Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Adakan Voice Regional Training of Trainers, PP IPM Bina 35 Gen z Jawa Timur

Iklan Landscape Smamda
Adakan Voice Regional Training of Trainers, PP IPM Bina 35 Gen z Jawa Timur
Adakan Voice Regional Training of Trainers, PP IPM Bina 35 Gen z Jawa Timur. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Voice Regional Training of Trainers for the Prevention of Child Marriage (CM) and Famele Genital Mutilation/Cutting (FGM/C) merupakan program kolaborasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) dan UNICEF Indonesia, yang diselenggarakan pada Sabtu- Senin (24-27/1/2026).

BBPM Jatim Surabaya sebagai tuan rumah gelar kegiatan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM). Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari perwakilan daerah se-Jawa Timur.

Acara ini dihadiri oleh Anggun Anisah sebagai project manager voice, Arin Setyowati, M.A sebagai perwakilan MPKSDI PWM Jawa Timur, Ganis Khairunnisa sebagai perwakilan dari  PP IPM,dan Perwakilan IPM Jawa Timur yaitu Almast Tsalisa Haiba.

Kegiatan ini diinisiasi untuk meningkatkan kapasitas generasi muda, khususnya generasi Z, dalam upaya edukasi pencegahan Sunat Perempuan (Famele Genital Mutilation/Cutting) juga Pernikahan anak (Child Marriage).

Aula Graha Wiyata sebagai tempat Pembukaan Vice TOT Regional Jawa Timur, di aula ini para tamun undangan sekaligus peserta dan juga panitia berkumpul serta di sambut hangat oleh penampilan tari.

Setelah melakukan pembukaan, peserta melanjutkan beberapa misi terkait misi dari materi modul “Indside Voice” modul ini terdapat 6 misi yang harus dikuasai sebagai Voicekeeper. Misi 1 Membangun Kesadaran Viola, Misi 2 Menyalakan Empati Viola, Misi 3 Membangun Kemampuan Fasilitas Viola, Misi 4 Mengasah Suara Empatis Viola, Misi 5 Merancang Aksi Viola, Misi 6 Menggemakan Suara Viola.

Alur materi yang di sampaikan dalam modul ini menggunakan pendekatan FIDS (Feel,Imagine,Do,Share) dari Design for Change. Pendekatan ini membantu kamu memahami masalah, membayangkan solusi, membuat rencana aksi, dan membagikan dampak dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

Selain menggunakan pendekatan ini, modul ini juga menggunkan pendekatan LFLM (Look,Fuse,Learn,Move) pendekatan ini merupakan adaptasi dari Experiential Learning milik David Kolb dan Reflective Learning Cyle, yang menekankan bahwa seseorang belajar paling efektif ketika ia melihat,merasakan,memahami,dan mencoba secara langsung.

Pelatihan menghadirkan dua pemateri profesional Dr. Diyah Puspitarini, Komisioner Kommisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Vika Ramadhana Fitriyani S.Kep., Ns., MS., selaku Co-Founder GENC dan Alumni Master of Nursing, National Cheng Kung University, Taiwan, Dr. Pinky Saptandari, Dra. Ma, selaku  Pengajar Bidang Studi Gender & Feminisme Universitas Airlangga.

Adakan Voice Regional Training of Trainers, PP IPM Bina 35 Gen z Jawa Timur. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Ia menyoroti mengenai FGM/Sunat Perempuan secara detail. Pemotongan kelamin perempuan (bahasa Inggris: female genital mutilation disingkat FGM), Dikenal sebagai pemotongan/perlukaan genitalia perempuan (P2GP) yang dilakukan tanpa alas an medis. Di beberapa daerah, praktik ini dilakukan sebagai ritual, symbol penyucian, tanda “kedewasaaan”, atau bagian dari upacara budaya. Namun bagi anak perempuan, praktik ini dilakukan tanpa pemahaman dan tanpa persetujuan.

WHO dan UNFPA (2020) mengklasifikasikan sunat perempuan menjadi 4 yakni

  1. Tipe I: Pengangkatan sebagian atau keseluruhan bagian luar klitoris, dan/atau kulit penutupnya (preputium)
  2. Tipe II: Pengangkatan sebagian atau keseluruhan klitoris dan bibir dalam (labia minora), dengan atau tanpa mengangkat bibir luar (labia majora)
  3. Tipe III: Penyempitan lubang vagina dengan memnbuat “segel penutup” menggunakan labia minora atau labia majora yang dipotong dan diposisikan ulang, dengan atau tanpa pengangkatan klitoris.
  4. Tipe IV: Segala bentuk tindakaan mulai alat kelamin perempuan untuk tujuan non-medis, seperti menusuk, menindik, mengiris, menggores, mengikis, atau membakar jaringan.

Tidak hanya teori, peserta Voice juga langsung turun ke lapangan untuk melakukan sosisalisasi edukasi pencegahan FGM/C dan Pernikahan Dini. Kegiatan sosialisasi edukasi pencegahan FGM dan pernikahan dini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap pemenuhan hak anak dan remaja untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sosialisasi bertajuk Voice Go to School: Chill Talk “Hidupku Tubuhku” yang dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya. Dalam pelaksanaan ini sesi pembukaan kegiatan dipandu oleh Roudhotul Aulia sebagai penanggung jawab yang memperkenalkan tim serta tujuan kegiatan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta aktif membahas faktor penyebab pernikahan dini, hubungan tradisi dengan praktik FGM, serta dampak jangka panjang kedua isu tersebut terhadap kesehatan, psikologis, pendidikan, dan masa depan anak.

Meski masih ditemukan miskonsepsi, khususnya terkait anggapan bahwa FGM dibenarkan dalam kondisi tertentu, fasilitator mampu meluruskan pemahaman dengan menekankan bahwa FGM dalam bentuk apa pun melanggar hak anak dan tidak memiliki manfaat kesehatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap kritis peserta terhadap isu perlindungan anak.

Dengan terselenggaranya sosialisasi ini, diharapkan lahir generasi yang sadar akan hak atas tubuh dan masa depannya serta mampu berperan aktif sebagai agen perubahan dalam mencegah FGM dan pernikahan dini demi terwujudnya lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi anak dan remaja.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu