Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Alumni UMS Tembus Pasar Global Lewat Agensi Digital Gen Z

Iklan Landscape Smamda
Alumni UMS Tembus Pasar Global Lewat Agensi Digital Gen Z
Tim Odama Studio. Foto: Dok/Pribadi
pwmu.co -

Industri kreatif digital terus tumbuh seiring masifnya penetrasi gawai di kalangan masyarakat luas. Industri tersebut mencakup pengembangan web, aplikasi digital, hingga desain antarmuka (user interface/UI) dan pengalaman pengguna (user experience/UX).

Founder Odama Studio Happy Tri Miliarta melihat ceruk pasar UI/UX sebagai sektor yang menjanjikan. “Demand-nya lumayan tinggi,” cetus Happy, medio Januari lalu.

Lulusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini melihat peluang menjanjikan itu saat menjadi pekerja lepas sepanjang 2020-2021.

Happy saat itu aktif memajang hasil karyanya pada platform Dribble. Dari situlah ia menerima pekerjaan freelance yang mayoritas berasal dari luar negeri.

Kebiasaan membagikan portofolio ini menjadi cara Happy dalam menggaet klien. Salah satu klien pertamanya adalah Metaco GG, sebuah platform komunitas e-sports dan turnamen gim daring.

Lambat laun kliennya pun bertambah. Happy kerap mengerjakan empat sampai enam proyek klien dalam sehari. Hal itu membuatnya banyak menghabiskan waktu di kamar kos untuk menuntaskan pekerjaannya.

Suatu hari, Rohmad Khoirudin–adik tingkat Happy yang kelak menjadi Co-Founder Odama–mengutarakan ketertarikannya pada proyek yang tengah Happy kerjakan. Dari sinilah Happy mulai mengajak Rohmad dan tiga orang lainnya untuk belajar desain bersama.

“Aku sebagai individu itu enggak bisa men-supply semua demand yang masuk ke aku. Akhirnya aku invite teman-teman kuliahku di UMS,” kenang pria kelahiran Rembang, Jateng, itu.

Cikal bakal Odama Studio lahir dari sebuah rumah kontrakan di salah satu perumahan di Jalan Palem Raya, Colomadu, Karanganyar, Jateng.

Seiring waktu, Odama Studio pun membutuhkan tambahan pegawai lantaran beban kerja yang semakin bertambah. Mereka pun memindahkan kantornya ke kawasan Gentan, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Happy mengatakan Odama berasal dari bahasa Jepang yang berarti bola besar. Nama tersebut menjadi harapan untuk terus menghasilkan karya yang sempurna.

Odama Studio menawarkan sejumlah jasa di bidang kreatif digital, meliputi branding, animasi, ilustrasi, riset dan desain UI/UX aplikasi digital, pembuatan alur laman web, hingga desain tiga dimensi.

Dikutip dari laman Odama Studio pada platform Behance, Odama menawarkan dua skema yang dapat dipilih oleh calon klien. Skema pertama adalah jasa desain halaman utama web milik klien yang dibanderol seharga 1.500 dollar AS.

Sedangkan skema kedua adalah langganan bulanan. Skema ini memungkinkan klien untuk menggunakan jasa Odama Studio selama enam jam kerja dan lima hari kerja. Paket ini dibanderol seharga 4.999 dollar AS.

Sejumlah klien mancanegara pun telah bermitra dengan Odama Studio. Happy mengatakan beberapa klien tersebut berasal dari Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Hingga Jerman. Tidak mengherankan jika omzet yang diraih Odama Studio mencapai Rp3,5 miliar per tahun.

Kerja ala Gen Z

Founder Odama Studio Happy Tri Miliarta tak mau memonopoli kemampuan desainnya. Ia pun membagikan ilmunya kepada teman-teman kuliahnya. Mengajak untuk belajar desain sekaligus menggarap pekerjaan freelance.

Sewaktu Odama Studio resmi berdiri pun Happy kembali merekrut teman-teman kuliahnya. Tidak heran jika seluruh pegawai Odama Studio adalah generasi Z atau gen Z.

“Kami di kantor juga bukan yang kaku begitu. Ada waktunya bercanda juga. Jadi seru gitu,” tutur dia.

Merekrut teman sendiri rupanya menjadi tantangan bagi Happy. Apalagi jika sudah menyangkut urusan penggajian. Ia mengaku pernah merasa sungkan saat menggaji temannya.

Chief Operating Officer (COO) Odama Studio Rendra Rizki Kurniawan juga merasakan hal serupa. Sewaktu naik jabatan sebagai COO, lulusan Teknik Informatika UMS ini ditugaskan untuk memperbaiki fundamental perusahaan.

Mulailah mereka merekrut bagian sumber daya manusia dan keuangan. Tujuannya untuk mengelola keuangan dan personalia secara lebih profesional.

Disisi lain, perbaikan yang harus dilakukan adalah urusan jam kerja. Perbedaan jam antara Indonesia dengan negara asal klien membuat kru Odama Studio kerap lembur.

“Dulu parah-parah banget kayak pernah jam setengah 4 pagi meeting. Yang mana hasil meeting itu akan dikerjakan nanti paginya. Jadi kita harus punya list update-nya apa saja,” kenang Rendra. Perbaikan kemudian dilakukan untuk memastikan jam kerja lebih manusiawi bagi para pegawai, yakni 9-5.

Rendra mengamini jika suasana kantor yang diisi oleh temannya sendiri membuat lingkungan kerja menjadi seru dan hangat.

Namun, ia terus mendorong member Odama Studio untuk mengedepankan profesionalisme, keseriusan, dan komitmen kuat. Tak lain agar perusahaan dapat bertahan dalam jangka waktu panjang.

Perbaikan fundamental terus Rendra lakukan sepanjang 2025. Mulai dari aturan jam masuk kerja, hingga mekanisme cuti.

“Aku benerin lagi rules-nya seperti apa. Bikin rules biar tetap. Walaupun ini based on friends harus tetap profesional Kita enggak ingin terlena sama teman,” tuturnya optimis.

Peluang Pasar Digital

COO Odama Studio Rendra Rizki Kurniawan menjelaskan agensi digital di Jateng-DIY telah tumbuh subur dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi di Yogyakarta yang didukung dengan ekosistem pasar yang aktif berinovasi pada bidang digital.

Mengutip laman Gen Amikom, sebanyak lebih dari 84 agensi digital beroperasi di Yogyakarta per Juli 2025. Agensi ini mencakup jasa periklanan, perdagangan, hingga teknologi informasi.

Sementara Jakarta, kata Rendra, masih menjadi daerah yang ideal bagi agensi digital untuk berkembang.

“Jakarta memang sangat proper karena di sana banyak pemilik bisnis yang butuh jasa agensi digital dan mau untuk spend budget,” imbuh dia.

Rendra berkata perusahaan agensi digital di Solo Raya tidak bisa bertahan dengan hanya mengandalkan pasar lokal.

Harus jeli mencari klien di luar wilayah Solo Raya, hingga luar negeri. Salah satu strateginya adalah aktif memperbarui portofolio pada platform digital kreatif seperti Behance atau Dribble.

Inovasi menjadi salah satu kunci bagi agensi digital seperti Odama Studio untuk terus bertahan dan relevan di tengah persaingan pasar.

Founder Odama Studio Happy Tri Miliarta mengungkapkan visi besar Odama adalah menghasilkan produk digital yang bisa dipakai langsung oleh pengguna atau klien.

“Jadi enggak cuma desain saja, tapi benar-benar dipakai sama user. Sampai benar-benar finish,” harapnya.

Target terbesarnya adalah menghasilkan layanan berbasis perangkat lunak atau software as a service (SaaS).

Happy juga ingin membidik pasar lokal dan nasional. Tujuannya agar legasi yang dihasilkan Odama Studio dapat terus hidup di Indonesia.

Untuk mewujudkan visinya itu, Happy mulai mendaftarkan Odama Studio sebagai perusahaan berbadan hukum. “Kalau sekarang ini kita lagi proses menjadi PT,” tandasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu