Di balik sikap oposan yang ditunjukkan oleh Al-Walid, sesungguhnya hatinya menerima dan mengakui kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad saw.
Al-kisah, bahwa suatu hari ia mendengarkan Nabi Muhammad saw. membaca ayat-ayat A-Qur’an.
Keindahan dan kekuatan kalimat-kalimat dalam kitab suci tersebut mampu membuatnya terpesona.
Bahkan, ketika itu ia sempat berpikir keras untuk menerima Islam.
Kabar kegelisahan al-Walid itupun sampai ke telinga Abu Jahal, tokoh Quraisy lain yang dikenal keras menentang dakwah Rasulullah saw.
Dijelaskan oleh Al-Thabari dalam kitab Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an meriwayatkan dialog di antara Al-Walid dengan Abu Jahal yang telah mendatanginya.
Abu Jahal membuka pembicaraan dengan nada membujuk, “Wahai Al-Walid, kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.”
Al-Walid pun menjawab dengan heran, “Bukankah kaum Quraisy tahu bahwa aku adalah orang terkaya di antara mereka? Untuk apa mereka mengumpulkan harta bagiku?”
Menyadari bahwa iming-iming harta tidak mempan, Abu Jahal pun langsung beralih pada tujuan utamanya.
Ia meminta Al-Walid untuk secara terbuka menentang apa yang dibawa oleh Muhammad saw.
“Ucapkanlah sesuatu yang menunjukkan bahwa engkau tidak mendukung apa yang disampaikan Muhammad,” desaknya.
Al-Walid terdiam sejenak, lalu berkata dengan jujur, “Demi Tuhan, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui tentang syair, prosa, dan puisi selain aku. Demi Tuhan, apa yang disampaikan Muhammad tidak serupa dengan semua itu. Sesungguhnya ucapannya manis didengar, indah dirasakan, dan tinggi maknanya. Ia menghancurkan apa yang ada di bawahnya, dan tidak ada yang mampu mengatasinya.”
Ucapan ini mengejutkan Abu Jahal. Ia menyadari bahwa jika Al-Walid terus berbicara demikian, pengaruhnya di kalangan kaum Quraisy dapat menggoyahkan penentangan terhadap Islam. Oleh karena itu, ia segera memberikan tekanan kembali.
“Kaummu tidak akan rela sampai engkau mengucapkan sesuatu yang menolak Muhammad,” kata Abu Jahal.
Al-Walid meminta waktu untuk berpikir, sebab dirinya dilanda pergolakan batin.
Di satu sisi, hatinya mengakui bahwa Al-Quran bukanlah perkataan manusia. Di sisi lain, ambisi maupun gengsi dan tekanan dari kaumnya menuntutnya untuk menolak kebenaran itu.
Pada akhirnya, Al-Walid melontarkan sebuah pernyataan yang bukan lahir dari keyakinan maupun nuraninya, melainkan murni demi memuaskan nafsu pribadi dan tekanan sosial.
Ia pun berkata, “Sesungguhnya apa yang disampaikan Muhammad itu hanyalah sihir belaka.”
Dengan pernyataan itu, ia berharap bisa memalingkan orang-orang dari Al-Quran, meski dalam hatinya sendiri tahu bahwa yang didengarnya bukanlah sihir, melainkan firman Tuhan dan kebenaran yang nyata.
Sejak saat itu, raut wajah Al-Walid kian keruh. Batinnya terus bergejolak karena ia sadar keputusannya telah mengkhianati nuraninya sendiri.
Namun, ia tak lagi mampu menarik ucapannya; keangkuhan dan ambisinya telah membelenggu dirinya terlalu kuat. (bersambung).
Allah pun memberikan peringatan keras kepadanya. Al-Qur’an mengabadikan ancaman siksa neraka Saqar bagi Al-Walid (QS. al-Muddatstsir [74]: 26).
Riwayat lain menyebutkan bahwa di penghujung hidupnya, kekayaan yang dahulu ia banggakan perlahan terkikis hingga saat ia meninggal dalam keadaan miskin.***





0 Tanggapan
Empty Comments