
PWMU.CO – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr Tri Hastuti Nur Rochimah, menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antarnegara ASEAN untuk membangun masyarakat sipil yang inklusif dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan dalam pidatonya pada simposium internasional “Anchoring ASEAN’s Future in Shared Wisdom: Empowering Communities for an Inclusive and Sustainable Civilisation” yang diselenggarakan oleh Institute of Islamic Understanding Malaysia (IKIM) dan Wadah Malaysia, Kamis (26/6/2025), di Tamu Hotel and Suites, Jalan Raja Abdullah, Kuala Lumpur.
Dalam forum istimewa tersebut, Dr Tri Hastuti berbagi panggung bersama akademisi terkemuka Prof Dr Syed Farid Alatas dari National University of Singapore (NUS), dengan moderator Dr Muhammad Hisyam bin Muhammad, Direktur Pusat Kajian Ekonomi dan Kemasyarakatan IKIM.
Tri Hastuti membuka presentasinya dengan menyoroti berbagai tantangan yang tengah dihadapi kawasan ASEAN. Ia menyebutkan bahwa sejumlah negara ASEAN masih bergulat dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat, kemiskinan, ketimpangan pendapatan, keterbatasan layanan kesehatan di daerah terpencil, serta rendahnya partisipasi perempuan dan kelompok minoritas dalam pengambilan kebijakan publik.
“Kekerasan terhadap perempuan dan anak belum mendapat perhatian serius. Angka putus sekolah dan keterbatasan dalam mengadopsi teknologi baru seperti kecerdasan buatan juga masih menjadi tantangan,” ujarnya.
Tak hanya itu, perubahan iklim, dinamika geopolitik antara kekuatan besar dunia, serta tantangan dalam menjaga stabilitas regional turut menjadi faktor penting yang perlu direspon dengan kerja kolektif.
Menghidupkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal
Tri Hastuti menekankan pentingnya mengangkat kembali nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan masyarakat ASEAN. Ia menyebut praktik gotong royong, infaq, sedekah, wakaf, penghormatan kepada orang tua, pelestarian lingkungan, hingga partisipasi masyarakat adat dan kelompok terpinggirkan sebagai fondasi kuat untuk membangun peradaban yang manusiawi.
“Keberagaman adalah sunnatullah, hukum alam yang harus dirayakan bersama, bukan ditakuti. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam proses pembangunan karena identitasnya,” tegasnya.
Dalam konteks Islam, Aisyiyah memandang pembangunan berkelanjutan sebagai upaya jangka panjang yang tidak hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan lintas generasi.
Peran Strategis NGO dan Akademisi
Tri Hastuti menyampaikan bahwa Non Government Organization (NGO) memiliki peran strategis dalam menggerakkan perubahan dari akar rumput. “Inisiatif yang dipimpin masyarakat sering kali lebih efektif, berkelanjutan, dan relevan secara budaya. Mereka tahu tantangan lokal dan punya komitmen kuat,” jelasnya.
Ia juga mengajak kalangan akademisi untuk berperan aktif dalam penelitian, advokasi kebijakan, pelatihan masyarakat, serta memperkuat suara kelompok terpinggirkan.
“Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan akademisi adalah kunci. Harus ada kemitraan yang dibangun di atas kepercayaan, transparansi, dan semangat kolektif,” imbuhnya.
Menyusun Strategi ASEAN
Dalam forum yang dihadiri oleh para pakar dan pemimpin masyarakat sipil dari berbagai negara ASEAN ini, Tri Hastuti juga mengusulkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya melalui penguatan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASCC), berbagi praktik baik lintas negara, serta menyelaraskan kebijakan nasional dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Pemberdayaan kelompok rentan seperti perempuan, pemuda, penyandang disabilitas harus menjadi prioritas. Kita juga perlu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas partisipasi dan keterlibatan publik,” tandasnya.
Meski dihadapkan pada tantangan koordinasi antarnegara, perbedaan bahasa, serta keterbatasan sumber daya, Tri Hastuti optimistis bahwa melalui kerja bersama yang berbasis nilai, inklusivitas, dan keberlanjutan, masyarakat sipil ASEAN dapat menjadi kekuatan transformatif.
“Forum ini penting untuk membangun peradaban ASEAN yang adil, setara, dan bermartabat. Mari kita jadikan kerja kolaboratif sebagai jalan menuju masa depan bersama,” pungkasnya. (*)
Penulis M Tanwirul Huda Editor Azrohal Hasan





0 Tanggapan
Empty Comments