Penugasan dari Pimpinan Pusat (PP) Tapak Suci Muhammadiyah pada tahun 1984 bukanlah surat biasa. Di balik lembaran kertas itu, tersimpan kegelisahan sekaligus visi besar organisasi: Tapak Suci harus melangkah dari sekadar perguruan pencak silat menjadi lembaga resmi yang tertata, beridentitas, dan memiliki standar baku.
Berikut Kisah Lahirnya Jurus Harimau, Warisan Pendekar Besar Chusnan David untuk Tapak Suci Dunia (Bagian 4)
Saat itu, Tapak Suci tengah berada di persimpangan sejarah. Perkembangannya pesat, cabang-cabang tumbuh di berbagai daerah, bahkan mulai merambah luar negeri. Namun di sisi lain, dinamika tersebut menuntut satu hal penting: keseragaman jurus sebagai identitas kelembagaan.
“PP Tapak Suci menugaskan pembuatan jurus ini karena kebutuhan Tapak Suci untuk ditegakkan sebagai lembaga,” tutur Budi Harisma, Sekretaris Pimda Tapak Suci Surabaya periode 1983–1985.
Sebagai lembaga, Tapak Suci tidak bisa hanya mengandalkan kharisma para pendekar di daerah. Ia memerlukan sistem, simbol, dan warisan jurus yang dapat diwariskan lintas generasi tanpa kehilangan ruhnya. Jurus-jurus pokok menjadi semacam “bahasa bersama” yang mempersatukan Tapak Suci dari Sabang hingga Merauke, bahkan ke mancanegara.
Di sinilah nama Chusnan David muncul sebagai figur sentral. Pendekar besar asal Jawa Timur itu dipercaya untuk melahirkan Jurus Harimau, sebuah jurus yang kelak dikenal bukan hanya karena kekuatan fisiknya, tetapi juga karena kedalaman filosofi dan ketajaman karakternya.
Surat tugas dari PP Tapak Suci Muhammadiyah tersebut juga diberikan kepada dua pendekar Jawa Timur lainnya. KH Bukhori Achmad, pendekar asal Jember, dipercaya menyusun Jurus Lembu.
Sementara Ismail Novianto, pendekar asal Malang, ditugasi melahirkan Jurus Merpati. Penamaan jurus yang mengambil unsur hewan dan bunga bukan tanpa alasan.
“Di Tapak Suci, semua jurusnya memang mengambil simbol hewan dan bunga,” jelas Budi.
Hewan melambangkan kekuatan, insting, dan daya juang. Sementara bunga merepresentasikan keindahan, kelembutan, dan nilai etika. Dua unsur yang mencerminkan jati diri Tapak Suci: kuat, tetapi beradab.
Dalam proses penyusunan Jurus Harimau itulah, Chusnan David mempercayakan satu tugas penting kepada Budi Harisma untuk menyusun narasi jurus. Bukan sekadar deskripsi gerakan, tetapi uraian makna, alur, dan filosofi yang menyertainya.
Budi tidak mengerjakan tugas itu setengah hati. Latar belakangnya sebagai wartawan Surabaya Post menjadi modal penting. Dia terbiasa menyusun fakta menjadi cerita yang runtut, hidup, dan mudah dipahami.
Setiap gerakan Harimau tidak hanya ditulis sebagai teknik beladiri, tetapi sebagai cerita tentang watak pendekar yang sigap, waspada, berani, dan bertanggung jawab.
Narasi itu disusun dengan rapi, mengalir, dan terstruktur. Dari sikap awal, peralihan gerak, hingga penutup jurus, semuanya dirangkai dengan bahasa yang tegas namun komunikatif. Tujuannya satu: agar jurus ini tidak hanya bisa dipraktikkan, tetapi juga dipahami dan dihayati.
Bagi Budi, jurus bukan sekadar rangkaian teknik. Jurus adalah pesan. Jurus adalah nilai. Dan Jurus Harimau, sejak awal kelahirannya, memang dimaksudkan sebagai penanda kedewasaan Tapak Suci sebagai sebuah lembaga.
Dari sinilah Jurus Harimau mulai menapaki jalannya, lahir dari kebutuhan organisasi, dirumuskan dengan kesadaran sejarah, dan diwariskan sebagai pusaka gerakan Tapak Suci hingga hari ini.

Gerakan Rendah, tapi Mantap
Tugas dari Pimpinan Pusat Tapak Suci Muhammadiyah itu dijalankan Chusnan David dengan kesungguhan penuh. Dia tidak sekadar menerima amanah, tetapi memikulnya sebagai tanggung jawab sejarah.
Baginya, Jurus Harimau bukan hanya rangkaian gerak bela diri, melainkan representasi watak, jiwa, dan filosofi Tapak Suci itu sendiri.
Berhari-hari Chusnan David larut dalam perenungan. Waktunya banyak dihabiskan dalam diam, mengamati, membayangkan, lalu mencoba menggerakkan tubuhnya sendiri.
Dia memikirkan satu demi satu, bagaimana seekor harimau berdiri, berjalan, mengendap, menyerang, bertahan, hingga menarik diri. Semua harus punya makna, tidak boleh asal keras atau sekadar indah dilihat.
Harimau, dalam bayangannya, bukan hewan yang sembrono. Ia kuat, tetapi sabar. Ia buas, tetapi penuh perhitungan.
Dalam kesunyian hutan, harimau tidak banyak bergerak. Namun sekali menerkam, seluruh tenaga, fokus, dan instingnya menyatu dalam satu ledakan kekuatan.
Karakter itulah yang ingin dituangkan Chusnan David ke dalam jurus. Gerakannya harus rendah namun mantap. Langkahnya harus tenang, tetapi menyimpan daya ledak. Serangannya tegas, langsung ke inti, tanpa gerak mubazir.
Cerita unik tentang proses ini disampaikan oleh Muhammad Zamroni, putra sulung Chusnan David. Zamroni masih ingat betul suasana rumah keluarga besar mereka pada masa itu.
Sekira tahun1984, jauh sebelum internet dikenal. Televisi masih barang berharga, dan siaran luar negeri hanya bisa ditangkap lewat parabola.
“Kebetulan di rumah Tante Eva—Eva Rosdiana Dewi—di Jalan Bentul Surabaya, sudah ada parabola,” kenang Zamroni.
Di rumah itulah Chusnan David sering datang. Bukan untuk sekadar bertamu, tetapi untuk belajar dari alam, meski melalui layar kaca.
Discovery Channel menjadi jendela dunianya. Tayangan tentang kehidupan satwa liar, khususnya harimau, selalu menyedot perhatiannya.
“Kalau sudah nonton Discovery Channel yang mengisahkan harimau itu, tidak ada yang berani mengganggu,” ujar Zamroni, lalutersenyum.
“Orang-orang di rumah Tante Eva sudah paham betul,” timpal Zamrony.
“Semua detail itu direkam dalam ingatan. Usai menonton, Chusnan David sering terdiam lama. Imajinasinya terus berkelana, merangkai gerak demi gerak hingga bayangan harimau seolah menyatu dengan denyut tubuh dan jiwanya.

Insiden di Gelanggang Remaja
Muhammad Zamrony juga menceritakan betapa kuat daya cengkeraman tangan ayahnya, Chusnan David.
Kekuatan itu bukan sekadar cerita legenda keluarga, tetapi pernah ia rasakan sendiri sejak kecil—dalam momen-momen yang hingga kini masih melekat jelas di ingatannya.
Suatu hari, ketika Zamrony masih bocah, ia terlalu asyik bermain bersama teman-temannya hingga lupa waktu. Matahari mulai condong, suara adzan hampir tiba, tetapi ia belum juga pulang. Di situlah Chusnan David mencarinya.
Begitu bertemu, sang ayah tidak banyak bicara. Tangannya langsung mencengkeram kerah baju Zamrony—tepat di tengkuk, dengan genggaman yang mantap dan pasti.
Dalam sekejap, tubuh kecil Zamrony terangkat dari tanah, melayang ringan seperti ikan yang baru diangkat nelayan dari air.
“Diginikan,” ujar Zamrony sambil menirukan gerakan tangan ayahnya, mencengkeram kerah baju. “Gara-gara dolen gak moleh-moleh,” tambahnya, tersenyum mengenang.
Chusnan David melangkah cepat membawa Zamrony pulang. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, tetapi ada ketegasan yang sulit ditawar. Setiba di rumah, Zamrony langsung dilempar ke atas ranjang—bukan dengan kasar, melainkan tegas—lalu diminta segera tidur siang. Bagi Chusnan David, disiplin adalah bagian dari pendidikan, sama pentingnya dengan kasih sayang.
Kisah lain terjadi di Solo. Saat itu, Zamrony dan keluarganya tengah berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Suasana ramai, orang lalu-lalang, dan suara mesin eskalator berdengung pelan. Tanpa diduga, baju adiknya, Fatma Kumala Dewi, terselip di sela pinggir eskalator.
Dalam hitungan detik, situasi berubah genting. Tanpa teriak, tanpa panik, refleks Chusnan David bekerja. Tangannya langsung mencengkeram karet eskalator yang terus bergerak, sementara tangan lainnya menarik tubuh Dewi ke arah aman. Gerakannya cepat, presisi, dan penuh tenaga. Dewi terselamatkan sebelum tubuh kecilnya terseret lebih jauh.
Bagi orang lain, itu mungkin tampak seperti keberanian spontan. Namun bagi Zamrony, itulah gambaran nyata dari latihan panjang, kewaspadaan, dan ketenangan seorang pendekar sejati.
Pengalaman lain yang tak kalah membekas terjadi saat Zamrony masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu ketika, ia diajak Chusnan David menyaksikan kejuaraan pencak silat di Gelanggang Remaja Surabaya. Zamrony duduk di kursi official Tapak Suci, menyaksikan pertandingan dengan mata berbinar.
Di tengah suasana pertandingan, Zamrony melihat sesuatu yang berbeda. Di atas tribun, beberapa pesilat terlihat terlibat cekcok yang memanas, hingga berujung perkelahian. Naluri polosnya mendorong Zamrony untuk segera memberi tahu sang ayah.
Belum sempat panitia bertindak, Chusnan David sudah berdiri. Dengan langkah cepat, dia naik ke tribun. Disusul beberapa orang panitia lainnya.
Tangan Chusnan David kembali menunjukkan watak harimau: mencengkeram kuat bagian baju para pesilat yang bertikai, memisahkan mereka satu per satu, lalu mendorong dengan tegas agar menjauh.
Semua berlangsung singkat. Tanpa teriakan. Tanpa kekerasan berlebihan. Hanya satu pesan yang tersampaikan jelas: pertikaian tidak punya tempat dalam martabat seorang pesilat Tapak Suci.
Bagi Zamrony, rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kenangan masa kecil. Di sanalah ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungi, menegakkan disiplin, dan menjaga kehormatan. Nilai-nilai itu kelak menjelma utuh dalam Jurus Harimau karya ayahnya. (*/bersambung)





0 Tanggapan
Empty Comments