Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya menggelar kegiatan Assembly Learning yang dikemas dalam pertunjukan kesenian ludruk, tari, dan lagu pada Jumat (14/11/2025).
Kegiatan yang berlangsung di hall lantai tiga sekolah tersebut disulap menjadi panggung pertunjukan lengkap dengan tata cahaya yang mendukung. Seluruh siswa kelas IV terlibat dalam kegiatan ini.
Assembly Learning merupakan bentuk pembelajaran yang mendorong siswa mengekspresikan kreativitas melalui seni, gerak tari, dan lagu, yang disusun dalam adegan-adegan edukatif sesuai tema pembelajaran.
Mengangkat judul “Ayo Ludrukan Sarip Tambak Oso”, kegiatan ini menyajikan ludruk ala siswa kreatif yang memadukan unsur tari dan lagu.
Cerita dan alur adegan disusun oleh tim teaching guru kelas IV. Dalam budaya ludruk, Sarip Tambak Oso dikenal sebagai legenda rakyat Madura yang mengisahkan perjuangan seorang pemuda melawan kesewenangan penjajah Belanda serta konflik sosial yang melingkupinya.
Meski umumnya cerita Sarip berakhir dengan kematiannya akibat tembakan serdadu Belanda, dalam versi ini Sarip digambarkan berhasil selamat dan mampu menikam serdadu Belanda dengan belatinya.
Koordinator Guru Kelas IV, Nuris Suciati, S.S., menjelaskan bahwa kegiatan ini memerlukan persiapan sekitar dua pekan.
“Siswa terlibat aktif dalam semua proses, mulai dari pembagian peran, pemilihan tema, penyusunan cerita menjadi naskah dialog, memilih tarian pendukung, hingga merekam suara atau melakukan dubbing,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang menampilkan peran masing-masing secara bergantian sesuai skenario.
“Semua siswa dalam kelompok menampilkan peran masing-masing secara bergantian sesuai dengan skenario dan dialog alur cerita,” tambahnya.
Menurutnya, selain menghibur, setiap kelompok menyampaikan pesan moral melalui pagelaran ludruk, seperti keberanian melawan ketidakadilan, kepedulian terhadap sesama, serta bakti kepada orang tua.
Kepala SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengapresiasi antusiasme para siswa.
“Anak-anak tampil maksimal dan penuh percaya diri. Ini luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan mengenalkan budaya Jawa Timur, terutama kesenian ludruk.
“Cintailah budaya kita sebelum mencintai budaya orang lain,” pesannya.
Melalui pembelajaran ini, Ely berharap kemampuan literasi dan pengetahuan siswa tentang budaya semakin meningkat.
“Semoga menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus pembelajaran yang bermakna,” harapnya.
Salah satu siswa, Adara Odelina Zahra, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.
“Acaranya seru sekali. Aku senang bisa tampil bersama teman-teman dan melihat penampilan kelompok lain. Aku juga jadi tahu apa itu kesenian ludruk,” ungkapnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments