Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro menggelar Kajian Keislaman bertema Memaknai Hakikat Intelektual dari Pesan KH Ahmad Dahlan. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula STIT Muhammadiyah Bojonegoro pada Rabu (7/1/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memaknai hakikat intelektual dari sosok pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Kajian ini menghadirkan narasumber Ahmad Syauqi Fuady, dosen STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Dalam sesi materi, Ahmad Syauqi Fuady menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan adalah sosok pembaru Islam yang memiliki keunikan di antara para pembaru Islam lainnya.
Sosok KH Ahmad Dahlan mungkin tidak mewariskan kitab-kitab tebal berisi teori sosial. Namun, beliau mewariskan peradaban nyata melalui sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.
Jika membedah jejak pemikiran KH Ahmad Dahlan, beliau hanya meninggalkan naskah pidato pada Kongres Muhammadiyah ke-12 yang kemudian dikenal dengan judul Tali Pengikat Hidup. Dari naskah pidato ini terdapat sintesis intelektual yang sangat kuat dan relevan. Bagi Kiai Dahlan, seorang intelektual atau manusia yang tercerahkan harus memiliki tiga pilar intelektual.
Pilar pertama adalah akal yang sehat. Akal yang sehat dapat memilih segala hal dengan cermat dan penuh pertimbangan, kemudian memegang teguh pilihannya tersebut.
Kiai Dahlan mendirikan sekolah bukan sekadar untuk mengejar ijazah, melainkan untuk melatih akal agar mampu membedakan hak dan batil. Ia mengibaratkan akal manusia seperti biji yang harus ditanam dan dirawat. “Pupuk” dari akal tersebut adalah ilmu pengetahuan.
Seorang intelektual sejati tidak boleh merasa paling benar. Merasa paling benar justru menutup pintu pengetahuan baru. Maka, keterbukaan pikiran (open-minded) dan kemampuan berpikir kritis sesuai fakta menjadi ciri utama akal yang sehat.
Hati yang Suci
Pilar kedua adalah hati yang suci. Hati yang suci memiliki sifat dasar, yakni tidak terikat pada gemerlap dunia. Oleh karena itu, orang yang berakal harus menjaga diri dari bahaya akal yang merusak hati.
Akal yang cerdas tanpa kontrol moral yang kuat sangat berbahaya. Akal dapat digunakan untuk memanipulasi, menyiasati aturan, hingga melakukan korupsi secara canggih. Inilah alasan Kiai Dahlan menekankan pentingnya hati yang bersih dari sifat rakus dan nafsu duniawi.
Beliau mengibaratkan ilmu sebagai cahaya dan hati sebagai cermin. Jika cermin hati tertutup noda kemaksiatan, cahaya kebenaran tidak akan terpantul dalam perilaku. Hati yang suci memastikan bahwa kecerdasan otak digunakan untuk kemuliaan, bukan kehancuran.
Etos Welah Asih
Pilar ketiga adalah etos welas asih. Setiap perbuatan manusia dalam kehidupan harus didasarkan pada belas kasih. Manusia tidak akan memperoleh keutamaan jika tidak memiliki belas kasih. Inilah fungsi sosial seorang intelektual.
Melalui PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), Kiai Dahlan mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi solusi bagi persoalan kemanusiaan. Karakter intelektual Muhammadiyah bersifat inklusif, menolong tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Hal ini terbukti di wilayah Indonesia Timur, di mana universitas Muhammadiyah melayani mayoritas mahasiswa non-Muslim dengan penuh kasih sayang.
“Intelektualisme ala Ahmad Dahlan merupakan perpaduan antara kecerdasan berpikir, kesucian hati, dan keberanian untuk turun tangan membantu sesama,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments