Di sebuah kamar sederhana, seorang remaja belasan tahun menundukkan wajahnya di depan mushaf biru peninggalan sang ayah. Air matanya tumpah, bibirnya bergetar lirih memohon agar setiap huruf Al-Qur’an kelak menjadi cahaya penuntun bagi orang tua yang telah tiada.
Dari momen haru itulah, lahir sebuah ikrar hidup: berkhidmat sepenuhnya kepada Al-Qur’an dan menyalurkan cahaya itu lewat Muhammadiyah.
Bertahun kemudian, ikrar itu diwujudkan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam setiap dakwahnya. Tidak hanya menafsirkan ayat dengan kedalaman makna, tetapi juga menyalakan gagasan besar. Menjadikan Muhammadiyah sebagai mercusuar nilai Qur’ani, dari ranah lokal hingga panggung dunia.
UAH menceritakan, saat dirinya berusia 38 tahun 9 bulan, dia telah mewakafkan diri untuk khidmat kepada Al-Qur’an sejak diterima di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut.
“Jadi, dua pertiga hidup saya memang bersama Muhammadiyah,” ungkapnya seperti dikutip dari kanal Youtube TVMU Yogyakarta.
Namun perjalanan itu tidak lepas dari ujian. Dua pekan setelah masuk pesantren, ayahandanya wafat.
“Ayah saya berpesan maaf karena tidak bisa mengantar ke pesantren, dan ternyata itu pesan terakhir sebelum beliau dipanggil Allah. Saya baru tahu setelah dipanggil pihak administrasi, lalu paman saya memberi kabar,” tuturnya.
Kehilangan itu menjadi momentum spiritual. Sesampainya di rumah, dia menemukan mushaf biru milik sang ayah.
Dengan berlinang air mata, ia berdoa: “Ya Allah, saya tidak punya kemampuan membahagiakan ayah semasa hidup, maka jadikanlah saya bagian dari ahli Al-Qur’an agar setiap huruf bisa menerangi kesendiriannya di alam kubur.” Dari sanalah awal kedekatannya dengan Al-Qur’an terbangun, bahkan ayat-ayat terekam begitu saja di dalam ingatan.
UAH menyinggung kejeniusan Kiai Haji Ahmad Dahlan dalam memilih nama Muhammadiyah.
“Mengapa bukan Ahmadiyah? Karena Ahmad dalam Al-Qur’an menunjuk pada aspek spiritual dan ibadah seorang hamba, sementara Muhammad menunjuk pada pancaran sosial yang memberi manfaat universal,” jelasnya.
Dia menambahkan, seorang Muslim sejati bukan hanya tekun ibadah, tetapi juga mampu menebar kebaikan sosial.
“Salat, zakat, dan puasa itu wajib. Tapi apakah semuanya otomatis melahirkan nilai sosial yang baik? Belum tentu. Muhammadiyah hadir agar ibadah kita punya nilai sosial, sesuai dengan akhlak Rasulullah,” ujarnya.
UAH kemudian menjelaskan, Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Rabiah Alawiyah hingga Sayyidina Husein.
“Berbahagialah bapak-ibu menjadi bagian dari Muhammadiyah, karena pendirinya adalah cucu Nabi. Maka kita harus jaga warisan ini dengan penuh kesungguhan,” katanya.
Lebih jauh, UAH menguraikan empat ayat Al-Qur’an yang menyebut nama Muhammad.
- QS Ali Imran: 144 – pesan regenerasi dakwah: jangan berhenti berjuang meski Rasulullah wafat.
- QS Al-Ahzab: 40 – pesan kemandirian: umat harus berkarya, tidak bergantung pada figur.
- QS Muhammad: 2 – pesan menjaga kemurnian dakwah: jangan nodai perjuangan dengan dosa.
- QS Al-Fath: 29 – pesan kebersamaan: umat harus bersatu saling menguatkan.
“Kalau empat nilai ini kita hidupkan, maka Muhammadiyah akan terus berkemajuan dan mendapat rida Allah,” tandasnya.
Menurut UAH, dakwah Muhammadiyah sejak awal dilakukan secara bil qalam (tekstual), dan kini harus ditingkatkan menjadi bil bunian (kontekstual).
“Bukan hanya menulis, tapi membangun. Bukan hanya dakwah di atas kertas, tapi menghadirkan bangunan nyata yang memberi manfaat luas,” ujarnya, sembari menyinggung SM Tower sebagai simbol dakwah berkemajuan.
Tausiyah ini semakin istimewa ketika UAH menyampaikan kabar penting: dirinya ditunjuk menjadi Ketua Asosiasi Dai dan Ulama Muda Dunia yang tengah dihimpun di berbagai benua.
“Saya akan usulkan konferensi pertama digelar di SM Tower ini, agar dunia tahu Muhammadiyah punya pusat peradaban,” katanya disambut tepuk tangan jamaah.
Dia juga menyampaikan program kaderisasi internasional. Tahun ini, Muhammadiyah mendapat kuota 30 beasiswa dari Universitas Islam Madinah, Ummul Quro, Al-Azhar, hingga Tripoli.
“Tolong kirimkan kader terbaik. Mereka akan kami siapkan, bukan sekadar sekolah, tapi pulang mengabdi di persyarikatan. Kita siapkan kader tarjih, tabligh, dan bidang lainnya sampai S3,” jelasnya.
UAH menunjukkan kepedulian kepada generasi muda dengan memberikan beasiswa kepada seorang pelajar yang tampil memainkan biola.
“InsyaAllah biaya pendidikan ditanggung sampai selesai, bahkan kalau bisa sampai S3,” ucapnya.
Sebagai penutup, UAH memimpin doa panjang, memohon agar Muhammadiyah dijauhkan dari noda maksiat, dipenuhi kader ikhlas, dan memberi kontribusi nyata bagi Indonesia.
“Jangan ada satu kegelisahan pun datang ke gedung ini kecuali Allah menenangkan hati, dan jangan ada satu dosa pun kecuali Allah hapuskan,” doanya khusyuk.
Dia juga menitipkan pesan agar warga Muhammadiyah bangga menjadi bagian dari persyarikatan.
“Tolong bangga, jangan minder jadi warga Muhammadiyah. Insya Allah saya akan keliling dari Aceh hingga ke pelosok negeri untuk memastikan pengajian merata,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments