Surabaya, sebagai episentrum Jawa Timur, kini berdiri di sebuah titik krusial yang kita sebut sebagai “Simpang Urban”.
Secara geometris, persimpangan adalah titik temu dari berbagai garis lurus yang memiliki arah dan tujuan berbeda.
Namun, dalam realitas sosial, Simpang Urban adalah ruang kontestasi yang kompleks; di sana bertemu arus modernitas yang deras, himpunan kemiskinan struktural yang belum terpecahkan, hingga variabel ketidakpastian nilai-nilai moral.
Sebagai mahasiswi matematika di Universitas Negeri Surabaya sekaligus pengampu amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Sukomanunggal, saya melihat fenomena ini bukan sekadar kekacauan, melainkan sebuah sistem persamaan linear yang memerlukan solusi akurat.
Di sinilah Muhammadiyah Jawa Timur hadir sebagai operator utama yang menyelaraskan variabel-variabel tersebut menuju sebuah harmoni kemajuan.
Logika Muhammadiyah dalam Dinamika Urban
Dalam ilmu matematika, setiap masalah memiliki struktur. Demikian pula dengan masalah perkotaan di Jawa Timur.
Pertumbuhan penduduk yang eksponensial di Surabaya dan sekitarnya seringkali tidak dibarengi dengan ketersediaan ruang sosial yang sehat.
Muhammadiyah Jawa Timur, melalui gerakannya yang sistematis, telah lama mengadopsi prinsip “logika yang membumi”.
Sejak Kiai Ahmad Dahlan merumuskan Teologi Al-Ma’un, Muhammadiyah tidak pernah bergerak secara acak. Gerakan ini memiliki pola (pattern) yang jelas: pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial.
Di Simpang Urban, peran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menjadi sangat vital sebagai “titik pusat” (origin point) dalam diagram kartesius dakwah.
PWM Jawa Timur mampu mengintegrasikan kekuatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang besar—mulai dari rumah sakit hingga universitas—sebagai alat untuk melakukan intervensi sosial yang terukur.
Bagi saya sebagai mahasiswi matematika, keberhasilan Muhammadiyah mengelola ribuan instansi ini adalah sebuah bukti keunggulan manajemen logistik dan statistika yang presisi.
Muhammadiyah tidak hanya bicara soal kuantitas jamaah, melainkan kualitas dampak yang dapat dihitung (measurable impact).
Sukomanunggal: Miniatur Persoalan dan Optimisme
Bergerak ke skala yang lebih mikro, wilayah Sukomanunggal tempat saya mengabdi adalah representasi nyata dari dinamika Simpang Urban.
Sukomanunggal merupakan kawasan yang unik; perpaduan antara area pemukiman padat, zona industri, hingga kawasan komersial yang sedang berkembang. Di tengah heterogenitas ini, PCNA Sukomanunggal berdiri sebagai agen perubahan bagi perempuan muda.
Sebagai Ketua PCNA, saya menyadari bahwa tantangan di wilayah urban memerlukan pendekatan yang berbeda dari wilayah rural.
Perempuan muda di perkotaan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis yang lebih tinggi. Di sinilah Nasyiatul Aisyiyah berperan sebagai “konstanta pendamping”.
Kami tidak hanya mengadakan kajian rutin, tetapi juga masuk ke dalam variabel-variabel kehidupan mereka, seperti edukasi kesehatan reproduksi, penguatan ekonomi mandiri, hingga literasi digital.
Dalam perspektif matematika, jika masyarakat Sukomanunggal adalah sebuah “Himpunan Semesta”, maka tugas kami di PCNA adalah memastikan tidak ada irisan (intersection) negatif yang merugikan masa depan kader, seperti stunting atau degradasi moral.
Kami menggunakan pendekatan yang presisi: memetakan masalah melalui data, lalu merumuskan program sebagai solusi atas persoalan tersebut.
Integrasi Intelektualitas Kampus dan Militansi Organisasi
Status saya sebagai mahasiswi FMIPA Unesa memberikan warna tersendiri dalam menjalankan roda organisasi.
Matematika mengajarkan saya tentang kejujuran intelektual dan ketelitian. Setiap angka harus tepat, dan setiap langkah harus logis. Nilai-nilai inilah yang saya implementasikan di PCNA Sukomanunggal.
Saya meyakini bahwa organisasi dakwah di era urban tidak bisa lagi dikelola hanya dengan semangat retorika, melainkan harus dengan manajemen data.
Semisal, dalam menangani isu ekonomi perempuan muda di Sukomanunggal, kita tidak bisa hanya memberikan bantuan dana sesaat.
Kita harus menghitung rasio kebutuhan, probabilitas keberhasilan usaha, hingga skalabilitas dampak ke depan. Inilah bentuk “Matematika Sosial” yang nyata.
Muhammadiyah Jawa Timur pun demikian; mereka telah bergerak jauh melampaui masanya dengan mengadopsi teknologi dan sistem digital dalam pengelolaan zakat dan wakaf (melalui Lazismu), yang memungkinkan transparansi dan akuntabilitas setinggi kalkulasi matematis.
Tantangan di Simpang Urban akan terus bertambah seiring waktu. Disrupsi teknologi dan perubahan iklim sosial adalah variabel bebas yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Namun, Muhammadiyah Jawa Timur memiliki “Rumus Utama”: Islam Berkemajuan. Rumus ini bersifat adaptif namun tetap teguh pada akar nilai.
Bagi Nasyiatul Aisyiyah Sukomanunggal, masa depan adalah tentang bagaimana kita menjadi “solusi optimum” bagi permasalahan lokal.
Kita harus menjadi garda terdepan dalam membela hak-hak perempuan dan anak di tengah hiruk-pikuk perkotaan yang seringkali abai terhadap kemanusiaan.
Kita harus membuktikan bahwa menjadi religius berarti menjadi modern, cerdas, dan fungsional di tengah masyarakat.
Peran Muhammadiyah Jawa Timur di Simpang Urban adalah upaya terus-menerus untuk mencapai titik kesetimbangan (equilibrium) antara urusan duniawi dan ukhrawi.
Sebagai mahasiswi matematika, saya belajar bahwa hasil akhir dari sebuah persamaan seringkali bergantung pada ketepatan proses di setiap langkahnya.
Demikian pula dengan dakwah. Jika proses dakwah kita dilakukan dengan penuh keikhlasan yang terorganisir, maka output-nya adalah peradaban yang unggul.
Di Sukomanunggal, di antara bisingnya kendaraan dan tingginya gedung-gedung Surabaya, kami—kader muda Muhammadiyah—akan terus bekerja.
Kami akan terus menghitung probabilitas kebaikan, meminimalkan variabel kemungkaran, dan memaksimalkan fungsi kebahagiaan umat.
Karena bagi kami, Islam bukan sekadar angka dalam sensus, melainkan nilai yang memberi makna pada setiap variabel kehidupan di Simpang Urban Jawa Timur. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments