Yusuf tirta Ali beserta lima temannya mendarat di Bandara Juanda, Selasa pagi (9/9/2025). Yusuf pemuda asal Flores sukses jalani magang Internasional di Institut Tahfiz Bintulu, Serawak, Malaysia. Sejak 17 Juli mereka berada di negeri jiran untuk mengajar bahasa Arab.
Dikirim magang ke Serawak tak semua orang bisa merasakan kesempatan langka tersebut. Yusuf sempat menjalani seleksi cukup ketat di UMM Malang. Sejumlah teman sekelasnya yang tidak terpilih akhirnya harus magang di ibukota Jakarta, Malang, dan kota-kota lainnya.
Sepanjang magang di Bintulu, Yusuf merasakan suka dan duka. Dukanya masalah cuaca panas di sana. Baik pagi, siang dan malam yang membuat tubuh selalu berkeringat. Lalu ia cerita betapa rumitnya mencari makanan halal di Bintulu. Sebabnya, mayoritas kedai dikelola etnis Cina.
Sebagian lagi tukang masak dari India. Selain itu, Yusuf yang sejak remaja terbiasa dengan amal ibadah Sang Surya harus adaptasi lagi terkait ritual ibadah sehari-hari. Disana dijumpai bacaan qunut, perayaan Maulid dan tahlilan pada kamis malam.
Kemudian Yusuf mengaku selama magang di Serawak harus merogoh kocek pribadi. Total menelan biaya 5 juta rupiah untuk keperluan akomodasi dan tiket pesawat. Dalam urusan mengajar, Yusuf menilai pelajar perempuan di Institut Bintulu bersifat pasif. Jadi selama di kelas mereka hanya mendengar penjelasan tanpa ada timbal balik berupa mengajukan pertanyaan ke pengajar.
Kegembiraan selama di Sarawak
Adapun sisi gembira atau suka selama di Serawak adalah Yusuf bisa mengambil data-data penting guna keperluan penulisan skripsi. Penelitiannya yang berjudul “Penggunaan media film Berbahasa Arab untuk meningkatkan kemampuan istima’ pelajar ITB Malaysia” telah disetujui dosen pembimbing. Dalam unggahan di media sosial pribadinya Yusuf berserta kawannya sempat mencicipi berenang di pemandian terdekat. Tiket masuk di sana berkisar 2 ringgit.
Ada persamaan dan perbedaan suasana di ITB Malaysia dibanding Ketika Yusuf mondok. Di kedua Lembaga ini sama-sama digelar kajian agama tiap malam dan disertakan pelajaran imla’, nahwu-shorof. Akan tetapi di pesantren Muhammadiyah al-Munawwaroh dulu ada pembiasaan salat tahajud, sementara di sini tidak ada. Durasi kegiatan belajar mengajar (KBM) di ITB Bintulu hanya berlangsung dari ukul 7 pagi hingga ashar. Hari aktif KBM mulai senin sampai jumat saja. Sisanya para guru libur.
Pengalaman magang Internasional di Serawak setidaknya membuat alumnus Pesantren Muhammadiyah al-Munawwaroh ini terbuka cakrawala pemikirannya. Di sana ia juga berusaha keras meningkatkan kemampuan mengajarnya di luar negeri. Terakhir, ia belajar merasakan perbedaan cuaca, ritual agama dan cita rasa kuliner. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments