Search
Menu
Mode Gelap

Adab dalam Ta’awun

Adab dalam Ta’awun
Muhsin MK. (Dokumen Pribadi)
pwmu.co -

Ta’awun atau tolong-menolong merupakan perintah Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai seorang muslim dan mukmin, kita berkewajiban melakukannya, terlebih kepada mereka yang mengalami kesulitan, musibah, dan penderitaan.

Ta’awun menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis kemanusiaan, baik di kalangan umat Islam maupun umat manusia secara umum.

Bentuk ta’awun tidak terbatas pada pemberian bantuan materi. Maknanya lebih luas, mencakup berbagai aspek kehidupan: ekonomi, pendidikan, kesehatan, militer, teknologi, dan lainnya.

Bahkan aktivitas dakwah juga termasuk dalam ta’awun, sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf ‘alaihis salam saat berada di penjara (Qs Yusuf: 36–40).

Dalam merealisasikan ta’awun, ada aturan, tata krama, dan adab yang harus diperhatikan. Amalan yang baik dan mulia ini dapat menimbulkan kesan buruk jika dilakukan dengan cara yang tidak beradab, misalnya memberi sedekah sambil mengungkit-ungkit, menyakiti penerima, atau pamer agar dipuji orang lain (Qs al-Baqarah: 264).

Maka penulis memberikan beberapa adab ta’awun yang perlu dijaga:

Satu, Ikhlas karena Allah

Lakukan ta’awun dengan niat ikhlas dan takwa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Qs Al-Bayyinah: 5; Al-Hajj: 37; Az-Zumar: 2–3, 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku (Allah) adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR Muslim No. 2985)

Dua, Menolong sesama muslim dan mukmin

Allah berfirman:

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…” (Qs At-Taubah: 71)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat… Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya…” (HR Muslim No. 2699)

Tiga, Untuk kebajikan dan takwa, bukan dosa dan permusuhan

Allah berfirman:

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Qs al-Maidah: 2)

Rasulullah bersabda:

“Bantulah saudaramu, baik ia berbuat zhalim maupun teraniaya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami menolong yang teraniaya, tapi bagaimana menolong yang berbuat zhalim?” Beliau menjawab, “Dengan mencegahnya dari berbuat zhalim, itulah bentuk bantuanmu kepadanya.” (HR Bukhari)

Empat, Meringankan kesulitan kaum dhuafa

Allah berfirman:

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu melepaskan perbudakan atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (Qs Al-Fajr: 12–16)

Rasulullah bersabda:

“Dahulu ada seorang pedagang yang sering memberi pinjaman kepada orang-orang fakir. Jika ada yang kesulitan membayar, ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Maafkan mereka, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka Allah pun mengampuninya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Lima, Menghindari riya’ dan pamrih

Allah berfirman:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan barang berguna.” (Qs al-Ma’un: 4–7)

Dan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang berinfak karena riya’ kepada manusia.” (QS Al-Baqarah: 264)

Enam, Mengutamakan orang lain meski dalam kesulitan

Nabi Musa ‘alaihis salam menolong dua perempuan di Madyan meskipun dirinya sedang dalam keadaan sulit (Qs al-Qashash: 22–24). Sikap mengutamakan orang lain (itsar) adalah salah satu bentuk kemuliaan dalam ta’awun. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments