Muhammadiyah sebagai organisasi yang telah berusia 113 tahun tentu berbagai badai gelombang ujian telah dilalui. Merujuk peristiwa sejarah selama Muhammadiyah berdiri ada beberapa kejadian yang membuat Muhammadiyah harus bersikap, salah satu contohnya ketika Muhammadiyah mencetuskan Kepribadian Muhammadiyah.
Permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah era akhir-akhir ini adalah Penetrasi, Infiltrasi, dan Kompetisi Ideologi Gerakan Lain. Inti pokok permasalahan ini adalah masuknya ideologi gerakan lain ke dalam Muhammadiyah yang dilakukan secara halus, sistematis, dan terstruktur yang mengganggu Persyarikatan Muhammadiyah.
Kader Muhammadiyah kadang silau dengan pola yang dilakukan gerakan lain, seperti pola kajian, pola pengkaderan, pola pendekatan, dan pola memenuhi keinginan warga. Kader kita banyak yang terhipnotis dengan pola yang mereka lakukan, sehingga kader kita ikut terseret.
Sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah menjaga dan merawat kader kita supaya tidak ikut dalam gerakan lain. Pimpinan dan Kader Terbaik harus berkomitmen dan bertanggung jawab menjaga kader. Kita perlu membuat pola gerakan yang sesuai dengan kondisi kekinian. Kalau benteng kita kuat maka tidak akan mudah digoyah oleh ideologi gerakan lain.
Penetrasi dan Infiltrasi Ideologi di luar Muhammadiyah tidak hanya masuk dalam hal kader, tetapi juga sudah masuk di sekolah/madrasah, rumah sakit, dan masjid Muhammadiyah.
Penulis percaya bahwa semua lapisan pimpinan Muhammadiyah sudah melakukan upaya untuk menjaganya.
Dalam kongres Cabang Ranting Masjid di Banjarmasin ini sangat jelas bagaimana persoalan yang dihadapi akar rumput persyarikatan.
Kongres ini memberikan wacana dan kesempatan bagi PCM, PRM, dan Masjid untuk saling sharing masalah yang ada dan solusi yang sudah dilakukan. Kongres ini menjadi bermakna karena kita tahu penyakit kita dan solusi yang kita lakukan.
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments