Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ancaman Media Kontemporer terhadap Etika Sosial Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Ancaman Media Kontemporer terhadap Etika Sosial Masyarakat
pwmu.co -

Oleh Haidir Fitra Siagian – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Wakil Ketua LPM PWM Sulsel

PWMU.CO – Masih dalam suasana lebaran Idul Fitri. Kemarin kami bermalam di rumah keluarga di salah satu kawasan elit di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Ketika salat subuh di masjid kompleks perumahan, saya menyaksikan sebuah peristiwa kecil namun sarat makna.

Dua pemuda tampak terburu-buru ingin keluar dari masjid. Satu orang melintas persis di hadapan saya yang sedang duduk. Sedangkan satunya lagi memilih mengambil jalur memutar dari belakang. Saya menyadari bahwa pemuda kedua ini, dengan sengaja menghindari berjalan di depan saya sebagai bentuk penghormatan.

***

Perbedaan sikap ini mungkin merupakan cermin yang kontras dalam kesadaran etika dan adab —nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi dalam ajaran Islam, budaya Timur, dan kehidupan bermasyarakat. Kita menyadari bahwa nilai-nilai luhur seperti ini semakin terkikis. Salah satu faktor penyebabnya adalah derasnya arus media massa dan digital yang nyaris tak terbendung. Tayangan hiburan yang mengedepankan kecepatan dan sensasi sering kali mengaburkan pentingnya tata krama, sopan santun, dan penghargaan terhadap ruang sosial maupun sakral.

Lebih dari itu adalah masifnya budaya instan dan karakter individualisme yang terus menggema. Media turut membentuk cara pandang generasi muda terhadap etika dan perilaku dalam kehidupan sehari-harinya.

Peristiwa kecil di masjid tadi memang tampak sepele. Namun bisa menjadi cermin zaman bahwa masih ada yang menjaga nilai, meski tak sedikit yang nilainya telah terdegradasi. Tak mengerti makna sebuah etika. Bahkan tidak menganggap etika sebagai hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Ini menjadi pengingat bagi kita semua—bahwa penguatan karakter dan ideologi bangsa harus di mulai dari hal-hal sederhana. Termasuk adab di rumah ibadah.

***

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kisah tersebut mengingatkan tentang beberapa teori komunikasi yang saya ampuh pada semester ini di kelas mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Mengingatkan pada teori Kultivasi (Cultivation Theory)-nya George Gerbner. Teori ini menjelaskan pengaruh media, terutama televisi dan media digital dalam jangka Panjang yang dapat membentuk persepsi khalayak tentang realitas sosial. Ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi tayangan yang minim atau abai atas nilai adab, etika, atau penuh dengan perilaku instan dan individualistik, mereka bisa menganggapnya sebagai hal yang normal dalam kehidupan sehari-hari.

Media massa memiliki peran strategis dalam membentuk cara berpikir dan bertindak masyarakat. Sebagai saluran utama informasi, hiburan, dan budaya populer, media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk nilai dan norma sosial melalui simbol, narasi, dan representasinya.  

Melalui berbagai platform — seperti televisi, radio, surat kabar, hingga media digital — media memiliiki kontribusi dalam mengonstruksi realitas sosial. Narasi-narasi yang di bangun media kerap di anggap mencerminkan kenyataan, padahal sesungguhnya merupakan hasil seleksi dan pembingkaian. Figur publik, bahasa, serta gaya hidup yang ditampilkan menjadi acuan utama dalam memahami dunia sosial.

Meminjam penilaian Profesor Anwar Arifin, dosen saya ketika masih kuliah di Universitas Hasanuddin tahun 1990an, ketika nilai-nilai tertentu di ulang terus-menerus, ia akan tertanam dalam kesadaran kolektif dan akan mempengaruhi perilaku masyarakat.

Media memainkan peranan ideologis. Pesan yang disampaikan tentunya membawa kepentingan, nilai, dan sudut pandang tertentu.  hal ini membuat media dapat memperkuat status quo atau justru menjadi sarana perubahan sosial. Oleh karena itu, kesadaran kritis terhadap isi media menjadi sangat penting, Tujuannya agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak menjadi konsumen pasif. Mereka harus mampu bersikap reflektif dan selektif.

***

Dalam konteks Indonesia kekinian, media turut berperan dalam menggeser nilai-nilai budaya, utamanya pada kalangan generasi muda. Hidup di era digital membuat kalangan muda tentan terpapar konten global — mulai dari musik, film, hingga media sosial. Gaya hidup modern yang dipromosikan media sering kali menekankan pada individualisme, konsumtivisme, dan kebebasan ekspresi bebas nilai. Sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang seharusnya dirawat dan diwariskan, misalnya: kesopanan, gotong royong, dan penghormatan terhadap otoritas adat dan keluarga.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu