Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Al-Walid bin Al-Mughirah Mengingkari Pengakuan Hati (2)

Iklan Landscape Smamda
Al-Walid bin Al-Mughirah Mengingkari Pengakuan Hati (2)
Oleh : Dr. Ajang Kusmana, S.Ag., M.Ag Dosen AIK UMM/Ketua LDK PDM Kab. Malang
pwmu.co -

Menariknya, meskipun al-Walid bersikeras menolak Islam, tiga dari sebelas putra yang dimilikinya justru menjemput hidayah.

Mereka adalah al-Walid bin al-Walid, Hisyam bin al-Walid, dan Khalid bin al-Walid.

Khalid bin al-Walid kelak tercatat sebagai salah satu tokoh agung dalam sejarah Islam.

Sebelum memeluk Islam, ia merupakan panglima kavaleri (pasukan berkuda) Quraisy yang berhasil membalikkan situasi pada Perang Uhud hingga membawa kemenangan bagi kaum musyrikin.

Namun, setelah bersyahadat, ia mewakafkan seluruh hidupnya demi panji Islam hingga ia dijuluki Saifullah, Sang Pedang Allah.

Tak ada satu pun peperangan besar yang dipimpinnya kecuali berakhir dengan kegemilangan.

Prestasi yang nyaris tanpa cela ini sempat membuat Khalifah Umar bin Khattab memberhentikannya dari jabatan panglima perang.

Keputusan tersebut diambil bukan karena adanya pengkhianatan atau amarah, melainkan demi menjaga akidah umat.

Umar khawatir rakyat mulai menyandarkan kemenangan sepenuhnya kepada sosok Khalid, hingga melupakan hakikat bahwa kemenangan hanyalah milik Allah Azza wa Jalla.

Selain itu, kebijakan ini diambil untuk menghindarkan Khalid dari fitnah kekaguman yang berlebihan.

Umar melihat adanya kecenderungan publik untuk ‘mendewakan’ Khalid, sebuah kondisi yang berpotensi memicu kultus individu yang berbahaya.

Kisah al-Walid bin al-Mughirah menyisipkan pelajaran yang mendalam bagi siapa pun.

Ia menjadi cermin bagi seseorang yang sejatinya mengenali kebenaran, mengagumi keindahan kalam Ilahi, serta mengakui mukjizat Nabi Muhammad SAW, namun tetap memilih berpaling.

Ia lebih memilih tunduk pada tekanan lingkungan, gengsi jabatan, serta status sosial daripada mengikuti cahaya kebenaran.

Menjadi pengingat bahwa hidayah bukan sekadar terkait kecerdasan, status dan atribut sosial.

Lebih dari itu adalah tentang kerendahan hati untuk tunduk kepada kebenaran, meskipun itu berarti harus kehilangan status, kedudukan dan atribut kehormatan sosialnya.

Kisah Walid bin Al-Mughirah bukanlah alur peristiwa sejarah yang tanpa makna. Di belakangnya banyak mengandung hikmah tentang perjalanan hidup seseorang yang berpapasan dengan hidayah kebenaran.

Berikut beberapa hikmah yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Al-Walid yang pernah mengingkari pengakuan hati nuraninya tentang kebenaran Islam:

Pertama, jangan mudah tertipu oleh penampilan.

Al-Walid bin Al-Mughirah  adalah sosok cerdas, fasih berbicara dan punya reputasi baik di kalangan Quraisy.

Namun, ia memilih untuk mengingkari hati sanubarinya dan hidup dalam kepalsuan demi mengejar prestise sosial.

Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah terpukau oleh mereka yang fasih bicara tentang kebaikan, tetapi perilakunya justru bertolak belakang.

Kedua, memanipulasi fakta.

Al-Walid berperan dramaturgi, antara pengakuan diri dan  perilaku sosialnya berbeda.

Ia bahkan secara sengaja memutarbalikkan fakta dengan menuduh bahwa risalah yang disampaikan Rasulullah Muhammad saw. hanyalah sihir belaka.

Ketiga, bahaya mengikuti hawa nafsu dan tekanan sosial

Al-Walid sebenarnya mengakui kebenaran Al-Qur’an, namun ia memilih menyebutnya “sihir” karena tekanan Abu Jahal dan pemuka Quraisy lainnya.

Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak mengorbankan iman demi mengejar keridaan manusia atau karena takut kehilangan jabatan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu