dan melakukan kebaikan lainnya. Tidak ada kebencian dan permusuhan karena mereka diikat oleh ikatan persaudaraan yang didasari iman dan Islam (QS. Al Hujurat:10).






0 Tanggapan
Empty Comments