Berpihak pada yang Benar
Kedua, berpihak pada yang benar dan kebenaran, bukan pada yang salah dan bersalah. Seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam saat dituduh mengganggu istri raja.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu (Zulaikha) menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak, dan keduanya mendapati suami perempuan itu (raja Mesir) di depan pintu. Dia (Zulaikha) berkata, ‘Apakah balasan orang yang berlaku buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?’
Dia (Yusuf) berkata, ‘Dia yang menggoda ku dan merayu diriku’. Seorang saksi dari (pihak) keluarga perempuan itu (Zulaikha) memberi kesaksian. ‘Jika gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu (Zulaikha) benar dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah (Zulaikha) yang dusta dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar’.
Maka, ketika suami (Zulaikha) melihat baju gamis (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia berkata (pada Zulaikha), ‘Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu, tipu daya mu benar benar hebat’.” ‘.(QS. Yusuf: 25–28).
Ketiga, perlu sabar, kesabaran, dan bersabar. Berpikir kritis itu baik, tetapi dalam realisasinya perlu sikap sabar, memiliki kesabaran, dan bersabar, apalagi saat sedang belajar dan menuntut ilmu. Hal ini antara lain dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam pada saat dia berguru kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam.
“Dia Musa berkata, ‘Insya Allah engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.’ Dia (Khidir) berkata, ‘Jika engkau mengikutiku maka janganlah engkau menanyakan tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu. Maka berjalan lah keduanya hingga keduanya menaiki perahu lalu dia (Khidir) melubanginya. Dia (Musa) berkata, ‘Insya Allah engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.’
Dia (Khidir) berkata, ‘Jika engkau mengikutiku maka janganlah engkau menanyakan tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu. Maka berjalan lah keduanya hingga keduanya menaiki perahu lalu dia (Khidir) melubanginya.
Dia (Musa) berkata, ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah melakukan kesalahan yang besar. Dia (Khidir) berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak mampu sabar bersama ku.” (QS. Al-Kahfi: 69–82).





0 Tanggapan
Empty Comments