Keluarga memiliki peran strategis sebagai pondasi utama pembangunan karakter anak. Hal tersebut mengemuka dalam Pengajian Rumah Sakinah Muhammadiyah (RSM) yang mengangkat tema “Keluarga sebagai Pondasi Pembangunan Karakter Anak”, Kamis (8/1/2026), di Sekretariat Rumah Sakinah Muhammadiyah, Rumah Susun Conver Kemayoran, Jakarta Pusat.
Pengajian ini menghadirkan Misran Lubis, S.Ag, Sekretaris Rumah Sakinah Muhammadiyah sekaligus Kepala Bidang KOJ MPKS PP Muhammadiyah, sebagai penceramah utama. Sambutan pembukaan disampaikan oleh Dedi Warman, S.Fil.I, Bendahara RSM dan Wakil Sekretaris MPKS PP Muhammadiyah.
Dalam tausiyahnya, Misran menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling menentukan dalam membentuk karakter anak. Ia menyoroti masih tingginya persoalan sosial yang melibatkan anak sepanjang tahun 2025, mulai dari kekerasan terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga, hingga berbagai tindak pidana yang menyeret anak sebagai korban maupun pelaku.
“Kondisi ini menjadi alarm penting bahwa penguatan fungsi keluarga tidak bisa ditunda. Rumah harus menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak untuk tumbuh, belajar nilai kehidupan, dan membangun karakter,” ujarnya.
Misran menjelaskan, dalam perspektif Islam, tanggung jawab orang tua terhadap anak ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat tersebut, lanjutnya, menegaskan bahwa mendidik anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga akidah, akhlak, dan kepribadiannya. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap orang tua adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah tersebut.
“Karena itu, keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak sebelum mereka berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas,” jelas Misran.
Pengajian ini juga menyoroti tantangan pengasuhan di era digital. Anak-anak kini sangat dekat dengan gawai, media sosial, dan arus informasi yang begitu cepat. Orang tua dituntut tidak hanya mampu membatasi penggunaan teknologi, tetapi juga mendampingi, mengarahkan, serta memberikan keteladanan dalam penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Beberapa pesan penting yang ditekankan dalam pengajian tersebut antara lain pentingnya komunikasi hangat antara orang tua dan anak, keteladanan dalam sikap dan perilaku, pengasuhan berbasis kasih sayang tanpa kekerasan, serta penguatan literasi digital di lingkungan keluarga.
Selain itu, nilai-nilai keislaman perlu terus dihidupkan dalam keseharian, seperti ibadah bersama, pembiasaan akhlak mulia, serta membangun suasana rumah yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Melalui Pengajian Rumah Sakinah Muhammadiyah ini, diharapkan keluarga-keluarga Muhammadiyah semakin siap menghadapi tantangan zaman dan mampu melahirkan generasi yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan. Keluarga yang kuat diyakini menjadi pondasi penting bagi terwujudnya masyarakat dan bangsa yang berkemajuan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments