Ada banyak cara bagi umat Muslim untuk menjadi manusia yang disayangi oleh Allah SWT. Untuk mewujudkan itu, kita perlu melakukan amalan-amalan yang akan menuntun kita meraih cinta Allah.
عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي
Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.”
Ibnu Mas’ud ra berkata, “Itu semua telah diceritakan oleh Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku, sekiranya aku menambah (pertanyaanku), pasti Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menambah (jawaban Beliau) kepadaku.”
Ucapan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :
الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا
“Salat pada waktunya.”
Dalam ucapan ini tidak ada isyarat yang dimaksudkan adalah berhati-hati agar tidak melakukan ibadah shalat diluar waktu yang telah disyariatkan.
الصَّلاةُ لِأَوَّلِ وَقْتِهَا
“Salat pada awal waktunya.”
Ini jelas dan tegas menunjukkan keutamaan menunaikan shalat pada awal waktunya, dan keutamaan salat itu sendiri, Rasulullah saw bersabda:
رَأْسُ الْاَمْرِ الْاِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya salat dan puncaknya jihad fii sabiilillah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Salat adalah amal saleh yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
“Pertama kali yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, maka baiklah seluruh amalnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 2573)
Salat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, Beliau bersabda:
اَلصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Jagalah salat, jagalah salat, dan berbuat baiklah kepada budak yang kalian miliki.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 3873)
Allah Swt. memerintahkan kita menjaga shalat, baik ketika hadhar (tidak safar) maupun ketika safar, ketika suasana aman maupun suasana mencekam. Dia berfirman:
“Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.—Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 238-239)
Ibadah salat bak waktu istirahat yang ditunggu-tunggu orang Islam. Namun, tak jarang yang menyepelekannya. Ibadah shalat menjadi beban, sehingga berat untuk melaksanakannya.
Tidak sedikit yang lantas meninggalkan ibadah salat. Suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada Bilal bin Rabah budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dari majikannya Abu Jahal– ”Ya Bilal, arihni bish-shalati” (Wahai Bilal istirahatkan aku dengan salat)”.
Ibadah salat merupakan mukjizat yang paling berharga yang disampaikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad saw tanpa perantara Malaikat Jibril. Karena itu Rasulullah saw bersabda, “Ash-shalatu mi’rajul mu’minin”(Salat merupakan mi’raj (komunikasi langsung) seorang mukmin kepada Tuhannya).”
Mukjizat salat yang telah disampaikan pada peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian di Sidratul Muntaha, merupakan sebuah pencerahan bagi umat Islam.
Salat menjadi pertanda saat seorang hamba ingin mendekat kepada Khaliknya. Dengan shalat, seorang hamba mengadu pada Tuhan-Nya.
Hatinya akan senantiasa tertambat di jalan Allah. Sehingga yang ada pencerahan rohani lewat salat dengan catatan pelaksanaan salat bukan sebuah beban yang sangat berat akan tetapi sebuah faktor kebutuhan.
Nah, bila salat sudah menjadi kebutuhan, maka seorang Muslim akan senantiasa melakukan shalat secara suka rela dan khusyuk. Kualitas hubungan dengan Tuhannya menjadi mesra dan baik. Itu adalah hal yang paling utama.
Salat bukan lagi sekadar pelepas kewajiban demi perintah Allah dan memenuhi anjuran Nabi Muhammad saw. Akan tetapi shalat akan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments