
Penulis Moh. Ernam
PWMU.CO – Aku telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Aku ingin semuanya berjalan dengan lancar.
Tiket kereta api, penginapan, serta properti untuk anakku seperti jas, sepatu, dasi, dan celana yang dipinjam dari teman sudah siap. Bahkan buket bunga dari Beng-Beng, Top, dan Chocolatos sudah dipesan. Semua itu aku atur dengan bantuan tenaga tetangga agar gratis.
Lalu, untuk baju. Semua pakaian di lemari dicoba dan dipadupadankan, agar saat acara nanti tidak terlihat aneh. Tidak ingin seperti kijang yang masuk kota—tidak cocok dengan diriku.
Sepatu juga sama. Tidak ada sepatu baru. Aku menggunakan sepatu fantovel pemberian teman, yang masih bagus dan nyaman. Namun, kesannya terlalu formal. Ya, bukan aku banget—aku yang lebih suka urakan karena sering berkemah dengan sepatu sembarangan yang penting nyaman dipakai.
Mataku tertuju pada sepatu boot rendah pemberian adikku. Aku pernah mengecek harga di Google, dan ternyata harganya 3,5 juta. Bukan hanya wah, tapi waow…
Namun, sepatu itu rusak karena dipakai untuk sa’i di Singapura. Entah kenapa, dalam lawatan budaya ke Malaysia dan Singapura bersama Smamda, harus ada sesi sa’i—lari-lari kecil dari imigrasi Singapura ke bis. Akhirnya, sepatu kebanggaanku itu rusak dan menganga. Untung masih bisa dibawa pulang.
Walaupun rasanya tidak tega, sepatu itu kumasukkan ke dalam kresek dan kubawa ke tukang sol sepatu. Cukup bayar 20 ribu, sepatu itu disemir dan kembali mulus. Kuat lagi.
Hari keberangkatan pun tiba. Jumat, 23 Mei 2025, pukul 12.48, kereta Sri Tanjung akan membawa aku dan Bu Nyonya ke Jogja, dari stasiun Sidoarjo ke stasiun Lempuyangan Jogja. Aku bahkan rela tidak sholat Jumat karena mushola di stasiun Sidoarjo tidak menggelar sholat Jumat. Alasan yang menghibur hati: musafir.
Perjalanan Kereta
Ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Kereta Sri Tanjung termasuk tarif murah, hanya 88 ribu rupiah sudah sampai di Jogja. Namun, kursinya 2-3, saling berhadap-hadapan, satu deret maju, yang lainnya mundur. Berbeda dengan kereta ekonomi Blambangan Ekspres yang semua kursinya menghadap ke depan.
Meskipun begitu, aku berusaha menikmati perjalanan. Mengobrol dengan penumpang lain tentang berbagai hal, topik yang ringan.
Hal lain yang kurang nyaman di kereta Sri Tanjung adalah mushola. Biasanya di kereta ada mushola, namun aku cari-cari tidak ada. Mau sholat di tempat duduk juga susah karena ada penumpang lain di depanku.
Bersabar selama 5 jam. Untuk membuat perjalanan lebih nyaman, aku membaca, mengedit berita, menonton, dan juga murojaah. Mengikuti Misyhari Rasyid yang membaca surat Ali Imran 102-108.
Ahh, Jogja, akhirnya aku sampai di kota istimewa ini. Pesan GoCar, cus ke hotel, tidur. Eh, belum ding, aku harus panggil anak lanang untuk menyerahkan semua properti dulu. Baru tidur.
Pelepasan Kader Purna
Inilah acara yang aku tuju—Pelepasan Kader Purna kelas VI Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (24/05/2025). Anak lanangku sudah enam tahun menimba ilmu di sini, dan kini Muallimin akan menyerahkannya kembali kepada orang tua.
Sejak subuh, aku dan Bu Nyonya sudah bersiap, mengenakan baju dan sepatu terbaik yang telah dipersiapkan. Pukul 06:20, kami sudah harus masuk ke Sportorium UMY.
Acara pelepasan ini dikemas luar biasa. Kader Purna tingkat VI diiringi pasukan tonti Muallimin yang mengenakan uniform hitam dengan baret merah, tegap dan gagah. Mereka diiringi genderang drum band Muallimin yang mengenakan uniform pasukan drum band keraton Yogyakarta.
Para penyambutnya pun luar biasa—mulai dari Direktur Muallimin, Ustadz Ali Audah, Ketua BPH Muallimin Muallimat, Haji Khoirudin Bashori, hingga Ketua MPR RI, Haji Muzani. Puncaknya, para kader menerima amanat langsung dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Profesor Muhadjir Effendi.
Acara yang meriah akhirnya selesai. Aku menunggu waktu untuk foto bersama anakku. Maklum, terlalu banyak penggemar yang meminta foto. Aku dan ibunya duduk di kursi sambil tersenyum. Antara bangga dan sedih. Bangga melihat anakku dikelilingi teman-temannya—menandakan ia pandai bergaul. Namun, juga sedih karena berarti anakku sudah milik orang lain. Aku harus siap melepaskannya. Ia sudah memiliki pergaulan yang luas.
Dalam senyumku, aku teringat penyair kesayanganku, Kahlil Gibran—Anakmu Bukanlah Anakmu.
ANAKMU BUKANLAH ANAKMU
Mereka putera-puteri Kehidupan yang mendamba kehidupan itu sendiri.
Mereka datang melalui dirimu, tetapi bukan darimu.
Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.
Kau boleh memberi mereka cinta, tetapi bukan pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikiran sendiri.
Kau bisa memberi tempat bagi raganya, tetapi tidak bagi jiwa mereka.
Sebab jiwa mereka hidup di rumah esok yang takkan mampu kau singgahi, sekalipun dalam mimpi.
Kau boleh berikhtiar untuk menjadi diri mereka, tetapi jangan pernah berusaha menjadikan mereka seperti dirimu.
Sebab hidup tak berjalan mundur atau teronggok di masa silam.
Kau adalah busur yang melesatkan anak-anakmu sebagai anak panah kehidupan yang meluncur ke masa depan.
Lengkung busur itu mencari tanda di atas jalan lurus yang tak berujung, dan Dia melengkungkanmu dengan daya-Nya agar panah-panah-Nya melesat cepat dan jauh.
Berlengkunglah dengan riang bersama lengan busur itu, sebab Dia bukan hanya mencintai anak panah yang melesat, tetapi juga sang busur yang diam.
Kini, aku adalah busur yang diam. Semoga masih bisa melengkung dan melesatkan anak panah jauh ke masa depan.
Saat anakku kembali, aku mengajaknya berfoto, juga bersama Bu Nyonya.
Panahku, melesatlah! Melesatlah jauh melampaui masa depan. Dengan lengkungku, dengan doaku!
Sri Tanjung, 25/05/2025
Editor ‘Aalimah Qurrata A’yun






0 Tanggapan
Empty Comments