Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Air Mata Haru di Ujung Dauroh, Santri Terbaik Raih Predikat Mumtaz

Iklan Landscape Smamda
Air Mata Haru di Ujung Dauroh, Santri Terbaik Raih Predikat Mumtaz
Air Mata Haru di Ujung Dauroh, Santri Terbaik Raih Predikat Mumtaz. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Sebanyak 38 santri resmi dinobatkan sebagai penghafal Al-Qur’an dalam kegiatan dauroh yang diselenggarakan Pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo. Program intensif yang berlangsung selama 20 hari, mulai 25 Januari hingga 14 Februari, menjadi momentum penuh haru, perjuangan, dan kebanggaan bagi keluarga besar pesantren.

Dauroh Al-Qur’an ini dirancang sebagai program percepatan hafalan dengan sistem seleksi ketat dan pembinaan intensif. Sejak awal, banyak santri mendaftar dengan semangat tinggi untuk mengikuti proses seleksi.

Tahapan seleksi meliputi tes bacaan (tahsin), kelancaran hafalan, kesiapan mental, serta komitmen mengikuti karantina hafalan. Setelah melalui serangkaian tahapan tersebut, terpilih 38 santri terbaik yang berhak mengikuti dauroh hingga selesai.

Selama 20 hari, para peserta menjalani pembinaan secara disiplin. Aktivitas mereka dipenuhi dengan murojaah, setoran hafalan, evaluasi, serta pembinaan ruhiyah sejak sebelum Subuh hingga malam hari.

Program ini tidak hanya menguji kekuatan hafalan, tetapi juga melatih ketahanan fisik, kestabilan emosi, serta keikhlasan dalam berjuang bersama Kalamullah. Hasilnya, 38 santri berhasil menyelesaikan program dengan capaian yang membanggakan.

Suasana haru terasa saat prosesi penutupan dan pengumuman santri terbaik. Tidak hanya santri yang meneteskan air mata, para ustaz dan ustazah pendamping pun turut terharu menyaksikan hasil perjuangan tersebut.

Sekretaris kegiatan, Elsa Darliana, S.E., menyampaikan rasa bangga dapat terlibat dalam program ini. Ia menjelaskan bahwa penetapan santri terbaik dilakukan secara selektif melalui diskusi dewan asatiz dengan mempertimbangkan capaian hafalan, adab (attitude), kesungguhan, kedisiplinan, serta konsistensi selama dauroh.

Dari hasil pengamatan harian tersebut, ditetapkan dua santri terbaik dengan predikat Mumtaz.

Untuk kategori putri, penghargaan diraih oleh Azizah Khansa Kurnia dengan capaian hafalan 120 halaman. Capaian tersebut mencerminkan ketekunan, kesabaran, serta kualitas hafalan yang terjaga sepanjang proses dauroh.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sementara itu, kategori putra diraih oleh Daraka Naufal Sudarsono dengan capaian hafalan 60 halaman. Ia menunjukkan kesungguhan dalam memaksimalkan waktu dan menjaga konsistensi setoran hafalan hingga berhasil meraih predikat Mumtaz.

Air Mata Haru di Ujung Dauroh, Santri Terbaik Raih Predikat Mumtaz. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Keberhasilan para santri tidak terlepas dari peran para pendamping. Empat ustaz pendamping putra dan tiga ustazah pendamping putri membersamai proses sejak hari pertama. Mereka membimbing bacaan, memberikan motivasi, serta mendampingi santri menghadapi berbagai tantangan selama dauroh.

Beragam ujian seperti kejenuhan, rasa kantuk, hingga tangisan karena beratnya menghafal dalam waktu singkat menjadi bagian dari proses. Melalui penguatan motivasi, pendekatan personal, dan evaluasi intensif, para santri mampu bangkit dan menyelesaikan target hafalan.

Tangisan para pendamping di akhir kegiatan menjadi ungkapan syukur atas pertolongan Allah Swt. serta kebahagiaan melihat para santri menuntaskan perjuangan mereka.

Dauroh ini tidak hanya melahirkan penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk karakter disiplin, tangguh, dan berakhlak. Capaian 38 penghafal Al-Qur’an diharapkan menjadi awal lahirnya generasi Qur’ani yang membawa kebaikan bagi umat, keluarga, dan bangsa.

Semangat tersebut diharapkan terus menjadi tradisi kebaikan di Pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo serta menginspirasi lebih banyak santri untuk mencintai dan menghafal Al-Qur’an dengan keikhlasan dan kesungguhan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu