“Halah jangan sok bijak, wong kamu juga tidak bener, suka nyinyir dan menyesatkan…,” tulis seorang teman dunia maya. Kalimatnya pendek, tanpa tanda seru berlebih, tapi cukup untuk membuat jeda panjang di kepala.
Saya berhenti sejenak. Tidak langsung membalas. Jari yang tadi lincah mengetik mendadak kaku. Kalimat itu saya baca ulang, lalu saya biarkan berdiam. Dan setelah ditimbang dengan jujur—iya, ada benarnya juga.
Saya memang tidak baik. Bahkan mungkin jauh dari itu. Masih sering nyinyir, terutama ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan cara pandang saya.
Masih mudah tergelincir pada nada yang merendahkan, seolah-olah saya berdiri di tempat yang lebih tinggi. Masih suka merasa lebih paham, padahal seringnya hanya lebih lantang.
Mengaku resah atas keadaan, tapi resah itu tak selalu melahirkan kebeningan. Kadang justru melahirkan luka baru—pada orang lain, dan pada diri sendiri.
Saya teringat ilustrasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari: betapa mudahnya kita menasihati orang lain untuk sabar, padahal kita sendiri marah hanya karena antrean panjang atau komentar singkat yang tidak kita sukai. Kita pandai menunjuk arah, tetapi lupa bahwa kaki kita sendiri sering melangkah sembarang.
Maka saya tidak ingin membantah. Tidak juga ingin membela diri. Sebab membela diri sering kali hanya cara halus untuk mempertahankan kebiasaan buruk. Yang lebih jujur adalah mengaku: iya, aku belum baik.
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia tentang kecenderungan ini: “Dan janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini seperti cermin. Ia tidak melarang kita berbuat baik, tetapi melarang kita merasa sudah baik. Sebab merasa suci sering kali menjadi pintu masuk bagi kesombongan yang halus—kesombongan yang bersembunyi di balik nasihat, kritik, bahkan dalih amar ma’ruf.
Dan mungkin di situlah satu-satunya harapan. Bukan pada klaim kebajikan, tetapi pada kesadaran akan kekurangan. Saya tidak ingin sok bijak.
Sebab kebijaksanaan tidak lahir dari kalimat-kalimat rapi, apalagi dari nasihat yang disampaikan dengan nada menang.
Kebijaksanaan lahir dari kegagalan yang diakui, dari rasa malu yang dipelihara, dari kesediaan untuk dikoreksi.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini tidak memuliakan kesalahan, tetapi memuliakan kejujuran setelah kesalahan. Bahwa jatuh itu manusiawi, tetapi menolak bangkit itulah masalahnya. Bahwa salah bukan aib terbesar; aib terbesar adalah merasa tidak mungkin salah.
Saya berharap satu hal saja: semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak mencabut kepekaan ini. Kepekaan untuk merasa bersalah.
Kepekaan untuk tersentak ketika diingatkan. Kepekaan untuk tahu bahwa kata-kata bisa melukai dan menyesatkan, bahkan ketika niatnya ingin meluruskan.
Sebab lisan dan tulisan bukan perkara ringan. Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Di era media sosial, ayat ini terasa semakin dekat. Setiap kalimat yang kita tulis—status, komentar, sindiran—bukan hanya terbaca oleh manusia, tetapi juga tercatat sebagai jejak moral kita sendiri.
Biarlah saya belum baik. Tapi jangan sampai merasa sudah baik. Biarlah saya jatuh berkali-kali, asal masih mau berdiri dan berbenah.
Bukan menuju citra orang bijak, melainkan menuju kebijakan bersikap: tahu kapan harus bicara, kapan harus diam; tahu kapan menegur, kapan justru menahan diri.
Rasulullah saw pernah bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sederhana, tetapi berat. Sebab diam sering kali lebih sulit daripada berbicara. Diam menuntut kedewasaan, menuntut kerendahan hati, dan menuntut keberanian untuk tidak selalu tampil benar.
Sebab yang paling menyesatkan bukan orang yang salah, melainkan orang yang merasa sudah benar. Dan saya—selama masih bisa berkata “aku belum baik”—barangkali masih diberi kesempatan untuk terus belajar menjadi baik dan lebih baik.
Bukan untuk tampak suci, melainkan untuk semakin jujur pada diri sendiri. Bukan untuk menang dalam perdebatan, melainkan untuk selamat dalam pertanggungjawaban. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments