Al-Walid bin al-Mughirah merupakan bangsawan sekaligus pemimpin Bani Makhzum yang sangat disegani karena kekayaan dan kecerdasannya.
Ia menyandang julukan Al-Wahid karena kemewahan harta benda yang dimilikinya.
Sebelum datangnya Islam, Walid dikenal sebagai salah satu hakim dan penguasa berpengaruh di tanah Arab.
Namun sangat disayangkan, ia menjadi salah satu tokoh Quraisy yang paling gigih menentang dakwah Nabi Muhammad saw. di Makkah, bersama tiga penentang utama lainnya, yaitu:
1. Abu Jahal (Amr bin Hisyam), sepupu jauh Nabi Muhammad dan musuh terbesar Islam dari suku Quraisy.
Abu Jahal terkenal sangat kejam ketika menyiksa pengikut Nabi, utamanya pengikut dari kalangan budak. Ia juga menjadi aktor intelektual di balik berbagai upaya pembunuhan Nabi Muhammad serta pemboikotan Bani Hashim.
2. Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muththalib), paman Nabi Muhammad SAW yang secara terang-terangan memusuhi keponakannya sendiri.
Abu Lahab sering membuntuti Nabi saat berdakwah, sambil menyebarkan fitnah dan menyebut Nabi sebagai penyihir atau pembohong.
Nama Abu Lahab diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai orang yang celaka.
3. Abu Sufyan bin Harb, pemimpin utama Bani Umayyah sekaligus tokoh sentral kaum Quraisy dalam urusan perniagaan dan kemasyarakatan di Makkah.
Sebagai kepala klan Bani Abdu Syams—salah satu faksi terkaya di suku Quraisy—ia dikenal sebagai saudagar besar yang sangat terpandang.
Kepiawaiannya terbukti saat ia memimpin kabilah dagang Quraisy yang menjadi pilar utama perekonomian Makkah.
Merupakan tokoh Quraisy yang sangat gigih merintangi dakwah Nabi SAW dan memimpin perlawanan kafir Quraisy dalam berbagai perang melawan Muslim, sebelum akhirnya masuk Islam.
Abu Sufyan merupakan tokoh kunci dalam perlawanan bersenjata melawan umat Islam, di mana ia memimpin langsung pasukan musyrik pada Perang Uhud dan Perang Khandaq.
Titik balik hidupnya terjadi saat peristiwa Pembebasan Makkah (Fathu Makkah); ia akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam.
Mereka menjadi penentang dakwah Rasulullah saw bukan semata-mata ketidaksukaan pribadi, tetapi sebagai upaya untuk mempertahankan status quo, kekayaan, dan tradisi penyembahan berhala yang menjadi sumber keuangan dan kekuasaan mereka di Makkah.
***
Al-Walid bin al-Mughirah merupakan pemimpin kaum musyrikin yang merasa bahwa “kerasulan” adalah sebuah jabatan mulia yang seharusnya ia sandang, bukan Nabi Muhammad saw.
Ia dikenal sebagai sosok yang merasa memiliki keistimewaan mutlak karena hidup bergelimang kekayaan, dikaruniai putra-putra yang terpandang, serta menikmati berbagai kemudahan duniawi yang menjadikannya simbol kemuliaan di mata kaum Quraisy.
Merespons sikap penentangan Al-Walid terhadap dakwah Nabi Muhammad saw., Allah Swt. menurunkan ayat secara khusus dalam Surah Al-Muddatsir:
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya); maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?” (QS. Al-Muddatsir: 18–20)
Allah mengecam keras tipu muslihat Al-Walid serta membongkar propaganda yang ia sebarkan di kalangan kaum Quraisy, yakni mengatakan bahwa Al-Qur’an hanyalah buatan Muhammad dan sihir yang nyata.
Surah Al-Muddatsir ayat 18–20 menyingkap watak angkuh Al-Walid yang menolak Al-Qur’an.
Setelah berpikir keras mencari celah, ia memutuskan untuk menuduh Al-Qur’an sebagai sihir, yang berujung pada laknat serta ancaman azab yang pedih.
Hal ini menegaskan bahwa pemikiran yang dilandasi kesombongan dan keengganan menerima kebenaran hanya akan berbuah kebinasaan.
Secara khusus, ayat 18 Surah Al-Muddatsir mengisahkan bahwa meskipun Al-Walid telah mendengarkan keindahan Al-Qur’an, ia justru berpikir keras mencari celah untuk mencelanya demi menolak kebenaran tersebut. Pada akhirnya, ia memilih untuk melabeli Al-Qur’an sebagai sihir.
Sedangkan pada ayat 19–20, Allah mengutuk serta melaknat Al-Walid atas kesesatan pikir dan keputusannya menolak wahyu serta menuduhnya sebagai sihir.
Penentangan tersebut kian nyata melalui ekspresi wajah yang masygul (kecut) dan sikap pongah dalam merintangi kebenaran wahyu, yang ironisnya, langkah tersebut justru diikuti oleh kaumnya.





0 Tanggapan
Empty Comments