
Oleh Muhsin MK
PWMU.CO – Kata “kritis” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bersifat tidak lekas percaya, selalu berusaha menemukan kesalahan dan kekeliruan, serta tajam dalam penganalisisan. Berpikir kritis bermakna menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan dengan tajam, tidak mudah percaya begitu saja, serta selalu mencari celah kekeliruan dan kesalahan dalam suatu hal.
Islam mengajarkan kepada umatnya agar dapat berpikir kritis. Beberapa ayat dan hadis telah menjelaskan tentang perlunya berpikir kritis. Di antara tujuannya adalah agar tidak menerima informasi mentah-mentah sebelum diteliti terlebih dahulu kebenarannya (QS. Al-Hujurat: 6).
Kemudian, tidak mengikuti begitu saja sebelum benar-benar mengetahui kebenaran atau menguasai ilmunya (QS. Al-Isra’: 36); serta melakukan analisis secara tajam dalam berpikir untuk mencari kebenaran kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (QS. Ali ‘Imran: 190–191).
Dalam berpikir kritis tentu ada batas-batasnya. Perhatikan pula tata krama dan adab-adabnya. Adapun adab-adab yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut.
Pertama, tujuannya untuk mencari kebenaran tentang adanya Tuhan dan meyakini keberadaan-Nya. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mencari kebenaran tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keberadaan-Nya dari fenomena alam ciptaan-Nya.
Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya, “Ketika malam telah menjadi gelap (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu (dia) berkata, ‘Inilah Tuhanku’. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada terbenam)’. Lalu ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Ini Tuhanku’. Tetapi ketika bulan terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku orang orang yang tersesat ‘.
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar’. Tetapi ketika matahari terbenam dia berkata, ‘Wahai kaumku aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan’. Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang orang yang musyrik”. (QS. Al-An’am: 76–79).





0 Tanggapan
Empty Comments