Suasana panggung kehormatan di ajang OlympicAD Nasional VIII mendadak hening sesaat ketika nama Fatihah Naimada Syarofana disebut sebagai peraih medali emas kategori News Reading in English tingkat SMP, Sabtu (14/2/2026).
Langkahnya pelan menuju podium. Senyumnya merekah, tetapi air mata lebih dulu jatuh. Di hadapan ribuan peserta dan pendamping dari seluruh Indonesia, siswi SMP Muhammadiyah Program Khusus Surakarta itu tak kuasa menahan haru. Berkali-kali ia menyeka pipinya, mencoba tetap tegar di bawah sorot lampu panggung.
Bagi Fatihah, kemenangan ini bukan sekadar soal medali. Ini adalah momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Wah, saya sangat amat bahagia dan juga this is a very unexplainable feeling. Saya sangat bangga, this is so overwhelming. Saya nggak pernah expect saya bakal dapat ini. Saya sudah pasrah, saya tawakal saja tapi ternyata Allah sudah memberikan yang terbaik. Alhamdulillahirabbilalamin,” ucapnya dengan suara bergetar.
Putri dari Ayu Wulandari dan Mega Andri Utama itu mengaku, OlympicAD adalah pengalaman pertamanya mengikuti lomba news reading. Dunia membaca berita dalam bahasa Inggris di atas panggung besar benar-benar hal baru baginya.
Sejak Desember 2025, ia mulai menyiapkan diri. Setiap hari diisi dengan latihan pronunciation, memahami intonasi, hingga belajar membangun ekspresi yang tepat saat membacakan naskah berita.
Ia mencari guru les, menonton berbagai video di YouTube, dan berlatih membaca teleprompter agar tampak natural.
“Saya sudah mulai cari nonton video YouTube, cara pronunciation dengan baik dan cara membaca teleprompter dengan baik dan benar,” tuturnya.
Proses itu tidak selalu mudah. Ada rasa gugup, ada kalanya pengucapan terasa sulit, dan ada momen ketika ia merasa belum cukup percaya diri. Namun, satu hal yang tak pernah surut adalah tekadnya untuk mencoba yang terbaik.
Kepala sekolahnya, Muhdiyatmoko, menyaksikan sendiri perjalanan itu. Ia mengatakan, Fatihah berlatih setiap hari bersama guru Bahasa Inggris sekolah. Bahkan, ia juga memanfaatkan media sosial untuk mengamati gaya news reading dari sekolah-sekolah lain.
“Alhamdulillah Mbak Fatihah dari SMP Muhammadiyah PK Kota Surakarta meraih medali emas di bidang news reading. Mbak Fatihah tiap hari mempersiapkan diri untuk lomba news reading ini dengan guru Bahasa Inggris kami, kemudian dengan media-media sosial untuk melihat model news reading yang sedang diikuti oleh sekolah yang lain,” jelasnya.
Menurutnya, persiapan paling intens dilakukan selama satu bulan terakhir menjelang kompetisi. Sekolah mengirimkan 12 peserta dalam berbagai cabang lomba, dengan target yang tak main-main: 12 medali emas.
“Kita mengirim 12 peserta, ya targetnya ya 12 medali emas lah,” katanya optimistis sambil tersenyum.
Namun bagi Muhdiyatmoko, yang lebih penting dari sekadar medali adalah pembentukan mental juara.
“Harapannya mental para anak-anak kami ini semakin terasah, sehingga bukan menang dan kalahnya, tapi mental juara itu akan selalu terbangun dalam diri anak-anak kami,” tuturnya.
Ajang OlympicAD Nasional VIII sendiri diikuti lebih dari 8.000 pelajar Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. Sebanyak 73 kategori lomba dipertandingkan, dan masing-masing cabang melahirkan 15 pemenang: lima peraih emas, lima peraih perak, dan lima peraih perunggu.
Di tengah gegap gempita kompetisi nasional itu, tangis Fatihah menjadi simbol bahwa di balik setiap medali, ada doa orang tua, kerja keras tanpa lelah, dan keyakinan yang tak pernah padam.
Medali emas itu kini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga kado indah bagi keluarga, sekolah, dan siapa pun yang percaya bahwa usaha yang sungguh-sungguh tak pernah mengkhianati hasil. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments