Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ali Basuni, Sang Donatur Setia Panti Asuhan Muhammadiyah Itu Telah Berpulang

Iklan Landscape Smamda
Ali Basuni, Sang Donatur Setia Panti Asuhan Muhammadiyah Itu Telah Berpulang
pwmu.co -
Almarhum Ali Basuni (Basirun/PWMU.CO)

PWMU.CO – Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Muhammadiyah (PAM) Gersikan, Surabaya, tengah berduka atas wafatnya salah satu Donatur Tetap (DT). Kabar duka ini diterima pada Senin (30/6/2025).

Sosok yang berpulang tersebut adalah Ali Basuni, donatur yang selama ini dikenal sangat peduli terhadap keberlangsungan panti. Ia berperawakan tinggi dan besar, berkulit bersih, serta selalu menyapa dengan senyum ramah kepada siapa pun yang ditemuinya. Memelihara kucing menjadi salah satu hobinya yang mencerminkan kelembutan hatinya.

Ali Basuni tercatat sebagai Donatur Tetap di Panti Asuhan Muhammadiyah yang berlokasi di wilayah Gersikan. Kepergiannya tentu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar panti, tetapi juga bagi siapa saja yang pernah merasakan kebaikannya.

“Sejak kami masih kecil, Bapak dan Ibu sudah menjadi donatur tetap Panti Asuhan Muhammadiyah,” tutur anak sulung almarhum, Alifah Cendrakasih.

Semasa hidupnya, Ali Basuni bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ternama, yakni Pertamina. Di sanalah ia menjalani aktivitas sehari-harinya dengan penuh dedikasi.

Meskipun bekerja di perusahaan besar dengan posisi yang mapan, Ali Basuni memilih untuk tidak memasukkan anak-anaknya ke perusahaan tempat ia berkarier. Ia mendidik mereka agar tumbuh mandiri dan tidak bergantung pada kesuksesan orang tuanya. Prinsip hidup sederhana namun tegas itu menjadi warisan nilai yang ia tanamkan dalam keluarga.

Istri tercintanya, Wiwiek Setyaningsih setia mendampingi setiap langkah hidupnya, terutama setelah masa pensiun tiba. Ibarat ‘mimi lan mintuno’, keduanya selalu bersama dalam berbagai kesempatan, seolah tak ingin terpisahkan satu sama lain.

Setelah bertahun-tahun membersamai dalam suka dan duka, Wiwiek, sapaan akrab Wiwiek Setyaningsih, mengalami sakit yang cukup serius. Di samping anak-anaknya yang turut merawat, Ali Basuni, atau yang akrab disapa Pak Ali, dengan penuh kesabaran dan ketelatenan mendampingi serta merawat sang istri hingga kondisinya sempat membaik.

Namun, penyakit itu terus datang silih berganti dan perlahan menggerogoti kesehatan istri tercintanya. Hingga akhirnya, setahun yang lalu, sahabat hidupnya harus berpulang. Ali merelakan kepergian sang istri dengan hati yang ikhlas.

“Allah lebih mencintainya daripada aku,” begitu sikap tulus seorang Ali saat melepaskan belahan jiwanya kembali kepada Sang Khalik.

Sejak kepergian Wiwiek menghadap Ilahi, Ali Basuni lebih banyak ditemani oleh anak sulungnya. Sebagai donatur tetap, ia selalu menantikan kedatangan juru pungut (jungut) dari panti setiap bulannya. Bahkan, tak jarang ia menegur jika petugas jungut terlambat datang setiap bulannya.

Meskipun usianya terus bertambah dan penyakit jantung mulai menggerogoti tubuhnya, Ali tetap tampak sehat dan penuh semangat. Ia bahkan tak pernah menganggap bahwa dirinya memiliki penyakit. Hari-harinya diisi dengan berbagai aktivitas, termasuk usaha kecil-kecilan menjual LPG, sebagai cara untuk tetap produktif dan melawan rasa sepi setelah kehilangan belahan jiwanya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menjelang akhir hayatnya, Ali Basuni masih menyibukkan diri sebagai panitia pembangunan masjid yang tak jauh dari rumahnya. Meski secara fisik sudah tidak sekuat dulu, ia tetap hadir di lokasi, memberi semangat dan dukungan moral kepada para pekerja.

Suatu hari, ia mengeluh kepada Cecen, sapaan akrab Alifah Cendrakasih, bahwa tubuhnya terasa lemas, pegal-pegal, dan kakinya mulai membengkak.

Sebagai seorang perawat, Cecen, dengan sigap menyadari bahwa kondisi ayahnya tidak bisa dianggap sepele. Tanpa pikir panjang, ia segera membawa ayahnya ke RSUD Haji, tempatnya bekerja, untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.

Karena kondisinya semakin memburuk, Ali Basuni kemudian dipindahkan ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Namun, meskipun telah mendapatkan perawatan intensif, tidak ada perubahan signifikan. Hingga akhirnya, pada Rabu (4/6/2025), beliau wafat.

Keesokan harinya, Kamis (5/6/2025), jenazahnya dimakamkan pada pukul 16.05 WIB dalam suasana penuh haru dan doa dari keluarga, kerabat, serta para sahabat yang mengenalnya.

“Tidak ada pesan terakhir dari Papa, kecuali satu: beliau hanya ingin dimakamkan di dekat Mama,” kenang Cecen dengan mata berkaca-kaca.

Hampir satu bulan setelah kepergian almarhum, kabar duka itu akhirnya sampai kepada para pengurus melalui juru pungut. Sontak, para pengurus segera mengumpulkan anak-anak asuh untuk bersama-sama mendoakan H. Ali Basuni, sosok dermawan yang selama ini menjadi donatur tetap dan setia. Almarhum meninggalkan tiga orang anak yakni, Aliffa Cendrakasih, Khoirul Annas, dan Ainnur Rofiq.

Selamat jalan, hamba Allah yang dermawan. Semoga husnul khatimah. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni dosa-dosanya, serta melimpahkan kesabaran dan kemuliaan kepada keluarga yang ditinggalkan. Aamiin. (*)

Penulis Basirun Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu