Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Al-Qur’an, Embun Penyejuk di Padang Hati

Iklan Landscape Smamda
Al-Qur’an, Embun Penyejuk di Padang Hati
foto: quranlight.net
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Pernahkah Anda merasakan heningnya ponsel tanpa kuota internet? Diam, beku, dan terasa tidak berguna. Begitulah gambaran hati manusia ketika ia kosong dari Al-Qur’an.

Bayangkan, ponsel yang canggih dengan fitur lengkap pun akan kehilangan nilainya jika tidak tersambung dengan jaringan. Ia bisa digenggam, dipandang, bahkan dipoles, tetapi tetap tidak memberi manfaat berarti.

Sama halnya dengan hati kita. Tanpa cahaya Al-Qur’an, hati hanya menjadi wadah kosong yang perlahan-lahan terasa kering, gersang, dan rapuh.

“Hati yang penuh Quran” merujuk pada kondisi hati seorang Muslim yang selalu terhubung dengan Al-Quran, baik dalam bacaan, pemahaman, maupun pengamalan kandungannya.

Hati yang demikian akan merasakan ketenangan, kedamaian, dan keimanan yang mendalam. Al-Quran sendiri disebutkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan membacanya dengan hati yang khusyuk akan mendatangkan ketenangan.

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa’: 82).

Hati yang hidup akan mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al-Quran, merasakan kedamaian saat membacanya, dan tergerak untuk mengamalkan kandungannya.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah sumber energi, penuntun arah, sekaligus penguat jiwa. Setiap ayatnya adalah aliran hidup yang menyirami dahaga batin.

Namun sering kali kita lebih sibuk mengisi ponsel dengan kuota, dibanding mengisi hati dengan firman Allah. Kita rela keluar rumah larut malam demi mencari sinyal, tetapi kadang enggan membuka mushaf walau hanya lima menit.

Tanpa kita sadari, hati yang jauh dari Al-Qur’an akan kehilangan getarannya. Ia tetap berdetak, tetapi tak lagi hidup. Ia tetap berfungsi, tetapi tak lagi peka.

Hati yang kosong akan mudah dihinggapi resah, gelisah, dan kehilangan arah. Lalu kita heran mengapa hidup terasa hampa, padahal jawabannya jelas: kita membiarkan hati kita sunyi dari kalam Ilahi.

Seperti ponsel yang tak berguna tanpa kuota, begitulah manusia tanpa Al-Qur’an. Kita bisa berjalan, bekerja, bahkan tertawa, tetapi jiwa kita tetap terasa kosong.

Maka jangan biarkan hatimu sunyi. Jangan biarkan ia mati perlahan karena haus akan firman Allah. Dekaplah Al-Qur’an, bacalah setiap ayatnya, resapilah maknanya.

Sebab hanya dengan itulah hati menemukan cahaya, arah, dan ketenangan yang sejati. Hati memiliki kedudukan yang agung, ia merupakan salah satu rahasia Allah diatas bumi ini, sebagaimana sang penyair berkata ;

للقلب سرٌ ليس يعرف قدره * إلا الذي أتاه للإنسان

Hati memiliki rahasia yang tidak bisa dipahami keagungannya…
Kecuali (Allah) Dzat yang menganugerahkannya kepada manusia…

Iklan Landscape UM SURABAYA

Oleh karena itu, dalam syariat islam ini, banyak terdapat dalil pengagungan terhadap keagungan hati, dan andai dalam syariat islam tidak terdapat dalil pengagungan terhadapnya kecuali satu hadis saja, maka hal itu telah cukup.

Hadis itu terdapat dalam Shahihain dari hadis riwayat Al Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda;

(ألا وإن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا و هي القلب )

“Ingatlah ,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati” .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata ; “Adapun makna ketakwaan hati terhadap Allah adalah penghambaan hati yang hanya tertuju kepada-Nya dengan setinggi-tingginya penghambaan kepada-Nya, dan penghambaan hati ini adalah dengan memberikan setinggi-tingginya kecintaan, sikap tunduk dan keikhlasan, inilah agama Ibrahim al khalil ‘alaihissalaam, dan ini semua merupakan penjelasan bahwa ibadah hati adalah inti dari semua ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam;

“Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad ,ia adalah hati.”(Majmu’ al fatawa 18/485)

Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati Al-Qur’an adalah kelembutan dan kesucian hati.

Sebaliknya, penyakit terbesar yang menimpa orang yang berpaling dari Al-Qur’an adalah kematian dan kerasnya hati.

Itu sebabnya, nasihat quraniyah hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang menghayati Al-Qur’an, atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya dengannya, sebagaimana firman Allah ta’ala

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ} (37) سورة ق

“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya (QS Qaaf ; 37)

Allah Ta’ala juga telah memperingatkan dampak negatif berpaling dari Al Quran yaitu diharamkannya hati dari cahaya wahyu (petunjuk Al-Qur’an), sebagaimana firman-Nya ;

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24) سورة محمد

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ,ataukah hati mereka sudah terkunci ?” (QS Muhammad ; 24). (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu