Keempat, kesombongan menghalangi kebenaran (hidayah).
Al-Walid sadar bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia, tetapi ia lebih memilih menolak beriman karena takut kehilangan follower, popularitas, kekayaan, dan pengaruh di kalangan Quraisy.
Kesombongan dan keangkuhan duniawi tidak jarang menjadi penghalang terbesar seseorang menerima kebenaran.
Kelima, hidayah itu hak prerogatif Allah Ta’ala
Meskipun Al-Walid adalah orang yang cerdas, disegani, dan sangat paham sastra Arab sehingga ia pun mengakui keindahan dan kebenaran Al-Qur’an.
Namun hal ini tidak menjamin untuk mendapat hidayah.
Kecerdasan intelektual tidak serta-merta mengantarkan seseorang pada keimanan tanpa adanya hidayah dari Allah Ta’ala.
Agama bukan sekedar di kepala, namun kolaborasi antara akal, hati dan jiwa.
Keenam, kebenaran tak pernah bisa dihentikan
Meskipun Al-Walid berupaya keras menjatuhkan Nabi Muhammad saw, Islam tetap menyebar luas.
Ini menjadi bukti bahwa kebenaran, meski ditentang dengan keras, ia tetap menang.
Bahkan kini Islam diakui sebagai agama dengan pertumbuhan dan penyebaran tercepat di dunia.
Ketujuh, pentingnya ketulusan
Kemunafikan adalah sifat yang dibenci Allah Ta’ala.
Al-Walid adalah contoh “ahli munafik” yang berpura-pura keras menentang karena kepentingan duniawi.
Perilakunya yang munafik—memuji secara rahasia namun mencela di depan umum—membuatnya dikecam dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 11-25.
Kedelapan, musyrik yang keras penentangannya
Penting untuk dicatat bahwa istilah “munafik” dalam sejarah Islam merujuk pada pihak yang berpura-pura Islam di Madinah (setelah Hijrah).
Karena Al-Walid hidup di Mekah dan tidak pernah menyatakan syahadat, ia lebih tepat digolongkan sebagai musyrik yang keras penentangannya (staunch enemy) atau orang yang munafik secara perilaku (mengakui kebenaran tapi berbuat sebaliknya).
Kesembilan, pentingnya kejujuran spiritual
Al Walid mengetahui kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad saw, tapi ia memilih untuk mengingkarinya demi kepentingan dunia.
Kejujuran dalam mencari dan menerima kebenaran adalah fondasi iman yang sejati.
Kesepuluh, harta dan keturunan tidak menjamin keselamatan
Al-Walid merasa dirinya paling mulia dengan harta dan anak yang banyak (termasuk Khalid bin Walid yang kelak masuk Islam).
Namun, di akhir hayatnya, Allah berjanji menghancurkan kejayaannya dan menyiksanya di neraka Saqar. (QS. Al-Muddatstsir: 26).
Kesebelas, akibat menentang ayat-ayat Allah Azza wa Jalla
Orang yang menentang kebenaran setelah mengetahuinya akan mendapatkan azab yang pedih berupa su’ul khatimah dan tempat kembali di neraka.
Allah Ta’ala bahkan telah menetapkan neraka Saqar bagi Al-Walid sebagai balasan atas fitnahnya yang menyebut Al-Qur’an sebagai sihir kepada kaumnya.
Kisah Walid bin al-Mughirah adalah peringatan bahwa lecerdasan, pengaruh, dan posisi tinggi tidak menjamin bisa menerima kebenaran.
Keikhlasan hati untuk menerima petunjuk dan keberanian untuk tunduk pada kebenaran adalah modal untuk menerima hidayah meski harus menanggalkan ego dan status.
Kisah Al-Walid bin Mughirah menjadi peringatan bagi umat Islam untuk selalu menjaga hati, menghindari sifat sombong, membuang ego diri, dan tidak menukar iman dengan kenikmatan duniawi yang sementara.***





0 Tanggapan
Empty Comments