Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Analisis Kompas Dakwah Muhammadiyah dan Peradaban

Iklan Landscape Smamda
Analisis Kompas Dakwah Muhammadiyah dan Peradaban
Prof. Dr. Triyo Supriyatno, M.Ag. Foto: Istimewa
Oleh : Triyo Supriyatno Wakil Ketua PDM Kota Malang
pwmu.co -

Muhammadiyah telah memasuki abad kedua gerak dakwah dan tajdidnya. Dalam rentang sejarah panjang itu, organisasi ini menunjukkan daya tahan dan daya ubah yang kuat terhadap zaman. Namun, memasuki era kekinian — yang ditandai dengan digitalisasi, disrupsi sosial, dan perubahan orientasi nilai — Muhammadiyah dituntut bukan hanya mempertahankan eksistensi, tetapi mengembangkan diri menjadi organisasi dakwah dan peradaban yang relevan dengan dinamika global. Untuk itu, strategi pengembangan organisasi harus disusun dengan pendekatan kompas dakwah, yang mencakup empat arah: spiritual (iman dan ihsan), intelektual (ilmu dan teknologi), sosial (keadilan dan kemanusiaan), serta kultural (identitas dan lokalitas).

Kompas Spiritual: Meneguhkan Landasan Iman dan Ihsan

Kompas pertama adalah arah spiritual. Muhammadiyah berdiri atas spirit tauhid yang murni: “Tauhid yang memerdekakan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.” Landasan ini sebagaimana disebut dalam firman Allah:

“Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘ām [6]: 162).

Dalam tafsir Ibnu ‘Āsyūr, ayat ini menegaskan dimensi totalitas pengabdian: kehidupan individu dan sosial tidak boleh terpisah dari nilai ilahi. Di sinilah letak tantangan pengembangan organisasi: bagaimana spiritualitas tauhid menjadi napas bagi setiap aktivitas — dari pelayanan pendidikan hingga amal usaha digital.

Di era yang semakin sekuler, Muhammadiyah perlu memperkuat ruhul jihad (semangat perjuangan) dengan membangun kader ideologis yang bukan hanya profesional, tetapi juga muttaqin—berilmu dan berakhlak. Program penguatan ideologi Muhammadiyah (PIM) harus dipadukan dengan ekosistem digital, seperti aplikasi learning platform keislaman, podcast tabligh, dan digital mentoring kader muda. Strategi ini menjadi benteng spiritual dari disorientasi nilai dan individualisme modern.

Kompas Intelektual: Memperkuat Tradisi Ilmu dan Teknologi

Era kekinian adalah era pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif Ibnu ‘Āsyūr, ilmu adalah kunci kemajuan umat karena menyingkap hikmah Allah dalam alam semesta. Firman Allah menegaskan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah [58]: 11).

Muhammadiyah telah memiliki jaringan amal usaha yang luas di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Namun, tantangan abad ini bukan lagi sekadar kuantitas lembaga, melainkan kualitas dan inovasi. Pengembangan organisasi harus diarahkan pada transformasi berbasis knowledge management dan digital ecosystem.

Perguruan tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah perlu menjadi center of excellence yang melahirkan riset unggul, kolaborasi industri, serta pengembangan artificial intelligence untuk kemaslahatan umat. Sementara sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat mengintegrasikan literasi digital, ekologi, dan moral agar peserta didik tumbuh sebagai insan berilmu dan beradab.

Dengan demikian, dakwah intelektual Muhammadiyah tidak berhenti pada mimbar dan podium, tetapi menembus ruang riset, media sosial, dan dunia startup yang membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke kancah global.

Kompas Sosial: Membangun Jaring Keadilan dan Kemanusiaan

Kompas ketiga adalah arah sosial. Dakwah Muhammadiyah selalu berwajah praksis: mengubah penderitaan menjadi kekuatan sosial. Prinsip ini berpijak pada firman Allah:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 2).

Dalam tafsir Ibnu ‘Āsyūr, ayat ini adalah dasar bagi solidaritas sosial Islam—masyarakat yang berkolaborasi untuk maslahat, bukan untuk kepentingan golongan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Strategi pengembangan organisasi Muhammadiyah di bidang sosial harus menegaskan kembali fungsi amal usaha sebagai sarana dakwah pemberdayaan, bukan sekadar lembaga pelayanan. Panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga zakat Muhammadiyah (Lazismu) perlu bertransformasi menjadi pusat ketahanan sosial di era krisis iklim, kemiskinan digital, dan ketimpangan global.

Program Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) adalah contoh konkret dari dakwah sosial yang responsif dan profesional. Spirit ini perlu diperluas pada isu-isu keadilan ekologis, ketahanan pangan, dan kesehatan mental umat.

Kompas Kultural: Menyapa Dunia dengan Bahasa Lokalitas

Dalam konteks globalisasi, strategi pengembangan organisasi tidak boleh meninggalkan akar lokalitas. Ibnu ‘Āsyūr menekankan pentingnya maqāṣid asy-syarī‘ah — tujuan-tujuan syariat yang menyesuaikan dengan realitas manusia dan budaya. Artinya, dakwah Muhammadiyah harus kontekstual dan berakar di bumi Indonesia.

Muhammadiyah perlu mengembangkan narasi Islam berkemajuan dalam bingkai budaya lokal. Dakwah melalui seni, bahasa daerah, komunitas kreatif, hingga media digital lokal adalah bentuk da‘wah bil ḥikmah yang efektif. Sebagaimana firman Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Naḥl [16]: 125).

Organisasi perlu membuka ruang dialog dengan komunitas muda, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat adat. Strategi inklusif dan kolaboratif ini akan menjadikan Muhammadiyah tidak hanya sebagai gerakan Islam, tetapi juga gerakan kebudayaan yang memelihara kearifan lokal dalam semangat universal Islam.

Sinergi Empat Kompas: Menjadi Organisasi Peradaban

Ketika empat arah kompas—spiritual, intelektual, sosial, dan kultural—disinergikan, Muhammadiyah akan menemukan peta jalan menuju organisasi peradaban (civilizational organization). Bukan hanya ormas keagamaan, tetapi kekuatan moral-intelektual yang menuntun bangsa di tengah krisis nilai dan identitas.

Era kekinian menuntut Muhammadiyah memperkuat tata kelola modern berbasis good governance, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta menguatkan digital leadership agar dakwah tidak tertinggal dalam arus algoritma media sosial.

Kompas Dakwah Peradaban Semesta

Dengan kompas dakwah yang jelas, Muhammadiyah dapat terus menapaki jalan panjang peradaban Islam di Indonesia. Pengembangan organisasi bukan hanya soal struktur dan aset, melainkan tentang misi spiritual yang hidup dalam setiap kader. Sebagaimana pesan Nabi ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Maka, strategi pengembangan Muhammadiyah di era kekinian adalah menghadirkan kemanfaatan universal — dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, amal yang nyata, dan budaya yang membumi. Dari sinilah peradaban Islam berkemajuan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu