Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ali Topan Menjaga Nyawa Bahasa Madura di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Ali Topan Menjaga Nyawa Bahasa Madura di Era Digital
Ali Topan di ruang kerjanya. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Di tengah derasnya arus digital dan serbuan informasi dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, H. Moch. Ali Topan hadir dengan sebuah gagasan segar yang terasa berani: menghadirkan media online berbahasa Madura.

Ide ini muncul pada 2023, tak lama setelah pandemi Covid-19 yang mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, termasuk dunia media.

Kepada PWMU.CO, Selasa (26/8/2025), Ali, seorang jurnalis yang sudah puluhan tahun malang melintang di berbagai redaksi, merasa ada yang kurang dalam peta informasi di Indonesia.

“Kalau Majalah Panjebar Semangat bisa bertahan sejak puluhan tahun lalu dengan bahasa Jawa, kenapa tidak ada media berbahasa Madura?” begitu tanya Ali yang kemudian menjelma menjadi pijakan lahirnya Tretan.id.

Nama Tretan sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Madura, tretan berarti persaudaraan. Filosofinya jelas: media ini lahir untuk merangkul, bukan memecah; mengikat, bukan melepaskan.

Ada empat hal mendasar yang membuat Ali bersikeras menghadirkan media ini.

Pertama, dia ingin mengubah citra masyarakat Madura. Selama ini, orang Madura kerap dicap keras, bahkan kasar.

Melalui media berbahasa ibu, Ali berharap bisa menunjukkan sisi lain, bahwa orang Madura juga punya kehangatan, keindahan, dan kekayaan budaya yang lembut.

Kedua, media ini dimaksudkan sebagai ruang untuk mengenalkan dan mengeksplorasi budaya Madura.

Ali percaya, banyak nilai luhur dan tradisi khas Madura yang layak diceritakan ulang kepada publik, dari seni hingga kearifan lokal.

Ketiga, dia mengaku prihatin karena generasi dari suku Madura sudah banyak yang tidak lagi terampil berbahasa Madura.

Dia menyebut anaknya, Shafira Alyatul Putri, yang sekarang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), dan Malik Abdul Azis, siswa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (Smamda-10).

“Kalau ada orang ngomong Madura, mereka ngerti, tapi tidak terampil berbahasa Madura,” ujarnya.

Keempat, Ali ingin menjadikan Tretan.id sebagai rujukan siapa saja yang ingin belajar dan memahami seluk-beluk tentang Madura. Baik orang Madura sendiri, diaspora Madura, maupun masyarakat luas.

“Selama ini orang lebih suka membaca berita kriminal. Saya ingin memberikan alternatif lain, bahwa informasi tentang Madura bukan hanya soal konflik atau kekerasan. Ada banyak sisi kehidupan yang bisa kita angkat,” ujarnya.

Salah satu kekayaan budaya yang terus dihidupkan oleh orang Madura adalah Sandur, juga dikenal sebagai Otok-otok. Seni pertunjukan rakyat ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang untuk mengikat persaudaraan sesama warga.

Ali yang lahir di Sampang, Madura, melihat kekayaan semacam ini perlu dipublikasikan dengan bahasa yang menyatu dengan penuturnya.

“Kalau menggunakan bahasa Madura, orang akan lebih mudah merasa dekat. Ada ikatan batin yang berbeda dibanding memakai bahasa Indonesia,” katanya.

***

Mewujudkan ide ini tentu tidak mudah. Sebagai langkah awal, Ali menulis berita-berita umum yang ia dapatkan, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Madura.

Dia sempat berpikir bantuan Google Translate atau kecerdasan buatan (AI) bisa mempercepat kerja. Nyatanya, hasilnya tidak memuaskan—blepotan.

Akhirnya, dia memilih cara manual, yakni menerjemahkan sendiri dengan mengandalkan kemampuan berbahasa Madura yang ia gunakan sehari-hari. Untuk satu artikel saja, ia bisa menghabiskan waktu 1–2 jam.

Dalam proses itu, ia tidak sendirian. Sang istri, Sofiah, yang juga berasal dari Sampang, ikut mendukung dan membantu.

“Kalau capek, ya gantian. Pokoknya kami ingin media ini bisa lahir dan memberi manfaat,” kata Ali sambil tersenyum.

Meski masih tahap awal, langkah Ali ternyata mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Dari jajaran direksi perusahaan multinasional seperti Coca-Cola hingga para pejabat kepolisian di Surabaya, semuanya mengapresiasi.

Bagi mereka, media berbahasa Madura bukan hanya soal budaya, tapi juga peluang. Misalnya, untuk menjangkau pasar dengan komunikasi yang lebih membumi.

“Mereka merasa terbantu jika bisa menyampaikan pesan dalam bahasa Madura. Artinya, ada ruang besar yang bisa dimasuki,” ujar Ali.

Ali juga mencoba mencari respons dari kalangan mahasiswa dan profesional. Semuanya merasa senang.

Bahkan, ada seorang teman seprofesi dengan Ali, bernama Artika Farmita (wartawan Tempo), yang berhasrat ikut kursus bahasa Madura.

Ketika ditanya kenapa mau kursus, Artika bilang, “Saya senang mendengar orang bercakap-cakap bahasa Madura, lucu.”

***

Apa yang dilakukan Ali Topan boleh jadi bukan sekadar inovasi media, tetapi juga bagian dari upaya menulis sejarah baru.

Di tengah globalisasi yang kerap mengikis bahasa daerah, ia justru memilih meneguhkan identitas dengan menghadirkan bahasa Madura di ruang digital.

Sebagaimana Panjebar Semangat yang lahir pada 1933 dan hingga kini masih eksis sebagai majalah berbahasa Jawa, Ali berharap Tretan.id kelak bisa bertahan lama sebagai wajah Madura di dunia maya.

“Selama masih ada orang Madura, bahasa ini tidak akan mati. Dan media bisa menjadi salah satu penopangnya,” ujarnya.

Ali juga berkeinginan menggandeng Zawawi Imron dan Prof. Mahfud MD. Kedua tokoh ini sangat dekat dengan orang Madura.

Zawawi Imron adalah budayawan asal Madura yang dikenal dengan julukan Celurit Emas karena karya-karyanya yang sarat nilai budaya, religiusitas, dan kearifan lokal.

Sedangkan Prof. Mahfud MD adalah orang Madura yang menjadi pakar hukum tata negara sekaligus tokoh nasional, dengan kiprah panjang di bidang akademisi, politik, dan pemerintahan.

“Saya juga punya cita-cita bisa melahirkan Kamus Bahasa Madura. Dan media ini bisa dikelola oleh putra-putri Madura asli yang cerdas dan bijak dalam memberi informasi pada publik melalu media digital,” ucapnya.

Sebelum mengakhiri wawancara, Ali sempat menerjemahkan secuil berita PWMU.CO yang tengah viral, yakni Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, menerima anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo Subianto. Berikut terjemahannya:

Ketua Dewan Eksekutif Pusat Muhammadiyah (PP), Prof. Haedar Nashir, sareng Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, narema Medali Kehormatan Bintang Mahaputra Utama (TKRI) dhari Presiden Prabowo Subianto. Upacara panèka èlaksanaaghi è Istana Presiden Jakarta è are Sennin (25 /8/2025).

‎Penghargaan panèka èghâbây mènangka pangakuan dâ’ kontribusi sè signifikan dâ’ sekolah, agama, bân nasionalisme. Haedar Nashir èkennal polana pimpinanna è dâlem mamajuaghi jaringan sekolah, kasehatan, bân layanan sosial Muhammadiyah.‎

‎Sabatara, Abdul Mu’ti nyator aken, kontribusina dhalem kabijakan sekolah dasar tor menengah, tamaso’ makowat kurikulum nasional, masama’agi akses dha’ sekolah, tor mabannya’agi kualitas guru. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu